
Sembari menunggu Alif diantarkan oleh Alex, Za menyibukkan diri dengan gawainya. Hari ini Alex kembali meminta waktu bertemu Alif dengan menjemputnya ke sekolah dan mengajaknya bermain sebentar. Za pikir tidak ada salahnya, karena mungkin Alex ingin menghabiskan waktunya bersama Alif sebelum kembali ke Bandung. Beberapa saat menunggu, sebuah mobil berhenti di depan mobilnya. Dari balik kaca jendela Za melihat seorang lelaki turun lalu memutari mobil lalu membuka pintu samping. Dan seorang anak kecil pun turun dari mobil itu.
Za sengaja tidak memperbolehkan Alex mengantar Alif sampai di rumah. Dia belum siap untuk mempertemukan Tante Sarah dengan ayah Alif itu. Sehingga mereka membuat janji bertemu di taman yang letaknya tidak jauh dari rumah.
Sebelum kaca jendela mobilnya di ketuk, Za lebih dulu membukanya lalu turun menjemput Alif.
"Makasih ya, Mbak," ucap Alex.
"Sama-sama," balas Za. "Sudah mau pulang ke Bandung?" tanyanya kemudian.
"Saya mau menetap di sini, Mbak. Alhamdulillah sudah dapat pekerjaan di sini. Besok baru mulai bekerja."
"Maksudnya? Kamu kan …" Za tak sampai melanjutkan ucapannya. Alex pewaris tunggal keluarganya. Untuk apa susah-susah mencari pekerjaan.
"Ya. Semua keputusan pasti ada konsekuensinya. Saya hanya ingin dekat dengan Alif, sekalipun harus dicoret dari kartu keluarga," sahut Alex sambil tertawa hambar.
Za pun melengkungkan bibirnya seraya menatap pria di depannya yang terhitung berani membuat keputusan. Perasaannya justru terbalik sekarang. Dia mendadak tak tega melihat Alex. Kenapa tidak sejak dulu saat Aira masih ada. Ah, berandai-andai pun tidak mungkin bisa memutar waktu dan mengembalikan semuanya.
"Lex, boleh saya bertanya sesuatu?" tanya Za dengan hati-hati. Waktunya sangat tidak tepat untuk bertanya. Namun dia pasti akan terus ditagih jawaban oleh Safira yang mendesaknya untuk menanyakan tentang Alex pada Fadhil.
"Tentu saja, Mbak."
"Maaf ya, sebelumnya. Kamu…sudah menikah atau punya pacar?"
Safira yang jatuh cinta namun sekarang Za yang malu bertanya tentang hal itu pada Alex. Apalagi lelaki di depannya itu justru tertawa.
__ADS_1
"Saya masih ingin sendiri dulu, Mbak. Saya takut jika memaksakan diri menjalin hubungan dengan wanita lain justru akan menyakitinya karena hati saya masih sepenuhnya untuk Aira."
Za menghela nafas panjang. Ucapan Alex terdengar begitu menyayat. Entah seberapa dalam lelaki itu mencintai Aira.
"OK," jawab Za lirih.
"Memangnya ada apa, Mbak?" tanya Alex kemudian.
"Eh! Nggak. Nggak ada apa-apa," jawab Za gelagapan. "Al, salim dulu sama Ayah!" ucapnya kemudian pada Alif karena ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Menuruti keinginan Safira hanya membuatnya merasa canggung dengan Alex.
"Dag, Ayah!" seru Alif sebelum Za melajukan mobilnya.
"Dag! Sampai jumpa minggu depan, ya."
Sesampainya di bengkel, Za menerobos masuk. Sekalipun melihat Fadhil masih sibuk di luar. Dia yakin suaminya akan menyusulnya ke dalam saat tahu dia datang.
"Makan dulu, Mas," ujarnya saat Fadhil baru saja menutup pintu.
"Nanti saja. Bareng anak-anak."
Za meletakkan kotak bekal di meja. Ucapan Fadhil menandakan jika sudah memesan makanan untuk semua karyawannya.
"Tadi aku ngobrol sama Alex sebentar," ujar Za kemudian.
"Tentang apa?" tanya Fadhil seraya melepas wearpacknya.
__ADS_1
"Ya tentang yang diminta Safira kemarin,"
"Lalu?"
"Dia belum bisa move on dari Aira."
"Mas bilang juga apa."
Za terdiam beberapa saat. "Dia juga akan tinggal di sini supaya dekat dengan Alif. Katanya sudah dapat pekerjaan di sini."
"Mas sudah tahu itu."
"Aku khawatir Alif akan semakin jauh dari kita," ujar Za lirih.
"Doakan saja Safira berjodoh dengan dia. Jadi kamu nggak perlu takut karena hubungan kita sama Alex akan semakin dekat."
"Terus gimana dengan Tante Sarah?"
"Mas sedang memikirkan cara untuk mengungkapkan semuanya pada Tante Sarah."
Za tak bisa membayangkan bagaimana otak Fadhil bekerja memikirkan hal-hal rumit yang seharusnya bukan menjadi urusannya. Namin tetap bisa menomorsatukan keluarga.
"Eh! Baju mas kotor, Za." Fadhil berusaha menghindar saat Za ingin memeluknya.
"Nggak papa. Ini bukti kerja keras Mas untuk saya dan orang-orang yang Mas sayangi."
__ADS_1