Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Safira Jatuh Cinta


__ADS_3

"Mas, kayaknya Safira suka sama Alex," celetuk Za saat mereka sampai di rumah.


"Memangnya kenapa?"


"Kok jawabnya gitu?"


"Lalu Mas harus jawab apa? Safira perempuan normal. Wajar kalau suka sama lawan jenisnya," sahut Fadhil dengan tenang.


"Ya… kenapa harus Alex?"


"Itu juga baru dugaanmu. Belum tentu Safira suka beneran," sahut Fadhil.


Za membuang nafas kasar. Selama ini Safira tak pernah menunjukkan sukanya pada pria mana pun. Atau mungkin saja keponakannya itu sengaja menutupi. Tapi di depannya, Safira terang-terangan memuji Alex. Bukan hanya bibirnya, sorot matanya pun tampak jelas mengagumi. Dia yakin Fadhil hanya pura-pura tidak tahu.


"Kalau ternyata Safira suka beneran gimana?" tanya Za lagi seraya mendekati Fadhil yang kini duduk di sofa.


"Kalau sama-sama suka ya tinggal nikahin aja. Selesai," sahut Fadhil dengan enteng.


"Kok gitu?"


"Ya harus gimana? Jangan mempersulit orang, Za. Kamu nggak ingat bagaimana hubungan Alex sama Aira yang tidak disetujui oleh orang tua Alex? Justru masalahnya kalau ternyata Safira tidak mendapat balasan dari Alex. Mas yakin Alex tidak bisa secepat ini bisa melupakan Aira."


Za terdiam beberapa saat. Hubungan Alex dan Aira bahkan tidak pernah berakhir. Namun harus terpisah dengan begitu menyakitkan meninggalkan buah hati mereka.


"Biarkan semuanya mengalir sesuai yang sudah digariskan. Kamu tidak perlu pusing ikut memikirkan semua ini," tutur Fadhil.


"Ya tapi kan kasihan kalau Safira sampai suka beneran sama Alex."


"Jadi maumu gimana? Tadi khawatir kalau sampai Safira suka sama Alex dan mereka sampai jadian. Sekarang kasihan kalau Safira suka beneran dan bertepuk sebelah tangan."


Za juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri. Andai saja Alex tidak pernah membuat Aira sampai harus meregang nyawa, dia pasti akan sangat mendukung Safira. Nyaris tidak ada cela dalam diri laki-laki itu. Mungkin benar kata Fadhil, biarkan saja semua berjalan seperti kehendakNya.

__ADS_1


Dia pun beranjak dari sofa untuk berganti pakaian. Semakin besar perutnya banyak baju yang terasa tidak nyaman. Hanya daster longgarlah pakaian paling nyaman untuknya.


"Nanti Al pulang sama Safira beneran kan, Mas?" tanya Za seolah memastikan jika Alex tidak akan membawa kabur Alif.


"Iya, Sayang. Kamu nggak percaya banget kayaknya."


"Emang," jawab Za dengan jujur. "Tapi lebih ke kesepian aja nggak ada dia. Nggak ada yang merengek minta ini itu," sambungnya.


"Oh, itu masalahnya?" Fadhil beranjak mendekati Za dan menggendong istrinya lalu membawa masuk ke dalam kamar.


"Mas! Turunin!"


Fadhil menurunkan Za di atas ranjang. Lalu menutup pintu kamar.


"Gantian Mas yang minta ini itu," ucapnya seraya melepas penutup tubuhnya.


Za berdecak. Menolak suami takut kualat. Lagi pula dia sudah membiarkan suaminya puasa cukup lama. Apalagi siang itu hanya mereka berdua di dalam rumah. Setelah sekian lamanya rumah selalu ramai.


"Lapar, Mas," rengek Za setelah mereka selesai membersihkan diri.


"Mau makan apa?" tanya Fadhil karena saat di kafe tadi Za menolak untuk makan.


"Bikin geprek apa gitu? Ayam atau tempe juga boleh lah."


"Baiklah. Tunggu sebentar, ya."


Fadhil pergi ke dapur untuk memasak. Untung saja masih ada sisa marinasi ayam pagi tadi beberapa potong. Dia menbalurnya dengan tepung lalu menggorengnya. Menu yang hampir setiap hari dibuatnya karena Alif sangat menyukai ayam goreng.


"Ayam goreng Dapur Papa sudah siap!" ucapnya berseloroh saat ayam yang digorengnya sudah diangkat.


"Sambalnya mana?" tanya Za yang menunggu di meja makan.

__ADS_1


"Nih!" Sebotol sambal pun diletakkan di meja makan.


"Sambal pakai cabe seger, Mas. Bukan ini."


"Ok. Cabenya satu atau dua?"


"Yang banyak. Pakai tomat juga terus diguyur minyak panas."


Fadhil menggeleng kepala heran. "Kamu kalau makan nggak pedas nggak bisa, ya?"


Dia pun beranjak membuatkan sambal untuk istrinya. Sambal itu dulu dia yang merekomendasikan. Namun justru membuat ketagihan.


Sesaat kemudian, terdengar bunyi langkah kaki berlarian menghampiri meja makan. Al pulang diikuti Safira di belakangnya.


"Sudah mainnya?" tanya Za.


"Sudah," sahut Al lalu menggelendot pada Za.


"Wah mantap sekali sambalnya!" Safira mengomentari sambal yang sedang dibuat oleh Fadhil. "Nih ayamnya sudah ada!" sambungnya sambil meletakkan seember ayam goreng.


"Banyak banget kamu belinya, Fir. Ini juga sudah ada," ujar Za.


"Alex yang beli. Tadi Al minta makan sama ayam. Pas tahu Al makannya lahap dibelikan satu ember sama dia," balas Safira.


"Tapi ngomong-ngomong Alex siapa sih, Om? Kok bisa Al dekat banget sama dia sampai manggil ayah."


Fadhil dan Za terdiam seketika.


"Teman," sahut Fadhil asal.


"Pantesan Om Fadhil awet muda. Temannya bocil-bocil. Sayang kata Mami dia udah punya anak. Kalau belum, boleh dong Om bantu deketin," gurau Safira. "Jadi pelakor dosa nggak sih, Om?" imbuhnya lalu dia terbahak.

__ADS_1


__ADS_2