
Za mencium punggung tangan Fadhil setelah selesai sholat. Ini bukan kali pertama mereka sholat berjamaah. Sebelumnya saat di rumah Fatma, Fadhil pernah menjadi imam sholatnya dan Fatma. Sehingga Za tahu bagaimana Fadhil membaca hafalan surat dengan tartil yang membuatnya terkesima. Jauh dari yang Za bayangkan dan justru hal itu membuat Za semakin ingin menjauh dari Fadhil yang menurutnya terlalu istimewa.
"Dek?"
Za terkesiap. Dia melihat Fadhil sudah mengganti bajunya dengan kaos dan celana pendek. Benar-benar jauh dari usianya melihat Fadhil saat ini. Entah apa resep keluarga Fadhil hingga turun temurun terlihat tak bisa menua. Dan semua kerabat Fadhil yang datang tadi penampilannya good looking.
Dia melipat mukena lalu menggantungnya di dalam lemari. Sumpah! Za mati gaya harus berdua dengan Fadhil di dalam kamar itu. Sengaja Za berlama-lama di depan lemari. Mencari baju ganti untuk mengganti dress panjangnya. Sebuah daster diambilnya dari dalam lemari. Lalu Za berniat mengganti baju di kamar mandi. Susahnya kalau tidak ada kamar mandi di dalam.
"Dek!" Panggilan Fadhil membuat Za menahan langkahnya.
"Mau ke mana?"
"M-mau ganti baju!" sahut Za gugup.
"Memangnya kenapa kalau ganti di sini?"
Pertanyaan yang tidak perlu dijawab. Tentu saja karena malu. Fadhil hanya sedang menggodanya saja. Karena pria itu segera membalikkan badan menghadap ke tembok dan menyuruh Za mengganti bajunya.
Sial! Za kesulitan membuka zipper dress yang ada di bagian punggung. Jika dipaksakan pasti akan koyak.
"Sudah belum?" tanya Fadhil tanpa menoleh.
"Susah!" sahut Za kesal sendiri.
"Mau dibantu?"
Tanpa menunggu jawaban Fadhil mendekat membantu menarik zipper gaun putih itu hingga ke bawah.
"MasyaAllah. Lebih indah dari yang saya bayangkan," gumam Fadhil melihat kulit punggung Za celah baju.
Za memicing dan seketika membalik badan mendengar gumaman Fadhil. Jangan-jangan selama ini Za dijadikan fantasinya.
"Balik lagi, Mas! Aku mau ganti."
"Sudah terlanjur lihat," sahut Fadhil dengan santai. Tidak ingin menyiksa Za karena masih berdiam diri sambil memegangi bagian atas gaunnya, Fadhil keluar dari dalam kamar.
__ADS_1
Za menyatukan dressnya dengan kemeja dan celana Fadhil di keranjang baju kotor. Lalu kembali menghempaskan diri ke atas ranjang yang penuh taburan bunga. Entah untuk apa fungsinya. Karena kamar itu sudah dipasang pengharum ruangan.
Pintu kamar kembali terbuka. Fadhil datang membawa nampan berisi sepiring nasi dan gelas minum.
"Makan dulu, ya," ujarnya.
Za sampai lupa jika sejak pagi hanya makan sepotong roti dan minum susu yang dibuatkan ibunya. Dia pun menggeser tubuhnya untuk memberi tempat Fadhil duduk.
"Bangun dong, Sayang. Masak makan sambil tiduran,"
Sayang? Entahlah wajah Za sudah semerah apa saat ini.
Dia menegakkan punggungnya dan meminta sendok satu-satunya yang dipegang oleh Fadhil. Namun Fadhil justru menyuapkan makanan alih-alih memberikan sendok itu. Za refleks membuka mulutnya. Setelahnya Fadhil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Mas, itu kan sendok bekas aku?" ujar Za setelah makanannya tertelan. Fadhil hanya menipiskan bibirnya karena mulutnya penuh makanan.
"Memangnya kenapa? Kita bukan orang lain lagi," sahut Fadhil setelah menelan makanan dalam mulutnya.
Za pun tak menyahut. Dia kembali membuka mulut saat Fadhil menyuapkan makanan. Hingga isi piring habis berpindah ke perut mereka berdua. Fadhil pun meletakkan nampan di meja. Kemudian kembali mendekati istrinya.
Za tertegun. Akhirnya hari itu akan tiba. Di mana dia menikah dan harus tinggal bersama suaminya. Meninggalkan orang tuanya dan rumah yang terlalu banyak kenangan selama 25 tahun hidupnya. Hal paling berat yang saat ini harus dia tinggalkan. Orang tuanya pasti akan kesepian. Tinggal berdua saja tanpa celotehan Za.
"Lalu Ayah sama Ibu bagaimana?" tanya Za lirih. Wajahnya jelas tidak bisa menyembunyikan isi hatinya.
Fadhil menyungging senyum seraya mengusap surai hitam kelam milik Za.
"Saya sudah bicara dengan ayah dan Ibu. Mereka mengizinkan.
Bukan itu yang dimaksud Za. Karena suka atau tidak, Za sekarang memang harus patuh pada suami. Sejak ikrar ijab qabul itu terucap. Tentu saja orang tuanya akan mengizinkan ke mana pun Fadhil membawa Za. Tetapi mereka tentu akan sedih, mungkin lebih sedih dari yang dirasakan Za.
"Tapi saya masih boleh berkunjung ke rumah ini, kan?"
"Tentu saja boleh. Sesekali kita pun akan menginap di sini. Biar Ayah dan Ibu tidak merasa benar-benar kesepian."
Za mengangguk lega. "Terima kasih," ucapnya.
__ADS_1
"Kok terima kasih?"
"Terima kasih atas pengertiannya," sahut Za.
Fadhil tersenyum kecut. "Dek, kita sekarang sudah menjadi suami istri. Berhenti bersikap seolah-olah kita ini orang lain."
Za kembali mengangguk. "Saya akan berusaha," jawabnya.
Fadhil membuang nafas pelan. Membuat nyaman Za menjadi pekerjaan yang belum selesai. Za masih terlalu kaku berhadapan dengan dirinya.
"Oh ya, di sana nanti kita tidak hanya tinggal berdua. Ada Safira yang akan tinggal bersama kita. Kamu tidak keberatan, kan?"
"Hmm. Tidak masalah."
Za hampir lupa jika keponakan Fadhil tadi tidak terlihat saat acara pernikahan mereka. Namun dia pun enggan untuk menanyakan hal itu. Mungkin lain waktu saja.
"Saya mengemban tanggung jawab atas diri Safira. Sampai dia menikah nantinya. Saya harap Dek Za mengerti dan mendukung saya," ujar Fadhil kemudian.
Tentu saja Za mengerti. Sejak ayah Safira meninggal, yang bertanggung jawab untuk menafkahi Safira adalah Fadhil sebagai pamannya. Bahkan jika menikah nanti pun Fadhil yang akan menjadi wali nikah untuk Safira.
"Terima kasih, istriku," ucap Fadhil seraya melingkarkan lengan memeluk Za. Sebuah kecupan di dahi yang cukup lama dia berikan untuk istrinya itu. Za manut-manut saja. Apa pun perasaannya saat ini, dia sudah menjadi istri Fadhil.
"Tidur, yuk!"
Bisikan Fadhil membuat bulu kuduk Za meremang, dan jantung berdetak lebih cepat. Semoga saja tidur yang dimaksud Fadhil bermakna harfiah. Za sudah menahan kantuknya lebih lama.
Fadhil benar-benar merebahkan diri di sampingnya. Hal itu membuat Za sedikit lega. Karena jauh dari lubuk hatinya, dia masih begitu gugup harus satu ranjang dengan Fadhil. Apalagi jika suaminya itu minta macam-macam.
Za pun meraih guling kemudian memeluknya. Mencoba memejamkan mata yang dia rasa akan sulit. Meski dia sudah memunggungi suaminya. Karena sebuah lengan mendadak melingkari pinggangnya. Semakin sulit dia memejamkan mata.
Bahkan mungkin degupan jantungnya yang begitu kencang terasa oleh Fadhil.
"Kamu gugup, Dek?" pertanyaan itu menjadi bukti jika Fadhil mengetahui perasaan Za saat ini.
"Tidurlah. Saya hanya ingin memelukmu." Ungkapan itu nyatanya tetap tidak mampu membuat Za merasa tenang.
__ADS_1