Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Bayi Siapa?


__ADS_3

Suara tangisan bayi membuat Za yang sedang terlelap siang itu mendadak terbangun. Za menajamkan pendengarannya. Suara yang berasal dari dalam rumah itu.


"Aruma!" gumamnya sambil menyibak selimut.


Suara tangisan itu semakin jelas saat dia membuka pintu kamar. Tetapi bukan suara tangisan Aruma. Karena dia sudah hafal suara anak Fatma itu ketika menangis.


Za tergesa-gesa menuruni tangga. Dia melihat Fadhil yang datang membawa menggendong bayi. Dahinya pun mengkerut. Dua hari lalu Fadhil pamit ke Bandung lagi untuk mengurus barang-barang Aira yang masih tertinggal di sana bersama kakak ipar Aira. Tetapi siang ini Fadhil pulang membawa seorang bayi.


"Mas, kok bawa bayi? Bayi siapa?"


Tangis bayi itu belum juga reda. Meski Fadhil berusaha menenangkannya.


"Coba sini aku yang gendong!"


Za menghampiri Fadhil kemudian mengambil bayi dalam gendongan Fadhil. Masih begitu merah, usianya mungkin baru beberapa hari. Za mengamati wajah bayi itu, hidungnya tinggi, bibirnya merah, kulitnya bersih. Sangat tampan, sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan rupa bayi itu.


Za melepas selimut yang membungkus manusia kecil itu. "Ini yang bikin dia nggak nyaman. Gerah!" ujarnya sembari melempar selimut itu ke sofa.


Namun bayi itu tak juga diam. Dia masih menangis dan justru semakin kencang. Za menempelkan jarinya. Sekejap kemudian bibir sang bayi bergerak-gerak.


"Haus ini, Mas. Ibunya di mana? Minta susu dia," tanya Za lagi.


"Ibunya nggak ada. Minumnya pakai botol," sahut Fadhil.


Za kembali mengernyit. "Nggak ada? Ini anaknya siapa? Mas dapat dia dari mana?" tanya Za lagi sambil mengekor Fadhil yang pergi ke dapur membawa sebuah tas kecil.


Fadhil mengeluarkan isi tas yang ternyata isinya susu bayi dan juga beberapa botol yang sudah kosong. Dia mencuci botol itu sebelum membuatkan susu yang baru untuk bayi yang sedang digendong Za.


Beberapa saat setelah berhasil menghisap dot, bayi itu begitu tampak tenang.


"Duduk sini, Dek!" Fadhil membimbing Za untuk duduk di sofa. Za yang semakin tidak mengerti dengan sikap Fadhil menurut meski dia dalam kebingungan.

__ADS_1


"Mas mau rawat dia kalau kamu setuju," ucap Fadhil kembali membuat Za terkejut.


"I-ini anak siapa?" tanya Za.


"Ini…anak Aira."


"Hah?!" Bola mata Za nyaris loncat mendengar jawaban Fadhil.


Za memang tahu anak jika Tante Sarah mempunyai dua anak perempuan. Yang satu sudah menikah dan tinggal di Bali.


Terdengar hembusan nafas kasar dari Fadhil. Za sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Berita meninggalnya Aira karena asam lambung. Tetapi tiba-tiba Fadhil membawa bayi yang dikatakan anak Aira. Bahkan bayi itu usianya mungkin belum genap satu minggu.


Beberapa kali Za mengamati bayi itu. Kemudian berpindah pada wajah Fadhil. Mencari kesamaan yang mungkin menempel pada wajah dua laki-laki beda usia itu dengan penuh curiga. Hanya satu yang sama, hidung mereka yang sama-sama tinggi. Ya, semua keluarga Fadhil memang memiliki hidung yang mancung. Entahlah mungkin benar moyang mereka dulunya berasal dari Timur Tengah. Konon kabarnya seperti itu.


"Kok bisa anak Aira? Kapan menikahnya? Kapan hamilnya?" tanya Za sedikit tak percaya.


Fadhil kembali membuang nafas kasar. "Aira….bukan meninggal karena asam lambung. Dia meninggal setelah melahirkan di kamar kost sendiri karena pendarahan yang tidak tertolong."


"Hal ini yang membuat Tante Sarah terguncang. Tidak ada keluarga yang tahu tentang. Hanya Mas dan keluarga Tante Sarah. Mas berusaha menjaga aib ini tidak tersebar ke mana-mana. Tapi kalau harus meninggalkan bayi ini di rumah sakit dan pada akhirnya akan diserahkan ke panti asuhan, Mas nggak tega. Sementara Tante Sarah pasti nggak sanggup merawat bayi ini. Zara juga masih punya dua balita. Kehadiran bayi ini juga pasti tidak dikehendakinya. Kemungkinan Tante Sarah juga akan dibawa ke Bali sama Zara," jelas Fadhil lagi.


Za masih terdiam. Sesekali tangannya mengusap bayi dalam gendongannya yang kini mulai terlelap setelah isi botolnya kosong. Diciumnya bayi itu beberapa saat.


"Boleh 'kan Mas rawat dia?"


Semua penawaran yang tidak bisa dibantah oleh Za. Karena rupa bayi itu telah memikat hatinya saat pertama melihatnya.


"Tapi apa di kemudian hari tidak akan ada masalah. Bayi ini 'kan pasti ada ayahnya?" jawab Za.


"Tidak ada yang tahu siapa teman laki-laki Aira di sana. Aira itu gadis pendiam dan tertutup. Dia tidak pernah mengenalkan teman laki-laki pada Tante Sarah atau keluarga lainnya. Semua hanya tahu Aira itu hanya fokus belajar."


Miris memang, namun kenyataan itulah yang terjadi. Di mana orang tua tidak bisa mengawasi pergaulan anaknya.

__ADS_1


"Mas hanya ingin merawat dia kalau kamu setuju. Jika di kemudian hari dia ditakdirkan untuk bertemu ayahnya dan mau diambil, tidak masalah. Berarti tugas kita selesai sampai waktu itu."


"Ya nggak bisa dong, Mas. Dianya saja nggak bertanggung jawab sampai Aira meninggal. Datang-datang mau ambil anaknya," bantah Za.


"Jadi kamu setuju kita rawat dia?"


Za mengangguk. "Ya."


"Semoga ini salah satu cara Tuhan menguji kita. Sudah pantaskah kita untuk menjadi orang tua. Sehingga suatu saat nanti kita akan benar-benar dititipi anak dari darah daging kita," lanjut Za penuh harap.


Fadhil mengaminkan doa Za. Meski dia sudah tidak pernah mengungkit lagi masalah anak di depan Za. namun harapannya masih sama besar seperti istrinya.


"Tapi aku mau statusnya dilegalkan," ujar Za lagi.


"Iya. Nanti kita urus surat adopsinya," sahut Fadhil.


Meski bukan lahir dari dalam rahimnya, Za tampak begitu bahagia mendapatkan seorang anak. Berkali-kali diciumnya bayi yang sedang terlelap itu.


"Udah dikasih nama, Mas?"


"Alif."


"Alif?" Za mengangguk-anggukan kepala. "Bagus juga," lanjutnya.


Mereka pun membawa bayi itu ke kamar. Agar bayi Alif bisa tidur dengan nyaman di atas ranjang.


Semua serba mendadak, sehingga Fadhil memikirkan dengan cepat menyiapkan kebutuhan bayi baru mereka. Mulai dari baju hingga kamar untuk Alif.


"Belanja bajunya nunggu Mbak Min datang ya, Mas. Nanti kita titipin dia dulu," ujar Za karena tidak ada satu pun baju ganti untuk Alif. Bahkan baju dan selimut yang dipakainya berasal dari rumah sakit.


"Iya. Bikin list dulu apa yang mau dibeli biar nggak bolak-balik," sahut Fadhil melihat Za terus saja memeluk Alif seolah enggan meninggalkannya.

__ADS_1


__ADS_2