Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Ancaman


__ADS_3

Za pergi ke depan dengan perasaan cemas. Tamu wanita yang disebut Mbak Min tentu saja membuatnya penasaran. Apalagi tujuannya untuk mencari suaminya.


Dia pun membuang nafas kasar. Mungkin terlalu banyak menonton drama sehingga membuat pikirannya tercemari.


Sosok wanita yang disebut Mbak Min tengah duduk di ruang tamu. Tampak anggun dengan dress selutut dan rambut digelung. Dari penampilannya tentu saja menunjukkan jika wanita itu seorang yang berada. Semua yang melekat padanya begitu luwes dikenakan dan tampak berkelas.


Za bernafas lega. Pikiran buruknya terbantahkan oleh garis wajah wanita itu wanita yang jika Za tebak usianya tentu sudah lebih dari setengah abad.


Za memperkenalkan diri sebagai istri Fadhil seraya menyalami wanita itu.


"Maaf, Ibu ini siapa? Dan ada perlu apa mencari suami saya?"


"Saya adalah oma dari anak yang diambil oleh Pak Amar Fadhil."


Pengakuan wanita itu membuat Za tersentak. Za meneliti wajah wanita itu. Pantas jika Alif begitu rupawan. Rupanya karena gen dari ibu dan ayah biologisnya.


"Apakah saya bisa bertemu dengan Pak Amar?"


Detak jantung Za mulai tak beraturan. Ketakutan demi ketakutan menyergapnya.


"Suami saya sedang tidak di rumah. Tetapi kalau Anda ingin bertemu, saya akan meneleponnya untuk pulang," sahut Za.


Lalu dia pun kembali masuk ke dalam. Dia tidak tahu harus berbuat apa selain meminta Fadhil untuk pulang saat itu juga. Za benar-benar panik. Kedatangan wanita itu tentu tidak lain berkaitan dengan Alif. Apalagi Za melihat sebuah di luar pagar, siluet seorang laki-laki dia tangkap berada di dalam mobil itu.


"Mbak, bawa Alif ke kamar atas. Jangan turun sebelum Mas Fadhil pulang," ujar Za pada Mbak Min dengan panik.

__ADS_1


"Memangnya ada apa Mbak?"


"Sudah bawa saja, Mbak. Ke kamar saya. Kunci pintunya."


Mbak Min yang mendadak ikut panik pun membawa Alif ke kamar atas. Sementara Za menghubungi Fadhil yang mungkin saja belum sampai di bengkel.


"Hallo, Mas! Pulang sekarang!" ujarnya tanpa basa-basi.


"Pulang? Ada apa? Kok kamu panik begitu?"


"Pokoknya pulang sekarang. Ada tamu mau ketemu kamu. Penting."


Za menutup panggilannya setelah Fadhil mengiyakan.


Tak lebih dari sepuluh menit, mobil Fadhil sudah masuk ke halaman. Entah sampai di mana tadi saat Za menelepon sehingga secepat itu dia kembali ke rumah.


"Maaf, sudah mengganggu waktu Anda, Pak Fadhil. Saya Hera, oma dari bayi yang Anda ambil di rumah sakit beberapa bulan lalu."


Fadhil sama terkejutnya dengan Za. Setelah beberapa bulan berlalu akhirnya muncul juga orang yang selama ini dicarinya. Namun sayang, bukan laki-laki yang membuat adik sepupunya menderita bahkan harus kehilangan nyawa.


"Ada perlu apa Anda ingin bertemu dengan saya?" tanya Fadhil mencoba menahan diri.


"Saya turut berbela sungkawa atas meninggalnya Aira. Saya prihatin mendengar kabar itu. Kedatangan saya ke sini tidak lain untuk mengambil kembali cucu saya. Bagaimanapun juga ada darah keluarga kami yang mengalir dalam diri bayi itu. Tentu kami ingin merawat dan membesarkannya," ucap wanita itu tanpa rasa penyesalan. Bahkan sedikit berempati pun tidak terlihat di wajah wanita itu. Kesan yang tampak tampak justru keangkuhan.


"Setelah anak Anda tidak bertanggung jawab membiarkan adik saya menanggung semuanya sendirian, bahkan sampai harus meregang nyawa, Anda pikir bisa semudah itu mengambil anak itu dari kami?" sahut Fadhil dengan sinis.

__ADS_1


"Siapa pun tentu tidak menghendaki hal ini terjadi. Tolong Anda berbesar hati mengembalikan cucu saya. Karena jika tidak, saya akan menempuh jalan apa pun untuk mendapatkan cucu saya."


"Maaf, saya tidak bisa memenuhi permintaan Anda. Anak itu lahir di luar ikatan pernikahan. Jadi hak perwalian sepenuhnya ada pada keluarga ibunya. Dan kami sudah mengambil alih secara sah dari keluarga ibunya. Lagi pula seharusnya Anda berpikir dua kali untuk datang ke sini dan bermaksud mengambil anak itu. Jangan mempermalukan diri Anda sendiri, Nyonya."


Wanita itu tersenyum tipis. "Baiklah, Pak Fadhil. Saya datang kemari bermaksud mengambil cucu saya dengan baik-baik. Tapi sepertinya Anda memaksa saya untuk menempuh jalan lain. Saya tidak akan berhenti sampai di sini. Pengacara saya akan mengurusnya sampai anak itu jatuh ke tangan saya," ujarnya mengintimidasi.


"Silakan saja. Saya pun akan mempertahankan anak itu agar jangan sampai jatuh ke tangan orang yang tidak menginginkan ibunya," balas Fadhil yang dibalas dengan senyum sinis.


Diary yang Fadhil temukan di kamar kost Aira mengungkap semuanya. Termasuk hubungan dengan kekasihnya yang mendapat pertentangan dari orang tua sang pria. Juga pesan dan permintaan maaf Aira kepada mamanya. Namun Fadhil memilih menyimpan sendiri rahasia hidup Aira. Dia tidak ingin membuat Tante Sarah semakin terluka.


Meski kedatangannya bermaksud tidak baik, Fadhil mengantar wanita itu sampai di depan pintu. Dan membiarkan wanita itu menghampiri mobilnya. Dia tidak datang sendirian. Karena ada sopir di dalam mobil itu.


Fadhil menutup pintu rumah dan mengajak Za masuk alih-alih kembali ke bengkel.


"Mas aku nggak mau kalau Alif diambil," ungkap Za dengan penuh rasa khawatir.


"Tidak ada yang akan bisa mengambil Alif dari kita."


"Tapi kalau mereka menyewa pengacara yang hebat bagaimana? Aku yakin mereka bukan orang biasa. Mereka bisa melakukan segala cara untuk mengambil Alif."


"Iya, Mas tahu. Kamu nggak usah khawatir."


"Tapi aku takut. Aku nggak bisa kalau harus kehilangan Alif."


Fadhil mengusap bahu Za. "Alif akan tetap ada bersama kita. Mulai sekarang jadilah istri yang patuh. Jangan membantah Mas satu hal pun."

__ADS_1


Za mengangguk patuh. Entah apa maksud ucapan Fadhil. Kurang patuh apa dia selama ini pada suaminya?


__ADS_2