
"Pulang! Sudah sore!"
Tidak keras namun tegas. Dibarengi dengan ekspresi wajah datar membuat Za yang sejak tadi tak berhenti tertawa lepas mendadak ciut.
"Sini Alifnya, Mas." Za mengambil Alif dari gendongan Ghani.
"Dag! Besok main lagi ya, Al!" ujar Ghani saat Za membawa Al pergi mengikuti Fadhil yang lebih dulu menuju ke tempat parkir motor.
Za naik ke jok belakang. Padahal jarak ke rumah tak lebih dari dua ratus meter. Namun kaki Fadhil sepertinya sedang manja hingga enggan berjalan kaki. Tak lebih dari satu menit.
Sampai di rumah, Fadhil masih saja diam. Mengabaikan Za dengan masuk ke dalam kamar.
"Sini biar Ibu yang mandikan Al. Airmya sudah siap dari tadi," ujar Ibu Za.
Mungkin Za yang lupa waktu menjadi penyebab Fadhil bersikap seperti tadi. Dia pun menyusul Fadhil ke dalam kamar. Mengambil baju ganti Al dari dalam lemari. Baju anaknya itu memang sengaja ditinggal karena mereka rutin menginap seminggu sekali.
"Mas!" Za menegur Fadhil yang sedang duduk di atas ranjang. Mode ngambek, di mana saja selalu sama. Diam dengan wajah dilipat.
"Marah?" tanya Za kemudian.
Fadhil meletakkan gawainya. "Kamu bisa nggak jaga jarak sama Ghani?"
Za mengerutkan dahi. Fadhil cemburu? Bukan sekali ini Fadhil melihat Za bercanda dengan Ghani. Dan suaminya itu tidak pernah protes.
__ADS_1
"Kenapa memangnya? Mas kan tahu aku suka bercanda sama Mas Ghani?"
"Mulai sekarang nggak usah!"
"Ya nggak bisa dong, Mas. Masa aku harus tiba-tiba diam kalau ketemu dia? Kamu aneh. Cemburu sama Mas Ghani? Dia itu sudah seperti kakakku sendiri, Mas."
"Saya laki-laki, Za. Saya tahu bagaimana kaumku jika menyukai wanita."
Za membuang nafas kasar. "Nggak mungkin lah, Mas. Selera Mas Ghani itu tinggi. Makanya dia sampai sekarang masih jomblo," bantah Za. "Udah deh, jangan cari perkara sama saudara sendiri. Lagian aku juga nggak ngapa-ngapain sama dia. Dulu kamu cemburu sama Mas Bian, sekarang sama Mas Ghani. Padahal aku sama mereka nggak ada apa-apa. Lah kamu sendiri yang nyata pacaran sama Lany sampai ciuman panasnya terkenang sepanjang masa aku nggak boleh cemburu," berondongnya.
"Kok jadi bawa-bawa Lany?"
"Tetap akan kubawa nama dia kalau kamu marah nggak jelas begini. Menuduh tanpa bukti!"
"Aku bicara kenyataan. Ghani suka sama kamu. Mungkin kamu yang nggak sadar itu."
"Kalian berantem?" tanya ibunya saat Za memberikan baju ganti untuk Alif. Mungkin suaranya cukup kencang sampai terdengar di luar kamar.
"Mas Fadhil cemburu sama Mas Ghani," sahut Za kesal.
Bu Rahma justru tertawa pelan. "Kalau begitu kamu harus menjaga sikapmu sama Ghani."
"Bu, Za nggak ngapa-ngapain sama Mas Ghani. Aneh kan kalau tiba-tiba Za harus diam saja kalau ketemu dia," sahut za masih terus membela diri.
__ADS_1
"Bukan masalah ada apa atau tidak ada apa-apa, Za. Tapi kamu harus menghargai perasaan suamimu. Menyapa secukupnya. Bicara seperlunya saja. Kamu kalau sama Ghani kan suka kelepasan."
"Tau ah. Capek, mau mandi dulu."
Za beranjak dari sofa. Dia masuk kembali ke dalam kamar untuk mengambil handuk. Mendadak malam ini dia memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya.
"Aku mau menginap. Terserah kalau Mas mau pulang," ujar Za sebelum dia keluar kamar.
Bahkan setelah mandi dia pun menyisir rambut di kamar ibunya. Karena Alif pun berada di dalam kamar itu. Setiap kali berkunjung, memang menjadi giliran orang tuanya tidur dengan Alif. Meski tidak ada darah mereka yang mengali dalam tubuh bayi itu namun kasih sayangnya sama seperti cucu kandung.
"Belum mau pulang kan, Za?"
"Za mau tidur sini, Bu. Capek," sahut Za sambil merebahkan tubuhnya.
"Jangan tidur di sini. Ke kamarmu sana. Suamimu sedang butuh kamu, Za. Kalau dia cemburu, marah, kamu jangan menjauh. Apalagi meninggikan suara seperti tadi. Dipeluk, diberi pengertian. Dia sedang butuh perhatian kamu,"
"Memang Za kurang perhatian dari mana, Bu. Setiap hari Za selalu memperhatikan dia," sahut Za masih dengan perasaan kesal.
"Mungkin tanpa kamu sadari. Apalagi kan sekarang sudah ada Alif. Perhatianmu harus terbagi."
"Ya wajar lah. Namanya juga sudah ada anak." Za masih saja dalam pemikirannya. Jika Fadhil berpikiran terlalu pendek.
"Sudah sana temui suamimu. Al biar di sini sama Ibu."
__ADS_1
Dengan malas Za turun dari ranjang setelah ibunya menyuruhnya berulang-ulang. Ditemuinya Fadhil di dalam kamar. Suaminya itu baru saja melipat sajadah setelah sholat maghrib. Namun melihat Za masuk ke kamar, digelarnya lagi sajadah itu. Tanpa bertanya pun Za tahu jika Fadhĺl melakukan itu untuknya. Dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Setelah tunai kewajibannya, Za membereskan mukena dan sajadah lalu memasukkan kembali ke dalam lemari. Mati gaya melihat Fadhil masih diam saja. Sok cool! Batinnya.