Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Rencana Konyol


__ADS_3

Setelah empat hari dirawat di rumah sakit, Za diperbolehkan pulang. Tidak hanya ayah dan ibunya yang menjemput, tetapi Fadhil juga mengantar Za pulang ke rumah. Pria itu memang tidak pernah absen menjenguk Za selama dirawat. Sekalipun hanya sejam dua jam ikut menunggu Za.


"Terima kasih, Nak Fadhil," ucap ayah Za saat Fadhil berpamitan usai mengantar Za pulang.


Za sedikit lega karena Fadhil tidak singgah lama. Hanya menurunkan barang bawaan yang tidak seberapa banyak, lalu membawa masuk. Setelahnya dia pamit pulang.


"Yah, tadi yang bayar biaya rumah sakit siapa? Mas Fadhil?" tanya Za ingin tahu.


"Kenapa memangnya?"


"Kalau Mas Fadhil yang bayar, Ayah harus balikin. Mas Fadhil itu orangnya nggak tulus. Kemarin dia bantu Za benerin motor saja minta imbalannya Za harus mau nikah sama dia. Kalau dia bayar biaya rumah sakit, nanti imbalannya bakal lebih nggak masuk akal lagi, Yah."


Za seketika menyesal karena telah keceplosan. Dia memang belum mengungkapkan tentang pemaksaan Fadhil untuk menikahinya pada ayah ataupun ibunya.


Dan ayahnya pun hanya menggeleng sambil tersenyum mendengar penuturan Za. "Mau lari sejauh apa pun, yang namanya jodoh pasti akan tetap ketemu, Za," kata ayah Za.


Za tak menyahut. Dia meninggalkan ayahnya begitu saja lalu masuk ke dalam kamar. .


Menatap kalender bergambar instansi sekolahnya, Za menghitung angka di bulan ini. Sebelas hari dikurang empat hari Za dirawat di rumah sakit. Tujuh hari lagi Fadhil akan datang. Bukan untuk melamar, tetapi langsung menikahinya. Karena tidak perlu melamar dua kali. Fadhil sudah otomatis mengantongi restu dari kedua orang tua Za. Dan Za semakin pusing dibuatnya.


Za mulai memikirkan cara, setidaknya untuk menunda jika memang tidak bisa menolak. Menunda entah untuk apa. Karena jika menunggu siap, mungkin selamanya Za tidak akan pernah bisa berkata siap jika harus berjodoh dengan Fadhil.


Za kembali mengambil kerudungnya lalu mengenakan penutup kepala itu. Dia beranjak dari ranjang. Merapikan kerudung itu di depan cermin sebelum keluar dari kamar. Meski tubuhnya belum pulih benar, namun dia harus segera menjalankan ide yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Dia tidak ingin membuang waktunya yang memang tidak banyak.


Sampai di depan rumah Alya, sebuah kebetulan Za mendapati Ghani tengah memberi makan burung piaraan ayahnya.


"Mas!" panggil Za dari luar pagar.


Ghani sepertinya terlalu fokus melatih burung kicauan itu. Sampai suara Za yang memang pelan tidak terdengar olehnya.


"Mas Ghani! Sssst!"


Ghani menoleh. "Eh, Za! Latanya kamu lagi sakit?"


"Udah pulang barusan."


"Baru pulang udah keluyuran kamu," balas Ghani. "Sorry, ya. Belum sempat jenguk kamunya udah pulang."


Za mencebik. Lalu masuk ke dalam pagar meski Ghani tidak mempersilakannya masuk.

__ADS_1


"Tumben. Ada apa, Za?"


"Aku ada perlu sama Mas Ghani."


Ghani meletakkan pakan burung di tangannya ke lantai. Suara Za terdengar sangat serius. Karena biasanya dia hanya menemui Za yang cengengesan.


"Ada apa?" tanya Ghani seraya duduk di kursi teras bersisian dengan Za.


Za tampak berpikir keras. Rasanya berat untuk mengungkapkan iso kepalanya pada Ghani. Dia ragu Ghani bisa diajak bekerja sama. Mengingat kakak Alya itu sedikit gesrek.


"Mas Ghani mau nggak nolongin aku?"


"Nolong apa?"


"Mas Ghani…..mau nggak jadi pacar bohongan aku."


Ghani memicingkan mata. Tawanya nyari meledak jika saja Za tidak melotot ke arahnya. "Nggak mau lah. Bohong kan dosa, Za," sahutnya kemudian.


"Aku serius, Mas. Nggak lama. Paling sebulan aja," desak Za.


Ghani benar-benar tertawa melihat wajah Za yang begitu serius. "Lagian kenapa harus bohongan sih, Za. Jadi pacar kamu beneran aja, aku mau."


"Za, mau kita bohongan atau seriusan, kita pasti bakal lan disuruh nikah beneran sama ibumu. Ibumu itu udah pingin cepat-cepat kamu nikah. Jangan harap selamat meskipun kamu ngajak aku pacaran bohongan. Yang ada nanti aku ditembak kapan mau nikahin kamu. Siap nggak kamunya?"


Otak Za mendadak buntu. Semua ucapan Ghani masuk akal. Seharusnya dia tadi mempertimbangkan matang-matang sebelum menemui Ghani.


"Memangnya ada apa, Za? Pasti kamu lagi dijodohin, ya?"


Za hanya bisa menghela nafas. Ibunya Ghani adalah teman curhat ibunya Za. Tentu saja Ghani tahu desas-desus tentang Za. Terlebih Alya pernah mendapati Fadhil datang ke rumah.


"Udah. Terima aja sih, Za. Siapa tahu dia memang jodoh kamu," ujar Ghani sok bijak. "Kalau kamu beneran nggak mau, bilang aja sama ibumu kalau kamu maunya sama Mas Ghani," lanjut pria itu sambil cengengesan.


Za mencebik. Dia telah keliru mendatangi Ghani. Bukan solusi yang didapatkannya, tapi kepalanya justru bertambah pusing. Rencananya batal karena Ghani tidak mau diajak bekerja sama. Tapi benar apa kata Ghani. Meski mereka hanya pura-pura pacaran, tak perlu waktu lama mereka akan dinikahkan. Seperti Bian dan Alya contohnya.


"Mas, nggak usah bilang-bilang ibu soal yang tadi, ya,"


Za pun meninggalkan rumah Ghani tanpa menunggu jawaban. Saat keluar dari pagar, dia dikejutkan dengan sebuah mobil yang parkir di depan rumahnya. Entah mobil siapa yang dipakai Fadhil untuk menjemputnya saat di sekolah. Dan juga mengantarnya pulang dari rumah sakit.


"Ngapain dia datang lagi?" gumam Za. Langkahnya semakin berat untuk kembali ke rumah. Tapi ke mana dia harus kembali kalau bukan ke rumah orang tuanya.

__ADS_1


"Kamu ke mana saja sih, Za. Pergi kok nggak bilang-bilang." Tampak jelas kepanikan di wajah ibunya. Mungkin mengira Za akan kabur.


Za tidak senyali itu pergi dari rumah. Hidupnya saja masih bergantung dengan orang tuanya. Mau makan apa dia kalau nekad kabur hanya demi menghindari perjodohannya dengan Fadhil.


"Ditanya kok diam saja, Za?" tajya ibunya lagi.


"Dari rumah Alya, Bu."


"Ngapain? Alya sama orang tuanya kan lagi nggak di rumah," cecar ibunya.


"Mas Ghani kan ada," sahut Za dengan santainya dia masuk ke dalam rumah.


"Iya. Tapi ngapain kamu nyamperin Ghani? Nggak enak dilihat tetangga. Nanti dikira kamu ganjen nyamperin cowok." Bu Rahma mengekor Za sambil terus bertanya.


"Cuma ngobrol sebentar," jawab Za tak peduli jika ibunya masih penasaran.


Za menyapa Fadhil yang duduk di ruang tamu bersama ayahnya.


"Mas, kok ke sini lagi?" tanya Za dengan polosnya.


"Iya. Ngantar obat untuk kamu. Tadi apoteknya antri. Takutnya kamu bosan menunggu. Jadi saya antar pulang dulu baru ambil obatnya."


Za tersenyum canggung. Kenapa Fadhil harus begitu pengertian seperti Mas Bian, sih? gerutunya. Jangan-jangan dia sudah dikasih tahu sama Mas Bian lebih banyak tentang aku. Bisa jadi, karena Mas Bian sekarang jadi timnya Fadhil.


Za terpaksa duduk saat ayahnya beranjak masuk ke dalam. Begitu juga dengan ibunya. Dua orang itu kompak seolah menyuruh Za menemani Fadhil.


"Ada perlu apa sama Ghani?" tanya Fadhil mengejutkan Za.


"Tidak begitu penting."


"Tidak penting kenapa harus sampai datang ke rumahnya?"


Nada bicara Fadhil membuat Za tidak suka. Fadhil seolah berhak mengaturnya.


"Tolong ya Mas. Kita tidak ada hubungan apa-apa, jadi Mas Fadhil tidak harus tahu semua urusan saya," jawab Za dengan tegas.


"Tentu saja harus tahu. Kamu calon istri saya."


"Baru calon, kan? Artinya Mas Fadhil belum ada hak untuk mencampuri urusan saya," sahut Za kesal.

__ADS_1


Fadhil membalas ucapan Za dengan senyum tipis. "Jadi kamu terima dinobatkan jadi calon istri saya?" Ucapan Fadhil membuat Za bungkam.


__ADS_2