Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Ending


__ADS_3

Suara sah menggema di ruang tamu rumah Fadhil. Dari dua orang saksi. Ayahnya Za dan juga Pak irsyad. Sengaja tidak mengundang banyak tamu. Hanya beberapa saudara dekat dan juga beberapa tetangga agar ke depan tidak menimbulkan fitnah dengan kedekatan Safira dan Alex. Momen yang paling mengharukan saat Safira sungkem pada Fadhil. Safira bahkan sampai menangis tersedu-sedu mengingat perjalanan hidupnya selama 25 tahun ini dijaga dengan baik oleh adik dari ayahnya itu. Nyaris tidak seperti seorang paman. Melainkan kasih sayang yang diberikan Fadhil seperti ayahnya sendiri.


Safita bergeser pada mamanya. Meski tidak banyak kisah dengan sang mama, namun wanita itu yang membuatnya ada di dunia ini.


"Maafkan Safira, Ma."


Lany mengangguk sembari menyusut sudut matanya. "Jadilah istri yang baik. Patuh pada suamimu."


"Iya, Ma."


Hari bahagia itu tidak dibiarkan dipenuhi oleh air mata. Mereka menyudahi acara tangis-tangisan. Meski tidak menggelar pesta, namun tidak mengurangi kebahagiaan di wajah Safira dan Alex. Beberapa foto pun mereka ambil dengan background sederhana yang dibuat dadakan semalam. Za bahkan sampai kurang tidur untuk menyiapkan pernikahan Safira.


"Mi, makasih untuk semuanya, ya." Safira memeluk Za.


"Sama-sama. Semoga bahagia ya," ucap Za.


Tak lebih dari satu jam acara akad nikah Safira telah selesai. Seringkas itu seperti keinginannya. Dia hanya butuh statusnya dengan Alex segera sah sebagai suami istri. Meski dia bisa membuat pesta dengan uangnya sendiri, namun Safira ingin menghargai Alex yang baru mendapat pekerjaan setelah dimiskinkan oleh orang tuanya. Bahkan mungkin Alex tidak meminta izin orang tuanya saat akan menikahinya. Biarlah, itu akan dia pikirkan nanti.


"Fir, maaf, aku belum bisa membuat pesta," ucap Alex saat mereka makan berdua di teras belakang.


"Aku nggak butuh pesta, Lex."


"Tapi aku nggak enak sama keluarga kamu."


Safira berdecak. Dia tahu Alex butuh perjuangan yang luar biasa saat akan melamarnya semalam. Bahkan dia harus mengumpulkan nyalinya mengakui kesalahannya di depan Tante Sarah. Belum lagi setelah hari ini, mungkin jati diri Alex akan terkuak di keluarga besarnya. Safira harus menguatkan hati jika saja dia akan mendapat bulllyan karena menikah dengan orang secara tidak langsung telah menyebabkan mereka kehilangan anggota keluarga.


"Ayah! Kok ayah sekarang dekat Kak Safira terus?" Alif datang dengan celetukan polosnya.


"Ayah…."Alex kehilangan kata untuk menjawab pertanyaan Alif.


"Ayah kan sudah menikah sama Kak Safira. Seperti Papa sama Mama. Jadi boleh dekat terus." Za melanjutkan ucapan Alex. "Al sama Mama ya, Ayah sama Kak Safira lagi makan." Za pun mengajak Alif masuk kembali ke dalam rumah.


Sore harinya, Alex mengungkapkan niatnya untuk membawa Safira ke rumah kontrakannya. Di depan Fadhil,Za, Lany dan Tante Sarah. Meski dengan sedikit canggung karena dia belum bisa membeli rumah untuk keluarga barunya.


"Rumah ini masih cukup untuk ditempati beberapa keluarga. Tapi kalau memang ingin tinggal terpisah, kalian bisa tinggal di rumah tante Za. Dia sudah bilang sama Om Fadhil. Kalian boleh menempatinya. Budget kontrakan bisa ditabung untuk membeli rumah nantinya," saran Fadhil.


Dua pengantin baru itu pun terdiam. Safira bisa saja membeli rumah cash karena dia masih punya tabungan dari peninggalan ayahnya. Beberapa bulan lalu bahkan dia mendapat uang pembayaran rumah utama dari Fadhil. Namun sama seperti alasan sebelumnya, dia tidak ingin menyinggung perasaan Alex.


"Tidak apa-apa, Mas. Sudah kewajiban saya memberikan tempat tinggal untuk istri saya," jawab Alex menolak saran dari Fadhil.


Tatapan Fadhil kini beralih pada Safira. "Gimana, Fir? Siap ikut suami kamu tinggal di rumah kontrakan?"


"Iya, Om," sahut Safira yakin. Bagaimana tidak yakin. Bahkan dia yang pertama menyatakan perasaannya ada Alex. Dam kenekatannya itu berbuah manis. Meski dia sempat mendapat penolakan.


"Ya sudah. Nanti kalau nggak betah, pintu rumah ini selalu terbuka untuk kalian," ujar Fadhil selanjutnya.

__ADS_1


Safira pun beranjak untuk mengemasi bajunya. Namun langkahnya terhenti saat mamanya memanggil.


"Safira bagaimana kalau kalian tinggal bersama Mama saja?"


"Ma, bukannya Mama sendiri yang bilang kalau Safira harus patuh sama suami?"


"Ya. Tapi untuk hal yang satu ini, Mama mohon sama kalian."


"Nggak bisa, Ma. Kami juga harus belajar mandiri. Masa iya udah nikah masih harus numpang terus," sahut Safira blak-blakan.


"Kamu nggak numpang, Fir. Itu juga rumah kamu."


"Ma, please. Tolong hargai keputusan kami. Lagi pula rumah kontrakan Alex nggak jauh dari rumah Mama,"


Safira tetap pada pendiriannya. Dia masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil pakaian seperlunya dulu.


Mereka pun harus merelakan Safira masuk ke dalam mobil Alex setelah berpamitan. Dan kendaraan itu pun melaju meninggalkan pelataran rumah. Meski ada rasa tak tega pada diri masing-masing orang yang mengantar mereka sampai di halaman rumah.


"Dhil!" panggil Lany saat mereka hendak kembali masuk ke dalam rumah. Fadhil pun membalik badan.


"Thank you," ucap wanita itu dengan berkaca-kaca. "Terima kasih sudah mengantar Safira sampai di titik ini."


Fadhil mengangguk. "Aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan."


Lany mengusap sudut mata dengan punggung tangannya dan mencoba mengulas senyum. "OK. Aku pamit pulang, ya?" ucapnya kemudian.


"Nggak, Mbak. Mbak Lany tetap ibunya dan nggak bisa digantikan oleh siapa pun."


Lany pun berpamitan pada Tante Sarah. Lalu melesat dengan mobilnya kembali ke rumah.


"Mbak Lany agak beda ya, Mas?" celetuk Za saat mereka tiba di dalam rumah.


"Beda apanya?" tanya Fadhil.


"Sikapnya lebih lembut dari sebelumnya."


"Watak aslinya sudah kembali mungkin."


"Ooh, jadi dia aslinya lembut, ya? Si paling tahu sifatnya Lany?"


Fadhil mengusap wajah Za dengan kasar. "Si paling pencemburu kalau sudah membahas masa lalu." sahutnya gemas.


"Ya…siapa tahu dengan kembalinya sifat asli mantan, rasa itu akan bersemi kembali dan mengajak bukber," ujar Za sengaja memperkeruh suasana.


"Kok bukber?"

__ADS_1


"Ya bukber sekalian reuni."


"Haiyah mau pergi saja sekarang dibuntuti sama Al. Sebentar lagi Alula."


"Oo, jadi kalau ada kesempatan bisa lah reunian?"


"Sudah! Sudah! Alula nangis malah berdebat di sini," kata Tante Sarah yang sedang menggendong bayi mereka.


Za mengambil Lula dari gendongan Tante Sarah laku kembali masuk ke dalam kamar untuk memberikan ASI.


"Dek!" panggil Fadhil seraya beringsut mendekati Za yang duduk menyandarkan punggungnya di sandaran tempat tidur.


"Hmm."


"Masih lama, ya?"


"Apanya?"


"Nifasnya?"


"Astaga! Baru seminggu, Mas. Kamu mau ikut-ikutan. Safira sama Alex malam pertama?"


Fadhil terkekeh sambil mendekati wajah bayi yang tengah menghisap sumber kehidupannya.


"Lula, Papa minta dikit, dong."


"Mas, kamu tuh….jauh-jauh sana kalau nggak bisa menahan diri," gerutu Za kesal.


"Ok. Baiklah. Kamu yang nyuruh, lho."


"Eeh, nggak jadi. Nanti ke mana-mana lagi. Balik sini!" Za menepuk sisi kiri ranjang.


Fadhil kembali tertawa pelan. "Sudah tua, Za. Siapa yang mau sama Mas."


"Tua tapi kan ganteng duitnya banyak. Pasti banyak yang mau," jawab Za. Karena dia sama sekali tidak melihat perubahan di wajah suaminya setelah lima tahun ini. Justru dirinya yang mengalami perubahan. Apalagi kalau bukan badannya yang semakin mekar.


"Mas besok kalau Lula sudah dewasa terus ada yang ngelamar dia, mukanya jangan nyeremin kayak semalam, ya," cicit Za.


"Emang semalam nyeremin? Nggak ah, biasa aja."


"Tapi Alex guguo tau. Lihat Mas tegas begitu. Besok jangan lagi, ya?"


"Iya. Kalau masih dikasih usia."


"Kok ngomongnya gitu? Nggak suka!"

__ADS_1


Fadhil mendekap Za, yang selalu menolak jika menyinggung tentang perpisahan yang menjadi sebuah keniscayaan. "I love you!" ucapnya sambil mendaratkan bibir di dahi Za seraya menahan genangan di matanya.


__ADS_2