
Za merenung di tepi ranjang. Setelah menanyakan pada ibunya tentang hasil pemeriksaan yang tiba-tiba lenyap dari tasnya. Dan ternyata berkas itu pun tidak tertinggal di sana. Dia masih ingat betul jika belum mengeluarkannya dari dalam tas. Lalu ke mana hilangnya kertas itu? Apa mungkin Fadhil yang mengambilnya?
Za mencemaskan kemungkinan itu. Bukan bermaksud untuk menyembunyikannya. Tetapi dia sedang menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu suaminya. Lalu bagaimana jika ternyata Fadhil telah mengetahui dengan sendirinya.
"Memikirkan sesuatu?"
Za terkesiap mendengar pertanyaan suaminya. Gelagat tidak biasa yang mungkin tertangkap oleh Fadhil. Za memang bukan tipe orang yang bisa menyembunyikan perasaannya. Sedih, bahagia, gelisah semua dapat tertebak dari mimik wajahnya.
"Nggak. Aku hanya mengkhawatirkan Safira," sahutnya.
"Ada apa lagi? Bukankah tadi dokter sudah bilang kalau dia hanya butuh istirahat?"
"Hmm. Tapi tetap saja cemas." Za tidak sepenuhnya berbohong. Karena Safira meski sudah diperiksakan ke dokter tetapi dia kesulitan menelan obat.
"Dia nggak mau makan dari pagi," lanjutnya.
Fadhil meletakkan ponsel di tangannya. Kemudian beringsut turun dari ranjang untuk pergi ke dapur. Sejak Safira kecil mereka sudah tinggal satu rumah. Sehingga dia paham betul bagaimana memperlakukan keponakannya jika sedang sakit. Sebagai anak dan juga cucu semata wayang keluarga itu, jangan ditanya bagaimana manjanya Safira. Karena semua penghuni rumah itu yang selalu memperlakukannya dengan istimewa.
Fadhil mengetok pintu kamar sebelum masuk ke dalam kamar Safira. Hal yang selalu dilakukan ketika Safira sudah beranjak dewasa untuk menjaga privacy keponakannya itu.
"Mau makan apa, Fir?" tanya Fadhil sembari menjatuhkan dirinya di tepi ranjang.
"Nggak mau apa-apa," sahut Safira lesu.
"Bubur, ya?"
"Nggak lah. Nggak enak makan "
"Harus makan."
Fadhil beranjak dari kamar Safira. Dia mengambil sayuran dari dalam kulkas untuk membuat bubur manado. Membiarkan Safira yang tidak berselera makan tentu kurang baik. Lagi pula bubur yang akan dibuatnya seringkali menjadi menu sarapan mereka dulu. Dan Safira menyukainya bahkan sejak kecil.
"Mau masak, Mas?" tanya Za yang menyusul ke dapur.
"Iya. Bikin bubur siapa tahu Safira mau makan."
Za memperhatikan Fadhil menyiapkan bahan makanan. Resep baru yang belum pernah dicobanya.
"Mas dari mana dapat keahlian memasak? Semua menu kayaknya bisa."
Fadhil terkekeh. "Kan bisa dipelajari. Kalau ada keinginan pasti bisa."
"Tapi rasanya belum tentu enak. Buktinya aku, resepnya sama persis yang diajari Mas. Tapi kenapa rasanya beda?"
"Ya mungkin lain kali masaknya harus pakai hati yang lebih tulus."
__ADS_1
"Astaga, aku udah tulus banget, Mas," sahut Za sedikit kesal.
"Iya, iya percaya. Mungkin hanya perlu diasah lagi. Jangan cemberut begitu, dong."
Za menjulingkan mata saat Fadhil menowel pipinya. Dia memilih duduk sambil mengamati gerak tangan suaminya alih-alih membantu memasak. Karena tahu hanya akan mengacaukan semuanya.
"Aku bersyukur banget tahu punya suami kayak kamu, Mas."
Lagi, Fadhil tertawa pelan mendengar pujian Za. "Apakah itu ungkapan penyesalan karena dulu sempat menolak lamaran Mas?"
"Sepertinya begitu," balas Za. "Aku nggak tahu gimana kalau dulu keukeuh menolak menikah sama Mas. Apa ada laki-laki yang mau menerima aku yang nggak bisa apa-apa ini. Bahkan hanya membahagiakan suami sebagai bentuk terima kasih pun nggak bisa," lanjutnya yang justru berakhir terdengar sendu.
"Kata siapa? Mas sudah bahagia kok bisa bersama kamu," sahut Fadhil sambil menyiapkan panci untuk memasak.
"Tapi aku nggak yakin Mas bisa bahagia dengan keadaan seperti ini terus."
Fadhil menipiskan mendengar Za yang terdengar lirih. "Kuncinya bahagia 'kan bersyukur, Dek."
Ucapan yang terdengar menenangkan. Namun tidak bagi Za. Batinnya terus terongrong oleh rasa bersalah karena tidak bisa mewujudkan keinginan suaminya. Memangnya apalagi yang bisa melengkapi kebahagiaan sebuah keluarga selain celotehan anak-anak mereka.
"Masaknya dilebihin 'kan, Mas? Aku mau."
"Iya. Ini masak buat bertiga."
Bunyi bel mengalihkan perhatian Za dari sosok suaminya yang meski di depan kompor dengan apron tetap terlihat gagah. Dia turun dari kursi bar lalu menyeret langkahnya ke depan.
Saat dia membuka pintu, Lany tampak berdiri di depan pintu menenteng tas tangan dan beberapa oleh-oleh. Terlihat repot sekali karena di tangannya ada tas kertas dan juga parcel buah.
"Silakan masuk!" Za menggeser tubuhnya memberi jalan untuk Lany masuk ke dalam rumah. Wanita itu pun hanya melenggang begitu saja karena berada di rumah itu tentu bukan hal yang asing baginya. Za menyusul setelah menutup pintu.
Tanpa canggung, Lany mengambil piring setelah menyapa Fadhil sesaat. Yang disapa hanya berdehem sebagai jawaban.
Lany mengeluarkan kotak puding coklat yang dibawanya. Mengambilnya sepotong kemudian dipimdahkan ke dalam piring.
"Safira di kamar?" tanyanya pada Za yang duduk di meja makan. Za pun membenarkan.
"Kok dia bisa tahu Safira sakit?" tanya Fadhil setelah Lany meninggalkan mereka.
"Aku yang ngasih tahu," jawab Za.
"Kamu?!" tanya Fadhil lagi semakin heran. Za tidak pernah menyimpan nomor kontak Lany. Bahkan setahunya istrinya itu juga tidak menyukai Lany sejak awal. Namun bagaimana bisa Za menghubungi Lany untuk memberitahu jika Safira sedang sakit?
"Lany itu mamanya Safira. Apa pun uang terjadi dengan Safira dia harus tahu. Kita boleh merawat Safira sepenuhnya, tapi jangan mengesampingkan jika dia masih punya ibu."
Suara teriakan dari kamar Safira membuat keduanya saling pandang. Suara Safira yang begitu kencang di susul suara benda pecah. Fadhil meletakkan panci yang tengah di pegangnya dan bergegas menuju ke kamar Safira.
__ADS_1
"Aku nggak mau punya Mama seperti kamu!" teriak Safira.
"Mama minta maaf. Mama sudah putus dengan Om Arman."
"Putus karena dilabrak sama istrinya, "kan?! Coba kalau enggak?"
"Fir, Mama beneran nggak tahu kalau dia masih punya istri," sahut Lany dengan pelan.
"Bullshit!"
"Lan, kamu keluar dulu!" sela Fadhil karena Safira sedang tidak bisa diajak bicara baik-bak. Hubungannya dengan sang mama semakin memburuk.
Lany pun beranjak dari ranjang Safira. Melangkah lesu dan menghempaskan diri di sofa ruang tengah. Keangkuhan yang selama ini selalu melekat entah hilang ke mana. Lany hanya terdiam sembari menerawang.
"Ada masalah apalagi sama Safira?" tanya Fadhil setelah dia duduk di depan Lany.
Hembusan nafas kasar Lany terdengar. "Aku sempat ngenalin Lany sama seseorang yang beberapa bulan ini dekat sama aku. Tapi… ternyata dia masih punya istri," ungkap Lany lirih.
"Kamu ceroboh. Kenapa nggak diselidiki dulu."
Lany terdiam beberapa saat. Hanya hembusan nafasnya yang kembali terdengar.
"Kamu bisa bantu aku nggak, Dhil?" tanyanya kemudian.
"Bantu apa?" balas Fadhil datar.
"Ambilin mobil yang udah aku kasih ke dia."
"Maksudnya kamu ngasih mobil ke dia?" tanya Fadhil memastikan. Lany pun mengangguk.
"Astaga!" gumam Fadhil.
"Bisa kan, Dhil? Aku nggak bisa laporin ini ke polisi. Semua udah atas nama dia. Minta bantu temanmu deh. Nanti aku yang tanggung," ujar Lany dengan penuh harap. Karena dia tahu beberapa teman Fadhil yang bisa membantu membereskan masalahnya demgan jalan pintas.
Fadhil membuang nafas kasar. Menatap Lany yang wajahnya terlihat lesu.
"Dhil! Bisa, kan? Aku pakai setengah tabunganku buat beli mobil itu," desak Lany dengan kaca di matanya yang hampir pecah. Tampak sekali rasa penyesalannya.
"Iya!" jawab Fadhil. "Kamu kenapa jadi tolol, sih?!" ujarnya lagi terdengar kesal.
"Ya aku pikir dia serius karena sempat dikenalin ke orang tuanya."
"Bodoh!" maki Fadhil lagi sambil beranjak dari depan Lany. "Kirim foto sama data dirinya," lanjutnya.
Dia kembali ke dapur untuk membereskan pekerjaan yang tertunda. Di meja makan, dia mendaoati Za yang duduk menatap ke arahnya yang sedang berjalan menuju dapur. Semua pembicaraannya dengan Lany tentu terdengar oleh Za. Tak ingin membuat istrinya salah paham Fadhil menipiskan bibir sembari berbisik. "Mas lakukan ini semua karena kasihan."
__ADS_1