Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Lamaran Bian


__ADS_3

"Bian ingin melamar putrinya Pak Ramli, Paklek."


Za membuang nafas lega. Setelah mendengar jika Bian akan melamar anak gadis orang. Putrinya Pak Ramli, Alya? pikirnya.


Dia pun membuka pintu untuk mendengar kepastiannya. Dengan berpura-pura tidak tahu, Za duduk di samping ayahnya. Terlihat wajah ibunya yang sedikit kecewa. Mungkin karena Bian akan melamar orang lain, bukan Za.


"Kamu sudah yakin?" tanya ayah Za pada Bian.


"Sudah, Paklek," jawab Bian yakin.


Selama ini tak pernah terdengar kabar kedekatan mereka. Bian merantau ke Kalimantan sejak lima tahun yang lalu. Saat itu tentu saja Alya masih SMP. Karena sekarang gadis itu baru kuliah semester dua.


"Sudah lama dekat dengan Alya?" tanya ayah Za lagi.


"Selama ini tidak pernah dekat Pakek. Hanya lewat Ghani," jawab Bian. Ghani adalah kakaknya Alya yang merupakan teman Bian.


"Tapi Alya sudah kamu tanya? Dia mau atau tidak?"


"Sudah. Tadi Bian sudah ketemu langsung sama Alya."


Ayah Za mengangguk paham."Lalu kapan rencana kamu mau melamarnya?"


"Nanti malam, Paklek."


Semua yang ada di ruangan itu terkejut. Terkecuali ayah Za yang terlihat tidak berubah ekspresinya. Dia mengangguk dengan pelan.


Bian sudah dewasa, keputusannya pasti sudah dipikirkan dengan matang. Apalagi untuk melamar anak orang. Ayah Za yakin jika Bian benar-benar serius dengan pilihannya.


"Ya sudah. Kamu mau ke sana sendiri atau mau ditemani?"


"Tadinya Bian mau sendiri. Tapi kata ayahnya Alya, dia minta Bian membawa orang tua. Untuk membuktikan keseriusan Bian."

__ADS_1


Za dan ibunya hanya menjadi pendengar pembicaraan dua laki-laki beda usia itu. Za memang tidak berniat ikut menimpali. Sedang ibunya, mungkin terkejut mendengar niat Bian melamar anak tetangga mereka.


Setelah berbincang tentang rencananya melamar Alya, Bian meminta tolong untuk ditemani Za mencari buah tangan untuk dibawa ke rumah Alya. Dia akan datang bersama kedua orang tua Za. Tentu saja lebih pantas jika membawa oleh-oleh meski rumah mereka berdekatan.


Karena waktunya mendesak, mereka mencari toko kue yang dekat dengan rumah. Bian tidak tahu mana kue yang pantas untuk dibawa sehingga dia menyerahkan pilihan pada Za. Secepatnya Za mengambil kue-kue best seller di toko kue itu. Beberapa menit memilih kue, mereka pun keluar dari toko kue itu dengan membawa 2 box kue.


"Mas, beli buah juga, nggak?" tanya Za.


"Boleh," jawab Bian ragu.


Mereka pun mampir ke toko buah yang ada di seberang toko kue. Za nemilih beberapa macam buah segar dan meminta pegawai toko untuk membungkusnya dalam keranjang parcel.


"Jadi Mas Bian beli cincin kemarin itu buat Alya?" tanya Za saat mereka menunggu parcel dibungkus.


"Iya," sahut Bian sumringah.


"Kejutan banget, Mas. Diam-diam langsung lamaran."


"Emang Alya sudah mau diajak nikah?"


"Kalau siap dilamar sudah pasti siap diajak nikah, Za. Kalau dia masih mau main-main, Mas Bian nggak mungkin berani melangkah sejauh ini. Mas nyari yang serius," ujar Bian menjawab keingintahuan Za.


"Kalau mau serius jangan sama bocil lah, Mas. Masih labil, nanti kalau tiba-tiba berubah pikiran gimana?"


Bian menipiskan bibirnya. "Mas kan yang akan jadi nahkodanya. Yang harus menjaga agar kapal tetap berjalan dengan stabil biar penumpangnya nggak ikut oleng."


Za mengangguk pelan. Dia bukan ragu pada Alya. Meski umurnya masih muda, dia tahu bagaimana pemikiran Alya. Gadis itu pernah menjadi salah satu muridnya saat SMA. Bahkan sejak SMP sudah les privat pada Za. Alya cantik dan juga pintar. Tidak salah Bian memilihnya untuk dijadikan pasangan hidup. Meski masih muda, tapi Alya sosok yang matang pemikirannya.


Hanya saja, yang harus dia sadari, setelah malam ini, mungkin Za tidak akan mempunyai banyak waktu bersama kakak sepupunya itu. Meski mereka belum menjadi pasangan sah, namun Za harus menjaga perasaan Alya. Dengan sedikit menjaga jarak dengan Bian. Za akan benar-benar merasa kesepian.


"Ayo, Za!"

__ADS_1


Za terkesiap. Dia bergegas beranjak dari bangku plastik. Mengikuti Bian yang sudah berjalan lebih dulu menuju ke motor. Hari sudah semakin gelap. Mereka tidak punya banyak waktu lagi karena harus menyiapkan semua yang akan dibawa ke rumah Alya.


Beberapa box kue sudah dihias dengan pita. Begitu juga dengan parcel buah. Za menatanya di atas meja makan. Sembari menunggu ayahnya dan Bian pulang dari masjid.


Ibu Za sejak tadi hanya berdiam di dalam kamar. Sejak Bian selesai berbicara dengan ayahnya Za. Entah sedang berdandan, atau sedang bersedih karena harapannya tak sesuai kenyataan. Za tak ingin mengusik ibunya. Sejak tadi dia sibuk menyiapkan oleh-oleh yang akan dibawa ke rumah Alya. Dia tidak ingin mengusik ibunya di tengah suasana hatinya yang mungkin sedang tidak baik.


Dua orang laki-laki itu masuk beriringan. Bian yang sudah mengenakan kemeja batik masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti sarung yang dipakainya dengan celana bahan. Begitu juga dengan ayah Za.


Dari dalam kamar orangtuanya, Za melihat ayahnya keluar bersama ibunya yang sudah mengenakan pakaian rapi. Gamis brokat dengan kerudung senada. Wajahnya sudah dipoles tipis. Terlihat cantik meski wajahnya mendung.


"Kamu ikut ya, Za!" kata Bian.


"Hah?! Ngapain?"


"Bantu bawain oleh-olehnya," jawab Bian lalu dia terkekeh.


"Asem, ik!"


Za pun masuk ke kamarnya. Mengganti babydoll-nya dengan dress seragam bridesmaid salah satu temannya yang baru sekali dipakai. Meski hanya lompat satu rumah, Za tetap memoles wajahnya. Tentu saja dia tidak ingin kejepret kamera dengan wajah pucat. Karena moment lamaran pasti akan diabadikan dalam rekaman ataupun gambar.


Za dan ibunya membawa tumpukan kue dan aneka buah. Sedikit kerepotan karena hanya mereka berdua yang membawanya. Tidak mungkin jika Ayah atau justru Bian yang membawanya.


Disambut hangat oleh pemilik rumah, mereka masuk ke dalam. Selain keluarga Alya, ternyata di dalam ruang tamu yang digelar lesehan itu sudah ada Pak RT dan beberapa orang lainnya termasuk pemuka kampung. Selebihnya Za tidak kenal. Mungkin kerabat tuan rumah.


Beberapa saat menunggu, Alya digandeng ibunya keluar dari dalam rumah. Tampak cantik memakai kebaya dan make up tipis.


"Kedip, Mas!" bisik Za menggoda Bian yang terpana menatap Alya. Bian pun kembali menunduk


Acara lamaran dimulai. Sebuah kejutan didapatkan sekali lagi. Saat ayah Za yang mengungkapkan maksud kedatangan mereka, Pak Ramli menerima lamaran Bian. Namun juga sekaligus meminta Bian untuk menikahi Alya malam itu juga. Dengan alasan tidak ingin keduanya terjerumus zina. Karena godaan pasti tidak akan lepas untuk menjerat mereka.


"Bagaimana, Nak Bian?" tanya Pak Ramli.

__ADS_1


"InsyaAllah saya siap." jawab Bian yakin.


__ADS_2