Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Kejutan Anniversary


__ADS_3

"Mas kok tahu kalau hari ini anniversary Ayah sama Ibu?" tanya Za saat Fadhil memintanya untuk bersiap ke rumah orang tua Za.


"Lihat dari buku nikah mereka. Waktu daftar ke KUA," sahut Fadhil.


Sedetail itu Fadhil memperhatikan. Bahkan masih sempat mengingat hal yang Za sendiri mungkin tidak ingat. Orang tuanya memang tidak pernah merayakan hari jadi mereka. Jangankan anniversary, ulang tahun mereka saja hampir tidak pernah dirayakan. Za ingat terakhir kali merayakan ulang tahun saat usianya 17 tahun bersama teman-teman sekolahnya.


"Sudah siap?" tanya Fadhil melihat Za sudah selesai memasang jilbab.


"Sudah." Za tersenyum memperlihatkan penampilannya. Gaun panjang koleksi lama yang jarang terpakai. Setelah menjadi istri Fadhil Za lebih sering memakai gaun. Bukan apa, dulu jika naik motor dan harus memakai dress, terlalu ribet baginya. Sehingga Za lebih sering memakai celana panjang.


"Baju baru?" Fadhil menanyakan tentang gaun hitam yang sangat pas dipadukan jilbab coklat bermotif.


"Enggak. Ini baju beli sudah tiga atau empat tahunan."


Fadhil menghela nafas pelan. "Sepertinya kamu belum pernah beli baju sejak jadi istri Mas."


"Kan yang lama masih bagus. Dulu aku sering belanja meski nggak butuh, Mas. Jadi cuma numpuk di lemari. Sekarang sudah emak-emak sudah berubah pola pikirnya. Beli kalau butuh saja. Uangnya ditabung buat beli tanah. Bangun kost-kostan kaya Om Irsyad."


Decakan kesal Fadhil pun terdengar. "Tapi pakaian salah satu nafkah yang harus Mas penuhi, Za."


"Iya, iya. Besok aku beli baju baru. Nggak usah ngambek. Jadi berangkat nggak, nih?"


"Ya jadi. Sudah disiapkan semuanya masa batal."


Entah kejutan apa yang akan disiapkan oleh Fadhil untuk kedua orang tuanya. Za pun masih belum tahu. Meski penasaran, tapi Fadhil hanya mengatakan rahasia dan dia diminta untuk ikut semua rencananya.


Za menggendong Alif. Sementara tas berisi perlengkapan bayi itu ditenteng Fadhil ke mobil. Setelah memiliki bayi mereka memang tidak bisa pergi dengan membawa sedikit barang. Apalagi hanya dompet saja. Satu tas besar berisi baju-baju, popok bahkan juga susu dan botol bayi menjadi barang wajib yang harus dibawa.


"Kita ke rumah Oma ya, Al." Fadhil mengusap pelan kepala Alif sebelum melajukan mobil. Ini pertama kalinya Alif bepergian setelah satu minggu tinggal bersama keluarga barunya.

__ADS_1


Di tengah perjalanan, Fadhil menghentikan kendaraannya di sebuah toko kue. Za bahkan tidak tahu jika dia telah memesan kue. Kue tart ukuran besar itu pun diletakkan di jok belakang.


"Ayah sama Ibu nggak pernah ngerayain anniversary mereka lho, Mas," ujar Za saat mereka kembali mengaspal


"Lalu apa masalahnya? Kita cuma mau ngasih sedikit perhatian untuk mereka. Biar mereka senang karena anak-anaknya peduli. Karena kamu anak satu-satunya dan sudah Mas ambil. Mereka pasti kesepian."


Za tak menyahut. Beberapa meter lagi mereka akan masuk ke komplek perumahan tempat tinggal Za sebelum menjadi istri Fadhil.


Rumah terlihat sepi saat mereka datang. Namun pintu pagar tidak dikunci. Za menyiapkan kue lalu membawanya. Karena Fadhil yang memintanya. Sementara Alif terlihat anteng dalam gendongan ayahnya.


Kedatangan mereka benar sebuah kejutan. Karena tidak memberitahu dulu. Apalagi dengan membawa Alif yang usianya baru dua minggu.


"Selamat hari jadi, Ayah, Ibu," seru Za yang membuat kedua orang tuanya justru terkejut.


"Kamu…. Ibu saja lupa kalau hari ini tanggal nikahnya Ayah sama Ibu," ujar ibu Za terharu.


"Terima kasih ya, Sayang," ucapnya kemudian memeluk Za.


"Oh, ya. Ada kado dari Za, Yah, Bu," kata Fadhil. Za pun mengerutkan dahi. Bagaimana bisa dia tidak menyiapkan kado untuk orang tuanya. Tapi Fadhil justru mengatakan demikian.


"Sebentar, kita lihat di depan," ujar sang suami lagi.


Karena penasaran, Za pun mengikut Fadhil ke depan. Bukan mengambil sesuatu di mobil. Melainkan menunjuk sebuah city car hitam yang berhenti di belakang mobil Fadhil.


"Yah, Bu. Ini kado dari Za untuk Ayah sama Ibu," ujar Fadhil.


Kedua orang tua itu pun saling berpandangan. Dengan ekspresi tak percaya.


"Ini Mas Fadhil yang beli, bukan Za," bantah Za.

__ADS_1


"Sama saja," sahut Fadhil.


Sementara ayah ibu Za masih terdiam. Menatap haru anak dan menantunya.


"Ini terlalu berlebihan, Nak Fadhil. Kamu memperlakukan anak kami dengan sangat baik itu sudah lebih dari cukup," ungkap ayah Za kemudian.


"Tapi bagi saya belum cukup, Yah. Bahkan hadiah ini tidak ada apa-apanya dibanding pengorbanan Ayah Ibu untuk istri saya," balas Fadhil.


"Itu sudah jadi kewajiban kami sebagai orang tua,"


"Iya, Yah. Tapi saya patut berterima kasih untuk itu. Jadi tolong diterima, Yah."


Ayah Za terlihat menghela nafas pelan. Rasa syukurnya tiada terkira dipertemukan dengan menantu yang begitu baik.


"Ya. Ayah terima," ucapnya kemudian.


Bahkan hanya dengan diterimanya pemberian itu membuat Fadhil tersenyum. Dia pun menemani ayah mertuanya melakukan serah terima dengan orang dealer yang mengantarkan mobil itu.


Sementara itu, Za yang kini menggendong Alif mengusap punggung ibunya yang benar-benar tidak sanggup menahan air mata bahagianya.


"Suamimu kenapa baik sekali, Za? Terima kasih untuk kebahagiaan yang bertubi-tubi ini, Za."


Za tersenyum. "Za yang seharusnya berterima kasih sama Ibu. Karena kengototan Ibu menjodohkan Za dengan Mas Fadhil," sahutnya.


Setelah mencicipi kue yang dibawanya, Za menitipkan Alif pada ibunya. Hari ini dia ada janji dengan dokter kandungan.


Seperti harapan Fadhil dan kedua orang tuanya yang masih begitu besar, Za pun ingin berusaha semampunya untuk mewujudkan keinginan mereka. Juga keinginannya. Tidak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini.


"Tidak menunda Alif agak besar dulu. Nanti kalau berhasil sudah dipikirkan resikonya?" tanya ibu Za.

__ADS_1


"Kan baru mau konsultasi. Doakan kami ya, Bu."


"Selalu yang terbaik untuk kalian," sahut ibu Za.


__ADS_2