Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Mengantar Pulang


__ADS_3

Za mendengar bunyi langkah kaki mengikutinya. Lalu pemilik langkah lebar itu kini sudah berjalan di sampingnya. Za memilih diam. Bahkan hingga mereka naik ke mobil dan kembali mengaspal.


Seperti saat mereka berangkat tadi, suasana kembali hening. Za sibuk dengan pikirannya sendiri. Seolah ada yang mengganggu namun dia tidak tahu apa itu. Semacam rasa cemas.


"Dia Safira. Anak almarhum Mas Farhan, kakak saya," kata Fadhil menjawab teka-teki yang ada dalam pikiran Za.


Za masih enggan menyahut. Kini dia justru dibayangi rasa bersalah karena telah berburuk sangka, mengira jika gadis bernama Safira tadi adalah mainan Fadhil.


"Maaf kalau tadi Safira tidak sopan," ucap Fadhil lagi. Mengingat sikap keponakannya saat di kafe tadi yang tidak menegur Za sama sekali meski sofa yang hanya dipisahkan oleh meja begitu dekat. Seharusnya Safira juga tahu kalau Za di sana sebagai teman duduk Fadhil.


"Sejak kecil dia ikut dengan saya. Mungkin saya yang terlalu memanjakan dia sehingga sikapnya kadang masih seperti anak kecil," jelas Fadhil lagi.


"Ibunya ke mana?" tanya Za menanggapi.


"Ibunya kerja di luar kota. Dua minggu sekali atau paling lama satu bulan datang ke sini menjenguk Safira."


"Kenapa dia tidak ikut ibunya?" Za merasa aneh. Seorang ibu pastilah ingin dekat dengan anaknya. Seperti ibunya, yang bahkan melarang Za pergi ke luar kota meski Za mendapat pekerjaan yang gajinya lebih baik. Ibunya tidak mempermasalahkan sekalipun Za tidak bekerja asalkan jangan meninggalkan rumah.


"Bonding Safira dan ibunya tidak begitu lekat. Lagi pula tidak ada yang mengurusnya jika dia ikut ibunya. Setiap hari ibunya pergi pagi dan pulang petang hari. Sampai saat SMA, ibunya mengajak Safira tinggal bersamanya pun dia tidak mau. Sudah terlanjur nyaman di sini."


Za membulatkan bibirnya. Siapa dan bagaimana Safira tidak penting baginya. Tidak perlu mencari tahu lebih banyak tentang gadis keponakan Fadhil itu.


Keheningan pun kembali menyapa. Tidak ada bahan pembicaraan lain setelah Fadhil memberikan sekelumit informasi tentang keluarganya.


Mobil yang mereka tumpangi masuk ke gapura perumahan. Fadhil melajukan perlahan saat memasuki gang tempat tinggal Za. Suasana yang sudah sedikit lengang membuat Za leluasa untuk turun tanpa harus menghiraukan jika ada tetangga yang melihatnya diantar oleh seorang laki-laki. Za memang harus sedikit hati-hati, karena lingkungan tempat tinggalnya memang masih rentan pergosipan.


"Terima kasih, Mas," ucapa Za sebelum dia turun dari mobil.


"Sama-sama."


Za pikir Fadhil hanya akan mengantarnya. Namun pria itu pun ikut turun dan mengikuti Za memasuki pagar rumahnya.


Di teras, Za harus bertemu dengan Bian yang sedang bertelepon entah dengan siapa. Kedatangan Za bersama seorang laki-laki tentu zaja membuat Bian terkejut. Bahkan sampai mematikan sambungan telepon.


"Assalamua'alikum."

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam warohmatullah wabarokatuh," sahut Bian dengan diringi senyum merekah. "Udah gede ya adik Mas Bian?" sarkasnya menggoda Za.


"Apaan sih, Mas?!" sahut Za ketus yabg mengerti maksud sindiran penuh makna dari sepupunya itu. Lalu dia masuk ke dalam rumah mengabaikan Fadhil.


Sudah diduga, setelah menadapat sambutan Bian, kini ibunya mengekor Za yang masuk ke dalam kamar. Wajah masam ibunya oun telah luntur berganti senyum sumringah.


"Mana Fadhil? Dia mengantarmu pulang, kan?"


"Di depan sama Mas Bian." sahut Za cuek sambil melepas jilbabnya.


"Kok kamu bisa jalan sama dia? Janjian?" tebak Bu Rahma membuat Za makin kesal.


"Nggak sengaja ketemu di rumah Mbak Fatma. Motor Za kempes terus diantar sama dia," terang Za berharap ibunya akan berhenti bertanya.


Namun sepertinya ibu Za sudah menyiapkan sederet list pertanyaan untuk putrinya. Za pun keluar dari kamar menghindari cecaran ibunya.


"Za! Itu Nak Fadhil di luar sana Bian. Mggak dibuatkan minum?" tanya Ayah yang baru pulang membawa tas berisi kardus makanan.


"Dari mana, Yah? tanya Za mengalihkan topik pembicaraan.


"Mbak, Itu yang lagi ngobrol sama Mas Bian siapa?" tanya Alya yang juga baru masuk ke rumah.


Bahu Za meluruh. Apes banget dia hari ini. Fadhil mengantarnya pulang saat semuanya ada dia rumah. Seharusnyqbdiabtadi melarang Fadhil ikut turun. Dan menyuruhnya pulang tanoa harus singgah lebih dulu.


"Pacar Mbak Za?" tanya Alya lagi.


"Pacar, pacar… sejak kapan Mbak suka pacaran?" sahut Za sedikit ketus pada istri Bian yang mendadak kepo. Padahal Alya selama ini cenderung pendiam. Sepertinya dia sudah keracunan kecambahnya Bian, makanya jadi ikut-ikutan banyak tanya seperti suaminya.


"Calon suami Mbak Za?"


"Astaga, Alya! Kamu kenapa jadi kepoan, sih?! Dia itu bukan siapa-siapanya Mbak Za."


"Yah….Sayang ganteng-ganteng nggak dipacarin."


Za terbelalak. "Apa kamu bilang? Mbak bilangin Mas Bian ya kalau kamu muji cowok lain."

__ADS_1


"Jangan dong, Mbak. Mas Bian orangnya cemburuan." Wajah Alya mendadak panik. Terlebih melihat Za tergesa-gesa menuju ke depan.


Dalam hati Za tertawa. Selucu itu memang Alya. Terlalu polos sampai mengira Za akan keluar rumah menemui Bian. Karena nyatanya, Za hanya berhenti di ruang tamu dan duduk di belakang jendela. Mana mungkin dia punya nyali untuk menimbrung pembicaraan bapak-bapak. Meski mereka keluarga sendiri, tapi dia sungkan dengan Fadhil.


Alya menjatuhkan diri di samping Za sambil cengar-cengir. Za hanya melorik sekilas lalu dia mengusap layar ponselnya. Ada pesan dari Fatma ynag menanyakan kabarnya. Perhatian sekali calon tantenya. Tuing! Za memukul kepalanya sendiri. Otaknya mulai eror sepertinya.


Tak lama ibu Za muncul dari dakam membawa nampan berisi tiga cangkir kopi.


"Kenapa dibuatin minum sih, Bu. Mas Fadhil cuma mampir. Nanti jadi lama pulangnya kalau harus ngopi dulu," protes Za.


"Memangnya kenapa kalau lama?" sahut ibunya. "Nih, anterin ke depan!"


Namun Za bergeming mendengar perintah ibunya. Hingga Alya yang beranjak untuk mengantar kopi itu. Dan perbandingan itu pun kembali terdengar olehnya. Ibunya mulai memuji menantu perempuannya yang memang anak baik itu. Alya yang cantik, Alya yang baik. Tidak beda dengan Bian tadi pagi. Za mendadak seperti anak angkat sekarang.


"Tentu saja Alya patut dipuji. Dia anak penurut," ujar sang ibu.


Penurut dalam artian Alya mau-mau saja disuruh menikah meski umurnya maish muda. Terang saja, meski tidak pernah pacaran tapi Alya sudah mengenal Bian bahkan mungkin sejak dia balita. Ghani, kakaknya Alya adalah teman baik Bian. Alya tidak perlu meragukan siapa Bian sehingga dia yakin menerima begitu saja pernikahan yang mendadak itu.


Sedang dirinya? siapa Fadhil Za tidak tahu persis. Andaikan sejak awal tahu jika Fadhil keponakan Pak Irsyad, mungkin Za akan mencari tahu lebih banyak tentang pria itu dari Fatma. Tapi semua sudah berlalu, dia terlanjur menolak Fadhil. Apa iya dia harus menarik kata-katanya?


Alya dan ibunya entah ke mana. Za baru tersadar saat suara ayahnya memanggil. Berapa lama dia merenung di ruang tamu?


Za beranjak dari sofa saat ayahnya mengatakan Fadhil jika mau pulang. Mengantar pulang dan berlanjut mengobrol sampai jam sembilan lewat. Ternyata laki-laki tidak ada bedanya dengan wanita. Jika sudah kumpul apalagi ditemani kopi, maka topik pembicaraan akan merembet.


"Besok motornya saya antar," kata Fadhil.


"Nggak usah, Mas. Besok saya ambil sama Mas Bian saja."


"Mas Bian nggak bisa. Besok ada acara sama Alya seharian," sahut Bian yang mendengar pembicaraan mereka. Za pun berdecak kesal. Alya sekarang sudah menjafi prioritas Bian. Bisa apa Za selain mengalah dan mencari pengganti yang bisa menjadikan dirinya sebagai orang yang diprioritaskan.


"Sama Ayah bisa kan, Yah?" bujuk Za pada ayahnya.


"Kamu itu, lha wong Nak Fadhil sudah mau berbaik hati mengantarkan kok malah cari ribet sendiri." Sahutan ayahnya membuat Za mengerucutkan bibir. Terlebih melihat Fadhil mengulum senyum. Sepertinya pria itu sedang berbahagia karena mendapat tambahan supporter, Bian dan Alya tentunya.


"Ya sudah. Terima kasih sebelumnya," sahut Za datar.

__ADS_1


__ADS_2