
"Sejak kapan Mas suka miara burung?" tanya Za saat mereka dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Sejak…masih bayi. Bahkan sejak dalam kandungan."
Dahi Za mendadak berkerut "Sejak dalam kandungan?" Za pun terkekeh. "Burung apaan Mas yang hidup di perut ibunya Mas Fadhil?"
"Burung yang bisa bikin kamu merem melek."
"Hah?!" Za terbelalak. Sontak dia memukul Fadhil dengan bantal leher.
"Random banget, sih! Nggak nyangka, ya. Aku pikir Mas pendiam. Ternyata mesum!"
Fadhil tertawa pelan. "Kan cuma sama kamu."
Za mencebik. "Pokoknya aku nggak mau kalau burungnya nanti dibawa masuk ke dalam rumah," ujarnya tegas.
"Kalau ditaruh diluar nanti hilang loh, Sayang. Kamu nggak rugi kalau burung Mas diambil orang?"
"Aku lagi serius, Mas. Aku nggak suka ada hewan di dalam rumah. Kalau mau punya hewan piaraan bikin kandang sendiri di luar rumah dan harus dibersihkan tiap hari."
"Iya. Nanti Mas bikin kandang. Sekalian bikin taman juga. Besok ada tukang yang mau bikin taman di depan."
Za menghela nafas pelan. Suka-suka suaminya lah. Mereka baru saja mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk membayar rumah dan membeli perabotan untuk mengisinya. Dan sekarang Fadhil mau merombak halaman depan dan dipermak menjadi taman. Entah seperti apa rupanya.
Fadhil memelankan laju kendaraan saat memasuki gang rumah mereka. Kendati sebagian besar rumah itu berpenghuni, aun suasana sangat lengang. Za menyukai lingkungan rumah barunya. Sepi dan warganya yang hanya beberapa orang tidak terlalu ingin dengan urusan orang lain. Meski demikian, mereka tetap bersikap ramah dan menyapa saat bertemu. Jauh sekali dengan lingkungan tempat tinggal orang tua Za. Yang selalu ada saja bahan untuk membicarakan orang lain. Za adalah salah satu korbanmya. Dan karena nyanyian mereka juga akhirnya dia justru dipertemukan dengan Fadhil.
"Mas, ini bukannya mobil Safira?"
Sebuah mobil berwarna putih terparkir di depan rumah. Saat Za turun untuk membuka pintu pagar, pintu mobil Safira terbuka dan gadis itu berlari mendekati Za.
"Tante!"
"Safira! Sudah lama kaku di sini?" tanya Za sambil membuka pintu pagar.
"Lumayan. Tadi pulang kuliah langsung ke sini. Mau nitip barang-barang."
"Barang? Barang apa?"
Za mengajak Safira masuk ke dalam rumah. Melihat wajah keponakannya yang tampak kusut, dia tidak lagi mencecar Safira.
Hingga sampai di dalam rumah, Safira membanting tubuhnya di sofa.
__ADS_1
"Minum dulu, Fir." Za meletakkan jus jeruk instan di depan Safira. "Maaf ya kamu harus nunggu lama di depan. Tadi kenapa nggak telpon Tante atau Om Fadhil?"
"Ketiduran di mobil," sahut Safira dengan enteng.
"Safira cuma mau nitip koper. Nanti pulang kerja aku ambil," lanjutnya.
"Koper apa?"
"Baju, dong. Aku mau cari kost. Tapi belum lihat kamarnya. Nanti pulang kerja kalau nggak kemalaman aku mau lihat kamarnya dulu. Kalau cocok aku langsung tempati. Kalau nggak aku nginap dulu di rumah teman."
"Teman siapa?" Suara Fadhil menggelegar dari depan rumah.
Safira tahu, menginap di rumah teman adalah larangan keras baginya. Kecuali saat ada kegiatan di luar kota. Itu pun harus dipastikan menginap di rumah siapa.
"Gea, Om."
"Ngapain nginep di rumah Gea, di sini masih ada kamar kosong."
Safira membuang nafas kasar. Sementara Za diam saja. Dia baru melihat setegas itu suaminya menjaga pergaulan Safira. Dia pikir Fadhil hanya memanjakan keponakannya. Ternyata tidak demikian.
"Kenapa harus cari tempat kost? Sudah nggak betah tinggal di rumah?"
Safira tak menyahut. Fadhil tentu sudah bisa mengira apa yang terjadi jika dia tinggal satu rumah dengan mamanya.
"Titip dulu Om, Tante. Safira mau berangkat kerja dulu."
Fadhil tidak gagal mendidik Safira.anak itu masih mengerti adab saat berpamitan pada orang tua. Tapi jika dengan mamanya, entah siapa yang salah. Hubungan mereka selayaknya air dan minyak.
"Nanti pulangnya ke sini, ya?" Za menangkup wajah Safira dengan kedua tangannya.
Safira mengangguk. "Makasih, Tan."
Lalu gadis itu pun pergi ke kafe milik Fadhil. Bekerja paruh waktu sepulang kuliah. Hingga kafe tutup jam sepuluh malam.
"Yakin akan mengijinkan Safira tinggal di sini?" tanya Fadhil. Lebih tepatnya meminta persetujuan Za. Karena dia yang awalnya tidak setuju jika keponakannya itu tinggal di tempat kost.
"Daripada dia di kost. Nggak ada yang mengawasi," sahut Za.
Sama halnya Fadhil, Za mengkhawatirkan Safira jika harus tinggal sendirian. Meski tampaknya Safira bisa bertanggung jawab dengan dirinya sendiri, namun tetap saja membuat hati tidak tenang
"Nanti Mas bujuk dia supaya mau kembali ke rumah. Dia dan mamanya nggak boleh terus-terusan seperti itu."
__ADS_1
Za mengangguk setuju. Meski dia tidak tahu betul permasalahan apa yang membuat hubungan ibu dan anak itu renggang.
"Mas mau ke mana?" tanya Za melihat Fadhil ikut beranjak.
"Burungnya masih di mobil."
"Tuh, kan. Jadi ngurusin burung melulu." Za mendengus kesal.
Salah satu hal yang membuat dia tidak menyukai suaminya dengan hobi baru atau bahkan mungkin hobi lamanya. Selain rumah akan bau kotoran hewan, Fadhil tentu akan lebih sering mengabaikannya demi hewan piaraannya itu. Za sudah sering mendengar ibunya Alya mengomel pada Pak Ramli jika sedang berkutat dengan burung-burung piaraannya. Dan dia tidak mau itu terjadi pada Fadhil.
Bunyi kicauan burung dan suara siulan terdengar bergantian. Za menyusul ke depan rumah dan melihat suaminya sedang memancing burung di dalam sangkar itu untuk berkicau.
"Beneran itu cuma dikasih Pak Ramli?" tanya Za. Karena dia masih ingat jika itu burung kesayangan ayahnya Alya yang sempat ingin dijual oleh Bu Ramli karena geram.
"Mas dengar aku ngomong nggak, sih?" cecar Za kesal karena Fadhil mengabaikannya.
"Iya, dengar," sahut Fadhil sambil terus melatih burung agar terus berkicau.
"Terus apa? Dikasih apa beli?"
"Dikasih, Sayang. Kamu kok kayak nggak percaya gitu, sih?"
"Ya karena aku tahu itu burung kesayangan Pak Ramli. Mana mungkin dikasihkan begitu saja."
"Justru itu. Burung ini mau dilepas sama ibunya Alya kalau nggak dijual. Makanya dikasihkan ke Mas. Biar ibunya Alya nggak ribut terus," jelas Fadhil.
"Tuh, kan. Kamu tuh aneh banget deh, Mas. Bu Ramli saja ribut gara-gara ini. Nah, Mas apa? Malah bawa burung itu ke mari. Mau dipindah ke sini ributnya?"
Fadhil menghela nafas panjang. Dia meninggalkan kandang burung itu masuk ke dalam rumah. Jika terus diladeni, keributan tidak mungkin terhindarkan. Za akan terus mengomel.
"Daripada ribut ayo mainan burungnya Mas saja!" ujar Fadhil ketika tahu Za mengikutinya.
Za mendecakkan lidah. Dia membuka lemari pendingin untuk mengambil sayuran yang akan dimasaknya. Namun melihat stok sayuran yang melimpah dia justru membuatnya bingung hendak memasak apa.
"Mas mau makan apa?" tanyanya pada sang suami yang sedang meneguk air putih.
"Bikin pasta saja," sahut Fadhil.
Dan hal itu membuat Za menyerah. Dia tidak bisa membuat saos pasta yang enak seperti buatan Fadhil.
"Sini biar Mas yang masak. Kamu duduk manis saja. Sambil nonton drakor juga boleh."
__ADS_1
Senyum Za melengkung seketika. "Makasih ya, Mas." Sebuah kecupan mendarat di pipi Fadhil.