Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Ajakan Menikah


__ADS_3

Apa-apaan Fadhil ini! Ternyata dia tidak tulus membantu. Jika tahu konsekuensinya seberat ini lebih baik kudorong saja motor yang bannya kempes kemarin. Ongkos tambal ban 20 ribu minta dibalas dengan menikahinya? Untung banget Fadhil. Za menggerutu dalam hati.


"Sama sekali tidak lucu, Mas. Ternyata Mas Fadhil mau bantu saya karena ada pamrihnya? Lebih baik saya ambil sendiri motornya dari pada ujungnya harus nikah sama orang yang tidak dikenal," ujar Za kesal.


Fadhil mengulas senyum tipis. "Jadi itu alasan kamu menolak saya? Karena belum merasa cukup berkenalan dengan saya? Kalau begitu kamu boleh mencari tahu tentang saya lebih banyak dari Mbak Fatma ataupun Om Irsyad. Dua minggu lagi saya akan datang ke sini membawa mahar untuk menikahi kamu." Ucapan Fadhil bukan lagi terdengar sebuah permintaan, tetapi pemaksaan. Mereka belum terikat apa pun. Bahkan Za sudah menolaknya. Namun Fadhil memaksakan kehendak untuk tetap menikahi Za.


Belum juga jadi istri, tapi Fadhil sudah menunjukkan wataknya yang suka mendominasi. Bagaimana jadinya nanti ketika mereka tinggal satu rumah, pasti apa pun harus diatur oleh Fadhil.


Za mendesah pelan. Otaknya makin tidak beres. Kenapa dia justru membayangkan tinggal satu rumah dengan Fadhil?


"Jangan sungkan untuk mengatakan mahar yang kamu inginkan. Saya akan berusaha memenuhinya."


Za mengernyit. Hatinya tercubit mendengar ucapan Fadhil. Yang berkonotasi seolah Za itu perempuan matre. Bukan, Za bukan wanita seperti itu. Meskipun pada akhirnya calon suaminya nanti hanya bisa memberi mahar sesuai kemampuan, Za akan terima dengan lapang dada.


Bermewah-mewah jauh dari gaya hidupnya selama ini. Ayahnya seorang ASN di sebuah instansi pemerintah, ibunya seorang ibu rumah tangga. Za terbiasa hidup sederhana sejak kecil. Meski kedua orang tuanya selalu berusaha membahagiakan Za sebagai anak tunggal, namun tidak berlebihan.


Mungkin benar kata ibunya, Fadhil mengira jika Za perempuan matre karena pertanyaan konyol yang dia ajukan saat Fadhil melamarnya.


"Maaf, Mas. Saya tidak seperti yang Mas Fadhil pikirkan. Apa pun mahar yang akan diberikan sesuai kemampuan saja. Saya akan terima," sahut Za dengan sedikit kesal.


Namun seketika dia menutup mulutnya. Saat Fadhil melempar senyum padanya. Bodoh, bodoh, bodoh! Za mengumpat dirinya sendiri.


"M-maksud saya….saya akan terima apapun mahar yang akan diberikan oleh calon suami saya nantinya sesuai kemampuannya. Saya bukan perempuan matre seperti yang Mas Fadhil pikirkan," ralat Za.


"Saya tidak pernah berpikir kalau Dek Za perempuan matre," sahut Fadhil. "Saya hanya ingin memberikan penghargaan untuk calon istri saya."


"Ooh. Maaf kalau begitu. Saya sudah berburuk sangka."


"Tidak masalah," balas Fadhil sambil melongok jam yang melingkar di lengannya. Beberapa saat dia sibuk dengan ponselnya.


"Saya pulang, ya," ucapnya kemudian. "Dua minggu lagi saya akan datang ke sini," lanjut Fadhil.


"Mas Fadhil tidak bisa semaunya sendiri begitu, dong. Saya kan belum bilang iya." Za panik karena wajah Fadhil terlalu serius.

__ADS_1


"Dek, kalau harus menunggu Dek Za menjawab iya, rambut saya keburu ubanan. Dan Dek Za pasti makin menolak saya."


"Kenapa Mas Fadhil kan bisa cari wanita lain yang memang sudah siap menikah dengan Mas?"


"Saya maunya cuma sama kamu."


Za mendengus kesal. Ternyata Fadhil lebih menyebalkan dari yang dia kira.


"Ojeknya sudah datang. Saya pulang dulu, ya," ujar pria itu sambil beranjak.


Di depan pagar, seorang pengendara motor berjaket hijau sudah menunggu. Za menjadi tidak enak hati melihat Fadhil pulang naik ojek setelah mengantar motornya.


"Mas Fadhil benar mau naik ojek?" tanya Za.


"Iya. Kenapa? Mau antar saya? Tidak usah, cuacanya sangat panas. Nanti kamu gosong," sahut Fadhil lalu dia tersenyum lebar.


Akhirnya Za membiarkan Fadhil pulang naik ojek. Karena dia memang hanya basa-basi bertanya pada Fadhil. Kalau pun tidak naik ojek, tentu saja bukan Za yang akan mengantarkannya. Tetapi Za akan meminta tolong Bian.


Za menatap motornya yang terlihat lebih bersih dari saat dia meninggalkannya di rumah Fatma. Dan apa itu? Za terkejut melihat ban motornya depan belakang masih hitam kelam dan baru. Dia memang belum sempat mengganti ban yang sudah gundul dua-duanya. Bukan hanya gundul saja. Tetapi sudah beberapa kali ditambal. Mungkin sudah rejekinya Za ketemu Fadhil dan justru laki-laki itu yang berinisiatif mengganti ban motornya. Biarlah, toh Za tidak minta.


Terima kasih sudah mengganti ban motor saya.


Pesan itu berkali-kali dibacanya. Lalu dia menekan tombol kirim ke nomor yang belum disimpan ke daftar kontaknya.


Hanya dalam hitungan detik pesan itu dibalas dengan sederet kalimat singkat.


Sama-sama, Dek.


Za meletakkan kembali ponselnya setelah menyimpan nomor kontak Fadhil di daftar kontak ponselnya.


Dalam hati dia salut dengan Fadhil. Meski pria itu menyimpan nomor kontaknya, tetapi Fadhil tidak pernah mengirim pesan atau meneleponnya. Za hanya sekali menerima pesan dari Fadhil. Saat Fadhil menjawab pertanyaan Za seputar gajinya. Dan yang kedua karena Za mengirim pesan lebih dulu. Itu pun hanya jawaban singkat. Mungkin jika pria lain, akan sering mengirim pesan atau menelepon saat mengagumi seorang gadis. Namun tidak demikian dengan Fadhil.


Di dalam kamar, Za mulai merenungi ucapan ibunya, ucapan Bian dan paksaan Fadhil yang akan menikahinya dia minggu lagi. Penolakan Za seolah tak berarti. Entah karena Fadhi yang terlalu gigih memperjuangkan Za atau karena pria itu memang bermuka tebal. Kegalauan itu pun kembali menderanya.

__ADS_1


Bahkan hingga matahari bergulir ke barat, Za hanya berdiam diri di kamar. Tidak ada sesuatu yang dilakukannya. Pikirannya hanya dipenuhi tentang Fadhil dan niat pria itu untuk menikahinya.


"Za!" bunyi ketukan pintu dan suara panggilan membuyarkan semua lamunan Za. Suara ibunya yang sepertinya baru datang. Za pun membuka pintu kamar.


"Kamu sudah makan?"


Za menggeleng. Sejak siang tadi dia bahkan lupa jika perutnya sama sekali belum terisi. Pagi tadi pun hanya sarapan sedikit bubur ayam yang dibelinya dari pedagang keliling. Meski sudah dewasa, Za memang seringkali harus diingatkan tentang jam makan.


"Kamu itu punya penyakit lambung kok sampai lupa makan? Memangnya seharian ini kamu sibuk apa Za?" tanya ibunya sambil menuangkan makanan yang dibawa dari hajatan saudaranya ke dalam piring-piring.


"Nanti kalau sakitmu kambuh kan kamu sendiri yang ngerasain," omel wanita itu pagi.


Sementara Za hanya duduk menghadap makanan-makanan di depannya tanpa berniat untuk mengambil salah satunya. Begitu besar imbas ucapan Fadhil yang menyita pikirannya dan berakhir membuat Za kehilangan selera makan.


"Ayo makan, Za! Ibu nggak mau kamu sakit." Bu Rahma mengambilkan piring. Namun putrinya tak juga mengisinya dengan nasi. Akhirnya dia sendiri yang mengambilkan nasi dan juga pelengkapnya. Za memang masih sesekali disuapi ibunya jika susah makan. Semanja itu putri semata wayangnya. Itu kenapa Bu Rahma berharap Za akan menemukan pasangan hidup yang bisa mengerti Za yang manjanya minta ampun.


"Lha wong tinggal buka mulut lho. Kok malas to, Za!"


"Lagi nggak pingin makan, Bu. Nanti aja lah," sahut Za enggan.


"Nanti,nanti. Keburu sakit perutmu. Ayo buka mulutnya!"


Za justru beranjak dari kursi dan kembali masuk ke dalam kamar.


"Ini anak kenapa, to?" gumam Bu Rahma. Dia pun menyusul Za ke kamar dengan membawa piring yang masih penuh makanan.


Terlihat Za sedang merebahkan diri di atas ranjang mediumnya sambil menerawang ke langit-langit kamar. Kekhawatiran obu Za semakin menjadi.


"Nduk! Kamu kenapa, to? Mikirin apa?" Bu Rahma duduk di tepi ranjang setelah meletakkan piring di meja.


Hembusan nafas Za terdengar berat. "Ibu benar-benar ingin Za segera menikah?" Pertanyaan itu terucap pelan dari bibir Za.


Bu Rahma mengusap pelan rambut putrinya. "Semua orang tua yang memiliki anak sudah dewasa, pasti ingin anaknya segera menikah. Tapi hal itu jangan dijadikan beban sampai kamu harus melalaikan kesehatanmu. Ibu nggak akan memaksa kamu untuk cepat-cepat nikah lagi. Ibu lebih khawatir kalau kamu sakit. Ayo makan dulu."

__ADS_1


Za bahkan tidak percaya jika yang berbicara baru saja adalah ibunya. Karena biasanya ibunya akan membanding-banding Za dengan anak teman atau saudara yang sudah menikah.


__ADS_2