
Za menatap bayi mungil yang ada di dalam gendongan Pak Irsyad. Cantik, rambutnya lebat. Ciri khas dari keluarga suaminya yang berambut lurus dan hitam kelam.
Kehadiran bayi yang diberi nama Aruma itu sepertinya memberi kebahagiaan tak terkira. Dua anak Pak Irsyad yang sudah dewasa semuanya laki-laki. Bayi Aruma tentu akan menyempurnakan kebahagiaan keluarga itu.
Za mendadak berkecil hati, kenapa kebahagiaan yang sama enggan menghampirinya.
"Boleh gendong, Om?" tanya Za yang sejak tadi ingin sekali menimang bayi itu.
"Kasih aja, Pi. Biar diompolin. Siapa tahu cepat nular." Fatma yang terbaring di ranjang menyahut.
Za tanpa canggung mengambil bayi Aruma dari gendongan Pak Irsyad. Meski belum pernah berpengalaman memiliki bayi, namun Za tampak luwes menggendong.
"Udah pantes banget, Za." celetuk Fatma.
Za hanya tersenyum tipis menanggapi. "Doakan ya, Mbak," ujarnya. Tatapannya kemudian mengarah pada Fadhil yang ternyata tengah memperhatikannya.
"Atau kalian mau ikut promil? Om punya teman dokter kandungan berpengalaman. Siapa tahu cocok,' cetus Pak Irsyad.
"Nanti saja, Om. Baru juga 4 bulan kami menikah. Za juga masih muda. Usia produktifnya masih panjang," sahut Fadhil.
Za hanya tersenyum miris. Bahkan dia tidak produktif di usianya yang baru lewat 25 tahun.
"Za memang masih muda. Tapi kamu nggak ingat usiamu?"
Fadhil terkekeh pelan. "Om saja masih bisa punya bayi."
Pak Irsyad menghela nafas pelan. "Terserah kamu lah. Disuruh nikah jawabnya nanti-nanti. Punya anak pun mau nanti-nanti."
Sementara Za, dia tidak ikut menimpali pembicaraan dua laki-laki itu. Dia sibuk menimang bayi Aruma sambil sesekali berbincang dengan Fatma. Rupanya Fatma mengalami pecah ketuban dini. Sehingga bayinya terpaksa harus dilahirkan melalui operasi caesar. Berat badannya sudah cukup meski usianya belum saatnya untuk dilahirkan.
Beberapa saat kemudian bayi itu merengek. Kemudian menangis kencang.
"Aduh, kenapa ini, Mbak?" tanya Za panik. "Yah, basah. Ngompol dia." Za justru tertawa saat merasakan popok kain Aruma basah menembus pakaiannya.
"Wah, beneran diompolin. Bentar lagi punya dedek bayi nih," gurau Fatma. Namun Za tetap saja mengaminkan. Kendati ucapan Fatma terdengar tidak masuk akal. Karena dia memang sangat berharap. Kendati fakta mengatakan jauh dari kemungkinan.
Za meletakkan bayi Aruma ke dalam box. Kemudian mengganti popok yang basah dengan popok bersih setelah membersihkan Aruma dengan tisu basah.
__ADS_1
Harus segera meninggalkan bayi yang memikat hatinya terasa berat bagi Za. Namun hari sudah malam dan Fadhil mengajaknya pulang. Jika boleh, dia ingin membawa serta Aruma untuk pulang bersamanya. Namun bayi itu harus minum ASI dan tentu saja Fatma tidak mengijinkannya.
"Kenapa?" tanya Fadhil karena diam saja selama mereka dalam perjalanan pulang.
"Nggak ada. Cuma nggak rela saja harus pisah sama Aruma. Cantik banget anaknya. Lucu," sahut Za merasa gemas sendiri.
Fadhil menipiskan bibirnya. "Semua bayi memang lucu. Tapi kalau Aruma cantik kan memang sudah dari bibitnya."
"Sedang menyombongkan diri sendiri rupanya?" sindir Za. Karena selain Fatma yang memang cantik, keluarga Fadhil seolah bibit unggul. Saat acara pernikahannya Za bisa melihat bagaimana wajah-wajah keluarga Fadhil yang bahkan menarik perhatian tamu-tamu lain.
"Bukan menyombongkan diri. Hanya bicara apa adanya," sahut Fadhil.
"Iya, iya. Yang paling ganteng sedunia." Pujian Za membuat Fadhil tertawa.
"Mas!" panggil Za tiba-tiba.
"Hmm," sahut Fadhil berdehem.
"Kalau Aruma kita yang rawat boleh nggak, ya?"
"Ya nggak mungkin boleh lah. Om Irsyad itu sudah lama ingin punya anak perempuan. Dulu Safira saja mau dirawat sama dia tapi Mama nggak boleh. Sekarang dia punya anak perempuan pasti bakal disayang. Apalagi kakak-kakaknya sudah dewasa."
"Mas, kalau Mas punya anak maunya laki-laki atau perempuan?"
Fadhil mengernyit. "Kok Mas yang punya anak? Kita, Za," protes Fadhil.
"Iya. Kita maksudnya," ralat Za. Meski pertanyaannya mungkin hanya akan menjadi omong kosong.
"Boleh laki-laki. Perempuan juga nggak masalah," sahut Fadhil pasrah. "Kembar 4 juga boleh. Biar sekalian hamilnya."
Za terbelalak. Permintaan Fadhil nggak kira-kira. Bahkan satu saja belum tentu dikasih.
"Terus kenapa Mas nggak mau ngikutin saran Om Irsyad tadi?" tanya Za lagi. Meski dalam hatinya dia merasa cemas. Jika mereka memeriksakan diri ke dokter, maka akan ketahuan siapa yang bermasalah. Sedang dia belum memiliki cukup nyali untuk mengungkapkan semuanya pada Fadhil.
"Nanti kalau sudah waktunya,' sahut Fadhil dengan santai.
Nanti, yang tidak pasti itu kapan. Bisa cepat, bisa juga lama. Za sedang berusaha mengatur waktu, menyiapkan diri untuk memberitahu Fadhil tentang keadaan dirinya. Dia hanya tidak sanggup jika nantinya Fadhil akan kecewa dan membuangnya.
__ADS_1
"Mau tidur di mobil?" Pertanyaan itu membuat Za terkesiap. Entah sejak kapan mereka sampai di rumah. Yang Za tahu, saat mobil sudah berhenti di dalam garasi. Di depan mereka, tampak Safira juga baru pulang.
Za bergegas turun menyusul Fadhil yang sudah turun terlebih dulu.
"Tumben sudah pulabg, Fir?" tanya Za pada Safira. Karena keponakannya itu akan pulang jam sebelas malam setiap harinya.
"Tadi ijin pulang. Agak pusing kepala," jawab Safira yang memang terlihat lesu.
Za menempelkan punggung tanfannya ke dahi Safira.
"Demam?" tanyanya. "Ayo masuk. Nggak usah mandi malam-malam. Kamu suka sekali mandi air dingin malam-malam."
Za menggandeng tangan Safira masuk ke dalam rumah. Safira bahkan merebahlam dirinya di sofa karena tidak kuat menahan pusing.
"Sudah makan belum?" tanya Za lagi.
"Belum. Tapi udah beli makan," sahut Safira menunjuk tas plastik yang dibawanya.
Za mengambil gelas dan mengisinya dengan kantong teh dan sedikit gula.kemudian menyeduhnya dengan air panas. Kemudian membawanya untuk Safira.
"Minum air hangat dulu!" Za membantu menegakkan punggung Safira. Terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, akhir-akhir ini Za sering mengabaikan Safira. Karena anak itu meski sudah dewasa namun sama seperti dirinya yang sering lalai makan. Apalagi sedang banyak tugas kuliah dan Safira masih nekat untuk bekerja.
"Mulai besok Tante nggak ngijinin kamu kerja. Nanti Tante bilang sama Om Fadhil buat nambah uang jajan kamu kalau masih kurang."
"Nggak kurang, Tan. Safira cuma mau belajar mandiri."
"Dan akhirnya kamu harus sakit seperti ini?"
Safira yang sudah tidak kuat menopang tubuhnya justru memeluk Za seketika. Bahkan isi gelas di tangan Za hampir saja tumpah.
"Thanks, Mom!"
Za tidak tahu harus menjawab apa. Mendengar ucapan lirih Safira dan sesaat kemudian kemejanya ada yang membasahi.
"Fir? Kamu….kenapa?"
Safira menggeleng. "Cuma pingin meluk."
__ADS_1
Za meletakkan gelas ke atas meja. Tangannya terulur membalas pelukan Safira. Dia tahu, Safira selama ini haus kasih sayang seorang ibu. Biarlah dia menggantikan peran itu untuk Safira. Menjadi ibu untuk keponakannya. Za akan memangkas sekat yang mungkin selama ini masih membatasi mereka.