
"Kalian pergi saja, Al biar di rumah sama Tante. Safira juga sebentar lagi pulang," ujar Tante Sarah saat Za dan Fadhil akan pergi.
Entah bujukan seperti apa yang dilakukan Tante Sarah. Hingga Alif menurut dan menolak untuk tidak ikut meski tahu Za sudah berpakaian rapi dengan kerudungnya. Karena biasanya jika Za sudah memakai jilbabnya, makan Alif akan banyak bertanya dan memaksa untuk ikut jika Za akan pergi.
"Tapi nanti kalau rewel gimana?" Za masih ragu hendak berangkat.
"Nggak. Nanti Tante bilangin dia. Sudah, pergi saja. Kalian butuh waktu untuk berdua," sahut Tante Sarah.
Za menjadi tidak enak hati. Mungkin saja pertengkarannya dengan Fadhil tadi sore didengar oleh Tante Sarah. Suaranya tidak terlalu kencang. Namun masih bisa terdengar.
"Ayo! Kita perginya juga nggak lama," timpal Fadhil yang baru saja keluar dari kamar membawa kunci.
Za pun mengangguk. Setelah keraguannya sedikit berkurang. Meski Alif nyaman bersama Tante Sarah, namun dia khawatir jika sampai anak itu tantrum.
Mungkin benar kata Tante Sarah. Mereka butuh waktu untuk berdua. Karena semenjak ada Alif, hampir tidak pernah mereka perg berdua saja.
"Mas, aku kayaknya nggak mau makan bakso lagi," Za mendadak berubah pikiran saat mereka dalam perjalanan dan melihat penjual jagung bakar.
"Terus? Pulang lagi?"
"Aku mau jagung bakar."
"Nggak makan nasi? Pagi tadi nggak makan, siang masih mogok makan, malam nggak makan lagi. Minum susu nggak mau. Anak kita dapat nutrisi dari mana, Sayang?"
"Masih eneg," sahut Za.
Fadhil menepikan mobil setelah mendapat tempat parkir. Dia memesan jagung bakar lalu menunggunya di dalam mobil karena Za enggan turun. Kepalanya mendadak terasa berat dan berdenyut.
__ADS_1
"Pusing?"
Za mengangguk. Menyandarkan punggung dan kepalanya tetap saja tidak terasa nyaman. Pusing dan mual memang seringkali menyertai masa awal kehamilan. Hal yang wajar seperti kata dokter saat mereka berkonsultasi.
Namun jika pusingnya terasa sepanjang hari tentu saja membuat tersiksa. Za kini merasakan beratnya menjadi seorang ibu yang mengandung. Rentetan saat dia seringkali membantah ibunya pun seolah berputar. Menorehkan rasa penyesalan.
Dia menoleh saat merasakan sentuhan di pipinya. Ibu jari Fadhil yang mengusap lelehan cairan bening yang mengalir tanpa disadarinya.
"Kenapa sedih?" tanya Fadhil.
Za mengusap kedua pipinya sembari mengulas senyum. "Nggak. Lagi ingat Ibu. Apa mungkin dulu waktu Ibu mengandung aku seberat ini rasanya."
"Mau ke rumah Ibu?" cetus Fadhil tiba-tiba.
"Besok saja. Habis beli jagung kita pulang saja. Pingin rebahan," sahut Za.
Penjual jagung bakar itu terlihat menghampiri mereka. Fadhil membayarnya lalu menyimpan makanan itu karena Za ingin memakannya di rumah saja.
Sesampainya di rumah, mereka mendapati mobil ayah Za yang terparkir di depan rumah.
"Sepertinya Ayah ke sini," gumam Za.
Dia pun bergegas turun saat mobil berhenti. Ayahnya terlihat sedang mengajak Alif bermain di ruang tengah.
"Kok nggak bilang kalau mau ke sini, Yah?"
"Ibumu ngeyel minta ke sini. Ayah bilang besok saja. Tapi tetap nggak mau," jawab Ayah.
__ADS_1
"Tadi sore ibu masak asem-asem. Tiba-tiba ingat kalau kamu suka asem-asem daging. Makanya Ibu minta antar ke sini. Siapa tahu kamu mau makan," timpal Ibu yang datang dari dapur. Meski sebetulnya dia datang ke rumah itu karena mendapat kabar dari Alya jika mereka bertemu di jalan sore tadi. Ibu terang saja khawatir dengan keadaan putrinya. Namun setelah sampai di rumah Fadhil dan mengetahui jika anak dan menantunya itu sedang keluar, dia merasa sedikit lega.
"Nah, kebetulan. Za dari pagi nggak mau makan." Fadhil mengimbuhi.
"Loh? Kasihan bayimu, Za. Biarpun sedikit-sedikit tetap harus makan. Ibu ambilkan dulu."
Bu Rahma kembali ke dapur untuk mengambilkan makanan. Dia kembali lagi bersama Tante Sarah yang membawa nampan berisi dua cangkir teh.
"Ayo makan dulu!" ujar ibu Za.
"Nggak selera, Bu," sahyt Za sambil menghempaskan diri di sofa.
"Disuapi?"
Za menggeleng.
"Sini ayah yang nyuapi,"
"Iiih! Apaan sih, Yah?!" sahut Za dengan wajah merona. "Nggak mau," ucapnya lagi.
"Kenapa?" tanya Ayah sambil mendekati Za dengan piring di tangannya.
Za melirik Fadhil yang mengulum senyum menatapnya.
"Malu, Yah," jawab Za terus terang.
"Malu sama siapa? Di sini nggak ada orang lain, kok," ujar Sang Ayah.
__ADS_1
"Malu sama Al, tuh!" sahut Za meski akhirnya dia membuka mulut saat ayahnya mengulurkan sendok berisi makanan di depan mulutnya. Dia melempar bantal sofa saat Fadhil cengengesan menggodanya.
"Wah kalah saing nih papinya. Masih diperut saja udah manja sama akungnya," seloroh Safira yang baru datang. Semua yang berada di ruangan itu pun tertawa.