Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Terungkap


__ADS_3

Saat masuk ke halaman rumah dengan motornya, dia melihat mobil Fadhil sudah ada di depan rumah. Ternyata Fadhil pulang lebih cepat dari yang diperkirakan tadi. Za melenggang masuk ke dalam rumah dan melihat suaminya sedang mengambil air minum.


"Mas telpon kamu kok nggak bisa? Handphone-nya mati?" tanya Fadhil melihat Za menyusul ke dapur.


Za merogoh tasnya. Mengambil benda yang terakhir dia pegang tadi saat menunggu Lany. Setelahnya dia tidak mengecek baterai ponselnya.


"Iya, mati," sahut Za. "Mas sudah pulang dari tadi?" tanyanya kemudian.


"Barusan," sahut Fadhil lalu dia meneguk air putih dari dalam gelasnya.


Za mengamati setiap inchi wajah suaminya. Membayangkan semua yang melekat dalam diri suaminya akan terbagi dengan wanita lain. Diri, cinta, perhatian, semua harus dia bagi. Ada rasa tidak rela. Namun mengingat jika dirinya tidak bisa menjadi istri yang sempurna untuk Fadhil, Za merasa harus sadar diri.


Suasana rumah yang selalu hening. Seperti saat ini. Pasti akan terasa lebih hidup saat ada suara tangis bayi, atau celotehan anak kecil. Enam bulan mungkin waktu yang belum lama. Tetapi Za sudah terlalu frustasi. Setiap hari dia selalu dibayangi rasa takut. Jika Fadhil pada akhirnya akan menduakannya setelah tahu kenyataan yang dialaminya. Itu kenapa dia mencarikan wanita sebelum Fadhil diam-diam mencari sendiri wanita yang bisa melahirkan anak-anaknya.


"Kenapa memandang Mas seperti itu, Za?"


Za terkesiap. "Eh! Nggak. Mas ganteng banget hari ini," jawab Za asal sambil kembali menyambar tasnya yang tergeletak di meja makan. Lalu melenggang naik ke ke kamar.


Fadhil mengekor Za dan masuk ke dalam kamar saat istrinya itu tengah membuka penutup kepala. Tangannya melingkar di pinggang tiba-tiba membuat Za berjengit.

__ADS_1


"Ngagetin, Mas!" ujar Za.


Fadhil terkekeh. Dia memeluk Za dan menyandarkan dagunya di bahu istrinya. Perlakuan yang membuat Za kembali diselimuti rasa memiliki dan tak rela berbagi. Namun segera ditepisnya. Keputusannya adalah hal yang sudah dipikirkan sekian lama. Yang dia bawa dalam setiap menengadahkan tangan setelah sujudnya.


"Mas!" panggil Za sembari memutar tubuh sehingga kini mereka berdiri berhadapan.


"Hmm?"


"Aku ingin minta sesuatu, boleh?"


"Boleh."


"Selagi dalam batas kemampuan Mas. Memangnya kamu mau minta apa?" tanya Fadhil karena selama ini Za tidak pernah meminta barang-barang apa pun darinya.


"Aku….minta madu."


Fadhil kembali terkekeh. "Kenapa harus minta? Ambil saja di lemari. Itu kan juga kamu yang beli," sahut Fadhil.


Za masih memasang wajah serius meski Fadhil menertawakannya. "Bukan madu itu, Mas. Tapi…adik madu yang dinikahi oleh Mas."

__ADS_1


Wajah Fadhil mendadak kaku. Dia menunduk menatap lekat manik mata Za. Ada raut tidak suka yang sedang dicoba untuk disembunyikan. "Jangan meminta hal yang tidak bisa Mas berikan, Za," sahutnya dingin.


"Saya ingin. Saya ingin rumah ini diwarnai tawa dan tangis anak-anak. Bukan rumah yang terasa sunyi setiap hari seperti yang selama ini terjadi," balas Za.


"Jika sudah waktunya, semua akan terwujud. Tapi bukan anak-anakku dengan wanita lain. Mas hanya ingin kamu lah yang menjadi ibu dari anak-anakku."


Mata Za berkaca-kaca. Merasa tersanjung karena ucapan Fadhil, dan juga rasa nelangsa karena ucapan itu mungkin tidak akan pernah terwujud.


"Kita sudah menikah lebih dari enam bulan. Dan aku belum juga bisa memenuhi keinginan Mas Fadhil. Aku….sudah memutuskan ini sejak lama. Aku juga sudah mencarikan calon istri untuk Mas Fadhil," ucap Za sembari menahan kaca dimatanya agar tidak pecah.


Reaksi Fadhil membuat Za mendadak ciut. Lelaki itu melepaskan pelukan Za dengan kasar. Matanya menatap tajam dan membuat Za menunduk ketakutan. Tak pernah dia melihat suaminya bersikap menakutkan seperti itu.


"Apa-apaan kamu, Za?!" Suara yang terdengar lantang itu semakin membuat Za mengkerut.


Fadhil berjalan menuju ke lemari pakaian mereka. Membuka penyimpan baju itu dan mengambil sesuatu yang terselip di antara lipatan bajunya.


"Mas temukan ini di tasmu!" ucapnya menunjukkan amplop yang selama ini Za cari. "Ini kan yang membuat kamu meminta hal gila seperti tadi? Bisa ya kamu menyembunyikan ini semua dari suami dan memutuskan segala sesuatunya sendiri? Kamu anggap apa aku ini, Za? Aku sama sekali nggak ngerti jalan pikiran kamu!"


Za tertegun. Lidah mendadak kelu. Dia tak mengira Fadhil akan semarah itu. Titik bening pun meluncur di kedua pipinya. Saat mendengar suara bantingan pintu yang mengiring keluarnya Fadhil dari dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2