
"Siapa, Mas? Safira?" tanya Za saat dia keluar dari kamar mandi.
"Bukan. Mamanya," sahut Fadhil.
Entah kenapa mendadak Za tidak suka jika ternyata mamanya Safira yang mengetuk pintu kamar mereka.
"Ada apa? Penting?"
"Nggak. Cuma nanya kenapa Safira belum pulang."
Alasan yang tidak masuk akal. Bukankah hal itu bisa ditanyakan langsung pada Safira melalui pesan atau telepon. Safira ternyata lebih punya etika daripada mamanya.
Za beristighfar dalam hati. Mencoba mengenyahkan prasangka buruk tentang mamanya Safira.
Selepas sholat maghrib, Za turun untuk memasak. Meski baru beberapa menu sederhana, dia sudah bisa membuatnya. Karena Fadhil yang mengajarinya memasak.
Namun saat tiba di lantai satu, aroma masakan menguar memenuhi ruangan. Wangi, seperti bau masakan dengan kecap.
Za melangkah ke dapur ingin tahu siapa yang tengah memasak. Rupanya seorang wanita berambut panjang yang dijepit asal. Tetapi pakaian yang dikenakannya membuat Za menghela nafas panjang. Hot pants dan kaos yang begitu ketat memperlihatkan lekuk tubuhnya.
"Hai! Kamu istrinya Fadhil?"
Za terkesiap. Lalu melengkungkan bibirmya kaku. "Iya," jawabnya.
"Saya Lany, mamanya Safira," ujarnya memperkenalkan diri.
"Saya Za," balas Za datar.
Keinginannya memasak pun sirna. Terlebih melihat capcay sayur yang sudah siap di meja dapur dan juga ayam kecap di atas kompor yang sedang dites rasa oleh Lany.
"Bisa bantu saya menyiapkan ini di meja?"
Za seperti robot yang dikendalikan dengan remot. Memindahkan mangkok kaca berisi capcay itu ke meja makan. Kemudian Lany menyusulnya membawa ayam kecap.
"Fadhil mana?"
"Ada di atas," sahut Za.
Dan lelaki yang ditanyakan Lany tengah menapaki anak tangga. Wajahnya masih terlihat lebih segar karena rambutnya yang basah.
"Makan, Dhil! Aku udah masak nih favorit kamu." Ucapan Lany terang saja menohok Za.
__ADS_1
Lany notabene adalah kakak ipar Fadhil. Namun seolah begitu dekat dan hafal makanan kesukaan Fadhil. Za tidak tahu bagaimana hubungan keluarga itu dulunya.
Ajakan makan Lany hanya dijawab singkat oleh Fadhil. Lalu pria itu menarik salah satu kursi. Tanpa banyak bicara Fadhil mengambil nasi dan piring yang diulurkan oleh Lany. Keberadaan Za seolah tak berarti di ruang makan itu.
Dan suara Safira yang baru datang mengaihkan perhatian Za akan sikap Lany pada Fadhil.
"Aku beli sate. Tante belum masak, kan?" ujarnya. "Eh, Mama? Kapan datang?" tanya Safira begitu menyadari ada orang lain di rumah itu.
"Tadi. Kamu dari mana saja jam segini baru pulang?"
"Kuliah sore, Ma." jawab Safira tak acuh sambil meletakkan bungkusan plastik hitam di meja makan. Lalu gadis itu masuk ke dalam kamar.
Semua hening. Hanya Fadhil yang tidak peduli dengan situasi itu. Karena baginya sudah biasa melihat ibu dan anak itu bersitegang setiap kali bertemu. Safira yang merasa tidak diperhatikan oleh ibunya karena kesibukannya bekerja. Namun nyatanya semua kebutuhan Safira sudah ditanggung oleh Fadhil. Selain bekerja dan mendapatkan gaji sendiri, Lany juga mendapatkan dana pensiun janda setiap bulannya.
Sementara Za, dia tidak tahu harus berbuat apa. Melihat masakan Lany pun tidak berselera. Za heran saja dengan Fadhil yang makan dengan santainya hingga isi piringnya habis.
Tak lama kemudian Safira keluar dan sudah berganti baju. Dia mengambil bungkusan sate yang dibelinya dan memindahkan ke dalam piring.
"Mama masak, Safira. Kamu sama sekali tidak menghargai Mama?!" hardik Lany.
"Safira nggak minta," jawab Safira ketus.
Gadis itu menuju ke sofa ruang keluarga. Dan menikmati makanan yang dibelinya sambil menonton drama.
"Makan, Tan. Jangan bengong terus!" sarkas Safira mengingatkan Za yang masih diam.
Za meninggalkan meja makan. Sate yang dibeli Safira lebih menggodanya. Lagi pula Safira membeli terlalu banyak dan tidak mungkin dihabiskan sendiri. Tentang masakan Lany, masa bodoh. Za sama sekali tidak berminat. Bukan pada masakannya, tapi pada sikap Lany yang seolah tidak menganggapnya.
Bukan apa, meski mereka sama-sama menantu di rumah, namun suami Lany sudah meninggal. Dan lagi pula kenapa harus dia yang melayani Fadhil.
Fadhil juga, kenapa dia justru menerima pelayanan Lany. Padahal di sampingnya. Menyebalkan.
"Kamu beli banyak sekali, Fir?"
"Kan tadinya mau buat bertiga. Tahu tuh Om Fadhil biasanya doyan banget sama sate. Tumben diem aja dia," sahut Safira sambil mengunyah sate.
Bruk! Sofa di samping Safira berguncang saat tubuh Fadhil menambah beban.
"Mau, dong!" Fadhil mengambil satu tusuk sate ayam lalu melahapnya. Meski sudah makan, sepuluh tusuk satu ternyata masih masuk ke perutnya. Za sampai heran melihat Fadhil yang seolah tidak punya rasa kenyang.
"Tebakan ya, berapa bulan lagi perut Om Fadhil bakalan menggendut?" ujar Safira sambil tertawa.
__ADS_1
"Enak aja. Nggak bakalan!" sahut Fadhil tak terima.
"Benar, ya. Kalau ternyata tiga bulan lagi menggendut, Om Fadhil harus nambah uang jajan Fira. Gimana? Berani terima tantangan?"
Fadhil menghela nafas pelan lalu meletakkan tusuk sate yang baru diambilnya. Safira pun tertawa.
"Udah makan aja sih, Mas. Gendut juga nggak papa." Za menimpali.
"Benar?"
"Iya, Mas. Gendut juga nggak papa."
"Bilang aja Tante khawatir banyak yang naksir Om Fadhil. Kalau gendut kan jadi nggak ada yang ngelirik." sela Safira.
Ucapan Safira sangat benar. Wajah dan penampilan suaminya sangat rentan untuk dilirik perempuan lain.
"Cie, yang nggak rela suaminya dilirik cewek lain!" goda Safira lagi.
Jika di rumah ada Alya yang akan menggodanya, di rumah Fadhil Za justru dipertemukan dengan Safira yang lebih heboh dari Alya. Meski kesan pertama bertemu Safira Za merasa kesal dengan sikap tak acuh keponakan suaminya itu, namun ternyata Safira sosok yang menyenangkan. Hanya wajahnya saja yang terkesan jutek.
"Om, Safira mau kerja part time, ya," ungkap Safira membuat Fadhil yang hendak menggigit daging ayam urung.
"Yakin bisa bagi waktu?" sahut Fadhil.
"Fokus kuliah saja, Om Fadhil juga masih sanggup biayain kamu." Lany yang sejak tadi diam di meja makan tiba-tiba ikut bersuara.
"Apa sih, Ma? Fira kan juga mau ngerasain punya penghasilan sendiri."
"Nanti kuliahmu bisa kacau, Safira. Anak manja sepertimu mana bisa bagi waktu antara kuliah dan kerja."
"Bodo amat apa kata Mama. Mama memang selalu ngeremehin aku. Kenapa nggak sejak dalam perut aja aku dimatiin." Safira beranjak dari sofa lalu masuk ke dalam kamar. Suara bantingan pintu pun terdengar.
Za terperanjat dengan ucapan dan sikap Safira pada mamanya. Di tengah pikirannya yang berkecamuk, Za membereskan sisa makanan yang ada di meja. Lalu menyimpannya di dapur karena sebagian belum termakan.
Terdengar suara Fadhil yang bercakap-cakap dengan Lany.
"Biarkan saja Lan. Safira pasti sudah memikirkan resikonya. Apa susahnya sih memberi kesempatan pada dia. Kamu terlalu skeptis dengan Safira. Jangan salahkan dia kalau sering membantahmu."
Lany membuang nafas pelan. "Terserah kamu saja. Sejak dulu kamu selalu saja belain dia. Jadi manja kan anaknya," sahut Lany menyerah.
Ucapan keduanya entah kenapa terasa aneh di telinga Za. Dari nada bicara dan bahasanya, menunjukkan hubungan mereka terlalu rapat. Bahkan lebih mirip dua orang tua yang tengah berdebat tentang masalah anak.
__ADS_1