
Sejak beberapa hari ini, hubungan Za dan ibunya tidak sehangat sebelumnya. Tepatnya setelah pernikahan Bian dan Alya. Ibu Za sampai jarang keluar rumah sekalipun untuk berangkat pengajian yang biasanya menjadi kegiatan rutin. Arisan pun menitip pada ibunya Alya.
Za menjadi semakin merasa bersalah. Apa mungkin dia dianggap anak durhaka hanya karena belum bisa memenuhi keinginan ibunya? Rasanya terlalu berlebihan. Usia 25 tahun belum terlalu tua meski statusnya belum menikah.
Za mendesah kasar. Dia memasukkan ponselnya ke dalam tas. Rumah seolah menjadi tempat yang tidak membuat nyaman lagi baginya. Dia pun pamit kepada ayahnya yang tengah sibuk dengan gawainya di depan TV.
"Mau ke mana, Za?" tanya ayahnya. Karena ayah Za tahu jika hari ini Za libur mengajar les.
"Ke rumah teman, Yah," jawab Za. Entah teman yang mana. Karena dia belum mempunyai tujuan ke mana dia akan menghabiskan waktu sore ini.
"Pulangnya jangan kemalaman," pesan ayahnya saat Za mengambil helm.
"Ya, Yah."
Za pun mengeluarkan motor matic putihnya. Kendaraan satu-satunya yang dibelikan ayahnya saat dia kuliah semester akhiir.
Di depan rumah Alya, dia berpapasan dengan Bian yang sedang mencuci motor.
"Duh,mantu kesayangan rajin amat nyuci motor mertua," goda Za setelah dia menghentikan motornya di depan rumah Alya.
Bian melebarkan tersenyum sambil terus mengguyur motor yang sedang dicucinya. "Mau ke mana, Za?" tanyanya kemudian.
"Jalan lah, Mas. Bosan di rumah," sahut Za setelah menghela nafas pelan.
"Tumben. Biasanya betah di rumah," jawab Bian tanpa menghentikan pekerjaannya.
"Gara-gara kamu, Mas."
Kali ini Bian mematikan kran air. "Kok gara-gara aku. Emang Ma Bian ngapain?"
"Gara-gara Mas Bian nikahin Alya. Aku jadi kena batunya. Ibu minta aku cepat-cepat nikah," jawab za dengan kesal.
__ADS_1
"Ya udah, sih. Nikah aja. Umurmu juga udah 25. Mau nunggu apa lagi. Masa kalah sama Alya."
Za mendengus kesal. Meski tahu Bian sedang bergurau. Namun kali ini Za sedang sensitif jika disinggung masalah pernikahan. Apalagi dibanding-bandingkan. Seolah pernikahan adalah sebuah perlombaan.
Za tak menyahut ucapan Bian. Dia menghidupkan kembali mesin motornya kemudian melaju dengan kencang tanpa pamit. Hatinya terlanjur dongkol oleh ucapan laki-laki yang selama ini selalu menjadi tempat curhatnya.
Ditengah perjalanan Za mengalami kebuntuan. Dia tidak tahu hendak ke mana. Mau ke mall, ke kafe, bukan tempat yang menyenangkan jika hanya dikunjungi sendirian. Begini kah nasibnya seorang jomblo? Za menggerutu dalam hati.
Rumah Fatma mendadak melintas di pikirannya. Tak lebih dari dua kilometer lagi, dia akan melewati rumah Pak Irsyad. Za sempat ragu. Bertamu tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Apalagi Fatma sudah menikah dengan Pak Irsyad rasanya segan untuk membelokkan arah kendaraannya. Namun Za hanya berharap, Fatma sedang di rumah sendirian.
Za tiba di rumah berlantai dua dengan pagar besi yang setinggi dua meter. Halaman rumah itu cukup luas untuk ukuran rumah di perkotaan. Dari luar terlihat suasana depan rumah. Sepi, karena rumah besar itu hanya dihuni dua orang. Anak-anak Pak Irsyad semua kuliah di luar kota.
Za mengetuk pintu pagar besi itu. Cukup lama menunggu, keluar lah laki-laki berbadan tinggi tegap dari dalam rumah. Za tentu saja merasa canggung saat melihat Pak Irsyad yang akan membukakan pintu. Ingin kabur tapi Pak Irsyad sudah terlanjur melihatnya.
"Bu Za? Silakan masuk!" Rasanya sungkan ketika Pak Irsyad memanggilnya Bu. Berasa umur Za sudah setua itu. Mungkin Pak Irsyad terbawa suasana di sekolah yang memanggil semua guru dengan sebutan Bapak atau Ibu.
"Terima kasih, Pak. Mbak Fatma…eh Bu Fatma ada, Pak?" sahut Za saking gugupnya. Ini kunjungan pertama Za ke rumah itu.
"Ada. Ayo langsung masuk saja."
"Mi, ada temannya, nih!"
Fatma yang dipanggil namun Za yang justru melted mendengar suara lPak Irsyad memanggil istrinya. Pantas saja Fatma menyukai Pak Irsyad meski usianya kelipatan dari usianya.
"Siapa, Pi?" suara wanita menyahut dari dalam rumah. Lalu muncul pemilik suara itu di ruang tamu. Za sepertinya salah berkunjung ke rumah Fatma. Karena dia justru disuguhi keromantisan suami istri itu meski hanya dengan sebutan yang membuat jiwa jomblonya semakin meronta.
"Za? MasyaAllah!" Fatma menghampiri Za dengan histeris karena kedatangan Za seperti sebuah kejutan.
"Ngobrol di belakang aja, yuk! Biar makin seru. Mbak lagi bikin rujakan"
Fatma menarik Za menerobos masuk ke dalam rumah. Sekilas dia melihat isi rumah Pak Irsyad yang membuatnya kagum. Mewah untuk ukuran Za yang selama ini menghuni perumahan sederhana meski rumahnya tergolong cukup luas karena ayahnya membeli dua unit dan direnovasi sehingga lebih nyaman untuk ditinggali.
__ADS_1
Di belakang rumah masih ada taman yang terdapat gazebo dari bambu. Benar-benar nyaman.
"Sore-sore rujakan, Mbak?" tanya Za penuh curiga. "Jangan-jangan…"
Fatma menyungging senyum bahagia. "Doain ya, Za," sahutnya menjawab rasa penasaran Za.
Za pun mengucapkan selamat atas hadirnya calon buah hati Fatma. Beberapa hari ini Fatma memang terlihat lesu dan pucat. Rupanya sedang ada janin yang tumbuh di perutnya.
Fatma mengiris buah mangga mengkal yang baru saja dikupasnya. Satu cobek sambal belum sepenuhnya halus. Za pun meraih ulekan dan menggilas gula merah sampai benar-benar *****.
"Aku ganggu ya, Mbak?" tanya Za merasa tidak enak dengan kehadirannya yang mendadak.
"Sama sekali nggak, Za. Mbak malah senang kamu akhirnya mau main ke sini," sahut Fatma.
"Tapi ngomong-ngomong, angin apa yang membawamu datang ke sini, Za?" Fatma bertanya balik. Karena dia tahu, Za tidak mungkin datang ke rumahnya jika tidak ada kepentingan.
"Boring aja di rumah, Mbak. Sekalian malam mingguan," jawab Za asal. "Tapi beneran nggak ganggu mkh, Mbak. Mana tahu Mbak Fatma ada rencana mau pergi sama Pak Irsyad."
"Nggak. Lagi malas ke mana-mana," balas Fatma membuat Za sedikit tenang.
Keduanya makan rujak sambil menikmati sore hari. Bercengkerama ke sana ke mari tentang apa saja. Mulai dari pekerjaan dan berakhir pada Fatma yang menanyakan tentang perkembangan perjodohan Za oleh orang tuanya.
"Nggak lah, Mbak. Aku masih belum yakin sama dia. Akhirnya ya…aku tolak."
Fatma mengangguk pelan. Urusan hati memang tidak bisa dipaksakan. "Sayang sekali, Za. Kemarin aku sempat mau ngenalin kamu sama keponakannya Pak Irsyad. Tapi ternyata dia sedang proses sama seseorang."
Za diam-diam menelan kecewa. Dai datang ke rumah Fatma karena ingin menerima saran dari temannya itu. Tapi mungkin memang belum.jodohnya. Za harus kembali memasrahkan diri, karena jodoh Tuhan yang mengaturnya.
"Coba nanti Mbak tanya dulu. Jadi apa nggak," ujar Fatma
Namun Za tidak menyahut. Dia tidak ingin Fatma mengira jika dia berharap bisa berkenalan dengan keponakan Pak Irsyad.
__ADS_1
"Nah, itu dia orangnya!"
Za mengikuti tatapan Fatma yang mengarah ke rumah. Seorang pria yang melintas di teras belakang rumah itu membuat Za terperangah.