Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Telat


__ADS_3

"Mas, aku telat."


Seketika Fadhil melempar ponsel di tangannya. Wajahnya berbinar menatap Za yang berjalan mendekat ke arahnya.


"Serius, Za?"


Za tersenyum mengangguk. Meski siklus menstruasinya memang tidak teratur, namun kali ini dia dengan percaya diri mengatakan hal itu pada Fadhil. Karena testpack yang disembunyikan di tangannya yang menunjukkan dua garis dengan nyata.


"Ini!" sahutnya seraya memberikan stik itu.


Fadhil mengambilnya. Menatap benda itu tanpa bisa berkata-kata. Lima tahun mungkin bagi sebagian pasangan bukan waktu yang lama. Tapi baginya yang sudah berusia pertengahan lima puluhan tentu hal itu seperti sebuah keajaiban. Setelah memutuskan untuk menuruti keinginan Za, akhirnya apa yang didambakannya selama ini akan terwujud. Ada janin di dalam rahim istrinya. Pria itu tak berhenti mengucap syukur dengan kejutan pagi ini.


Za yang melihat suaminya begitu bahagia pun tidak mampu menyembunyikan rasa harunya. Mungkin kali ini lah dia bisa melihat Fadhil benar-benar bahagia. Bahkan tanpa disadari jika pipinya telah basah. Za mengusapnya perlahan.


"Mas terlalu bahagia, Za," ucap Fadhil dengan senyum lebar.


Ada kelegaan dalam hati Za. Karena selama bertahun-tahun dia merasa tertuntut untuk bisa memberikan seorang anak. Meski tidak ada seorang pun yang menuntutnya. Namun dia tahu jika Fadhil tidak berhenti berharap agar dia bisa hamil.


Serangkaian rencana pun disusun oleh Fadhil. Mulai larangan ini itu untuk menjaga kandungannya, bahkan rencana Fadhil untuk pindah ke kamar bawah. Karena tidak ingin Za naik turun tangga yang pasti akan beresiko pada kehamilan istrinya.


"Jangan terlalu protektif, Mas. Nanti aku jadi manja."


"Kamu memang sudah manja dari sananya, Za. Setelah menunggu bertahun-tahun Mas tentu harus melindunginya. Karena tahu bagaimana susahnya untuk bisa mendapatkannya. Seperti waktu akan mendapatkan kamu yang licinnya kayak belut."


Za menahan tawa mendengar ucapan Fadhil. Mengingat bagaimana dulu dia menolak lamaran suaminya itu. Tetapi namanya jodoh, sejauh apa pun menghindar pasti akan dipertemukan.

__ADS_1


"Aku mau bikin sarapan dulu." Za berusaha melepaskan diri dari dekapan Fadhil.


Meski hari ini semua libur, namun dia tetap harus membuat sarapan. Alif sedikit pilih-pilih makanan. Sehingga Za harus membuatnya setiap hari sesuai selera anak itu.


"Nanti saja," Fadhil mengeratkan pelukannya.


"Al keburu bangun. Nanti dia nyariin aku, Mas."


Karena kebiasaan anak itu, setiap kali bangun tidur pasti akan mencari Za di dapur. Meminta dibuatkan susu atau minta camilan. Jika sedang enggan, maka hanya minta dipeluk saja.


"Mulai sekarang kurangi aktivitasmu. Banyak orang yang bisa masak di rumah ini. Mas, Safira, Tante Sarah juga jago masak. Kamu nggak harus repot-repot turun ke dapur. Tugasmu mulai sekarang hanya menjaga dia. Selebihnya biar dikerjakan orang lain."


Za membuang nafas pelan. "Mas nggak tahu bagaimana membosankannya seharian hanya berdiam diri tanpa melakukan satu pekerjaan pun?" jawab Za karena tidak suka jika Fadhil terlalu membatasinya.


Bahkan saat akan turun ke bawah pun sampai memaksa harus digendong. Sedangkan penghuni rumah itu semua sudah bangun kecuali Alif. Za sampai harus menutup mata karena ada Tante Sarah yang baru saja keluar dari kamarnya. Bukan hanya Tante Sarah, namun juga Safira yang sedang sibuk mengaduk minuman yang dibawanya.


Fadhil menurunkan Za di ujung tangga sembari terkekeh.


"Roman-romannya lagi pada bahagia. Ada apa, nih?" tanya Safira kemudian.


"Iya, dong." jawab Fadhil dengan percaya diri. "Sebentar lagi kamu akan punya adik lagi."


Mulut Safira menyemburkan minuman coklat yang baru saja diseruputnya. "Yang benar?" tanya Safira memastikan.


Gadis itu meletakkan cangkirnya di meja lalu menghampiri Za. "Beneran, Mi?" tanyanya lagi sambil mengusap perut Za.

__ADS_1


Za mengangguk dengan senyum merekah.


"Alhamdulillah. Akhirnya setelah setua ini bisa punya adik lagi."


"Harusnya kamu sudah punya anak, bukan punya adik, timpal Tante Sarah yang ikut-ikutan mendekati Za. Ternyata tidak hanya Fadhil. Semua yang ada di rumah itu menyambut bahagia kehamilan Za.


Safira mengerucutkan bibirnya. Tante Sarah sama seperti ibu-ibu lainnya yang akan gelisah saat melihat anak gadis seusia Safira masih betah menyendiri.


"Baiklah. Pagi ini bumil duduk manis saja. Biar Safira yang masak. Mami mau dimasakin apa?" Safira membimbing Za untuk duduk di sofa.


"Tante saja yang masak. Kamu suka nasi goreng kan, Za?" Tante Sarah tidak mau masak.


Sibuk berdebat, dari arah dapur terdengar suara aktivitas seseorang di dapur. Termyata Fadhil sudah lebih dulu turun ke dapur tanpa mereka sadari.


"Yah, sudah keduluan bapaknya," celetuk Safira. Dia pun akhirnya duduk lagi menikmati coklat hangat yang tadi dibuatnya.


Za kembali terharu saat Tante Sarah duduk di sampingnya sambil mengusap perutnya. Meski wanita itu sudah pulih, namun Za menahannya agar tinggal di rumah itu saat Tante Sarah ingin pulang ke rumahnya.


"Dijaga baik-baik, ya?" pesannya. .Za pun mengangguk.


"Al biar Tante yang urus dia. Biar kamu nggak capek."


Rasanya tidak tega jika harus membiarkan wanita itu mengurus Alif meski anak itu adalah cucunya. Kendati tenaganya masih kuat dan Tante Sarah terlihat bugar tidak seperti wanita berusia 60 tahun kebanyakan.


Namun karena ingin menunjukkan rasa sayangnya pada Za, Za pun menganggukkan kepalanya kembali. Dia ingin menghargai Tante Sarah. Karena menolak pasti akan menyinggung perasaannya yang kadang sangat sensitif.

__ADS_1


"Hari ini Al pakai seragam apa? Biar Tante siapkan," ujar Tante Sarah sambil beranjak hendak naik ke kamar Alif.


"Ini hari minggu, Oma. Al nggak libur sekolahnya." Safira menimpali. Dan membuat Tante Sarah tertawa.


__ADS_2