
Za berharap-harap cemas menunggu stik yang dia celupkan dalam cairan bening. Beberapa detik kemudian dia mengangkat alat penguji kehamilan itu. Ini adalah tes kesekian kalinya. Namun usahanya belum juga membuahkan hasil. Za keluar dari kamar kecil itu dengan wajah yang tidak mampu menyembunyikan rasa kecewanya. Dia bahkan tidak tega melihat senyum di wajah Fadhil. Za tahu, Fadhil berharap kali ini ada dua garis yang muncul. Senyum itu pasti akan berubah kecewa.
Za meremas stik ditangannya. Ingin rasanya dia membuang benda itu agar Fadhil tidak melihatnya. Namun tangan suaminya itu sudah menengadah memintanya. Dengan terpaksa Za meletakkan alat tes kehamilan itu di tangan Fadhil.
"Maaf," ucap Za lirih.
"Nggak apa-apa. Nanti kita coba lagi."
Jawaban Fadhil yang selalu seperti itu justru membuat Za merasa bersalah. Nggak apa-apa, meski diucapkan dengan senyum namun Za dapat menangkap kekecewaan di wajah suaminya.
"Apa tidak sebaiknya kita periksa ke dokter?" Pikiran itu tercetus begitu saja. Tiga bulan jika kondisi mereka sehat kemungkinan bisa terjadi pembuahan. Fadhil cukup jeli menghitung masa subur Za setiap bulannya.
"Untuk apa?"
"Kita harus konsultasikan masalah ini dengan dokter. Aku juga mau cek kondisi kita masing-masing."
Namun Fadhil menggeleng. Dan hal itu tentu saja membuat Za heran. Apa salahnya berkonsultasi dengan dokter. Bukankah di sini keinginan Fadhil yang lebih menggebu meski Za tak memungkiri jika dia pun ingin segera menimang bayi.
"Kenapa?" tanya Za karena penolakan Fadhil.
"Mas sangat percaya, jika memang sudah waktunya kita pasti akan dititipi."
"Tapi kan ke dokter juga salah satu bentuk ikhtiar kita. Allah pasti akan melihat seberapa usaha kita untuk mendapatkan keturunan."
"Benar. Tapi Mas nggak mau jika ternyata salah satu dari kita nantinya ada yang memiliki masalah, hal itu bisa saja akan menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Jadi biarkan semua seperti ini. Mengalir apa adanya. Kalau pun Allah tidak berkehendak untuk menitipkan anak pada kita, Mas tetap minta kamu untuk menemani menghabiskan sisa usia. Mau, 'kan?"
Za mengangguk meski hatinya masih gamang. Bukan karena permintaan Fadhil, karena Za memang ingin menikah sekali seumur hidup. Namun penolakan Fadhil untuk memeriksakan diri ke dokter yang membuat Za masih heran.
"Mulai sekarang nggak usah cek-cek pakai beginian lagi. Kita akan periksa jika kamu menunjukkan tanda-tanda hamil." Fadhil mencampakkan stik itu ke tempat sampah.
__ADS_1
Dengan perasaan yang tidak pasti, Za turun ke dapur untuk membuat sarapan. Kemampuan memasaknya sudah ternilai 7 oleh Fadhil. Cukup lumayan karena terkadang masih belum pas menaburkan garam.
Za membuka lemari pendingin untuk mengambil bahan masakan. Di saat suasana hatinya yang tidak terlalu baik, Za pun kehilangan selera makan. Dia mengambil ikan asin yang dibelinya beberapa waktu lalu saat belanja sayur, cabe hijau dan tomat hijau.
Aroma ikan asin yang digoreng memenuhi seluruh penjuru rumah. Bahkan sampai ke kamarnya di lantai dua.
"Baunya sampai ke belakang, Mbak," celetuk Mbak Min yang baru saja menjemur baju.
"Lagi males masak, Mbak Min. Masak ikan asin aja," sahut Za sambil memotong cabe.
Sudah sebulan ini Za dan Fadhil kembali ke rumah utama. Setelah Lany menyerah dan keluar dari rumah itu. Ternyata wanita itu terlalu pelit untuk menggaji ART dan tukang kebun. Juga tagihan listrik dan air yang sengaja tidak dibayar oleh Fadhil.
"Kalau malas tinggal bilang saya, Mbak. Saya juga bisa masak. Dulu sebelum kerja di sini saya kerja di restoran, bantu-bantu koki."
"Oh ya? Berarti Mbak Min pintar masak, dong?"
"Ya nggak pintar cuma bisa. Saya kalau pagi sebelum berangkat ke sini ngantar orderan sarapan pagi dulu. Masak jam tiga, nanti jam enam sudah delivery ke tetangga-tetangga yang pesan."
"Tapi Mbak Min kenapa masih mau kerja di sini? Kan sudah punya usaha sendiri," tanya Za kemudian.
"Ya usaha kan nggak seberapa, Mbak. Saya kan butuh biaya banyak untuk pengobatan suami saya. Lagi pula saya nggak bisa kalau harus lupa sama jasanya Almarhumah Ibu. Dulu saya pulang dari Jakarta ke sini karena suami sakit, saya nggak punya apa-apa, Mbak. Rumah tinggal di kost satu kamar. Akhirnya Ibu nawarin saya kerja di sini. Dan rumah yang saya tempati sekarang itu juga rumah Ibu."
"Ibu…ibunya Mas Fadhil?" tanya Za lagi.
"Iya siapa lagi, Mbak. Bu Sofia orangnya baik banget. Sayang Mbak Za nggak sempat ketemu. Saya nggak tahu lagi harus berterima kasih seperti apa sama keluarga ini, Mbak." Suara Mbak Min terdengar sendu. Za sampai tersentuh mendengarnya.
"Saya pikir akan kehilangan pekerjaan karena kemarin cuma Bu Lany yang tinggal di sini. Saya sempat sedih, Mbak. Bingung kalau nggak kerja lagi bagaimana nanti suami saya. Syukurlah sekarang semua sudah kembali ke sini," ungkap ART itu.
Za menipiskan bibirnya sambil mengusap lengan wanita yang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya itu. Beban hidup yang berat mungkin yang membentuk kerutan di wajahnya lebih cepat muncul.
__ADS_1
"Suami Mbak Min sakit apa memangnya?"
"Stroke, Mbak. Cuma bisa tiduran sudah tiga tahun ini. Tadinya masih bisa jalan."
Za menatap iba sekaligus kagum dengan ART-nya itu. Yang setia merawat suaminya meski dia harus membanting tulang sendiri untuk mencukupi kebutuhan.
"Anak Mbak Min berapa?" tanya Za.
Mbak Min hanya tersenyum getir. Dan membuat Za merasa tidak enak hati.
"Alhamdulillah kami belum dikasih momongan sampai 20 tahun pernikahan kami."
"Oh, maaf." ucap Za menyesal. Khawatir jika pertanyaannya menyinggung. Dia saja yang baru tiga bulan kadang masih tercubit jika ada menyinggung masalah anak. Bagaimana Mbak Min yang sudah dua puluh tahun. Sepertinya Za harus banyak belajar sabar pada ART-nya itu.
"Nggak apa-apa, Mbak. Saya sudah pasrah. Lagi pula anak kan juga hanya titipan. Kalau kita memang nggak dititipi kita bisa apa. Kami sudah bertahun-tahun berusaha untuk bisa mendapatkan anak, tapi….ya memang belum waktunya. Yang saya takutkan justru kalau saya meninggal lebih dulu, bagaimana dengan suami saya. Siapa yang akan mengurusnya?"
Lagi, Za menemukan sebuah pelajaran hidup. Cinta yang begitu besar tanpa syarat. Meski hidup dalam keterbatasan, sepertinya Mbak Min begitu mencintai suaminya dengan segala kondisinya. Rasa haru itu membuat titik bening lolos dari sudut mata Za.
"Kok Mbak Za jadi nangis?"
"Nggak apa-apa, Mbak. Saya cuma terharu saja mendengar cerita Mbak Min. Saya salut loh sama Mbak Min yang luar biasa sabar," sahut Za sambil menyusut air di kedua matanya.
"Kita manusia cuma sekedar menjalani, Mbak."
Za mengangguk setuju. Tidak butuh latar belakang seseorang untuk mengambil pelajaran hidup. Mbak Min wanita yang terlihat begitu sederhana pagi ini telah mengajarkan Za pemahaman yang selama ini hampir dia lupakan karena merasa menginginkan kebahagiaan yang sempurna.
"Nggak jadi masak, Mbak?" tanya Mbak Min karena sejak Za berhenti memotong cabai dan tomat.
Za terkekeh sendiri karena dia lupa jika mau memasak. Akhirnya pekerjaan itu dia limpahkan pada ART-nya. Sementara dia kembali ke kamarnya. Tiba-tiba saja dia ingin memeluk suaminya saat itu juga.
__ADS_1
"Ngobrol apa sama Mbak Min?" tanya Fadhil yang tadi sempat memergoki mereka berbincang namun dia sengaja tidak ingin mengganggu mereka.
"Banyak," sahut Za singkat. Tanpa sengaja tatapannya tertuju pada layar ponsel Fadhil yang masih menyala. Za melihat judul artikel yang sepertinya tadi sedang dibaca oleh suaminya itu.