Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Safira Sakit


__ADS_3

"Pagi, Mom!"


Hanna terkejut saat mendapat sebuah kecupan di pipinya dari Safira. Gadis itu benar-benar mengubah panggilannya untuk Za. Mommy, Za tidak keberatan Safira memanggilnya seperti itu meski usia mereka hanya selisih beberapa tahun. Toh dulu dia pernah mengajar anak-anak SMA.


"Pagi. Sudah baikan?"


"Masih agak pusing." Safira yang mengenakan sweater tebalnya meletakkan kepala di meja makan.


"Semalam Mama ngajak ketemuan di kafe," ujar Safira setengah bergumam.


Za yang sedang mengaduk kopi untuk Fadhil tertegun beberapa saat. Selama ini, meski sudah lebih dari dua bulan tinggal bersama, Za tak pernah merasa sedekat itu dengan Safira hingga dijadikan tempat curhat. Gadis itu terlalu tertutup apalagi jika berkaitan dengan mamanya.


"Lalu?" sahut Za menanggapi ucapan Safira.


"Dia ngenalin aku sama cowoknya."


Seperti sebuah kejutan bagi Za. Karena Lany pada akhirnya mau membuka hatinya untuk laki-laki lain. Seperti ucapan Fadhil kala itu. Akan ada pria yang pasti bisa mneyentuh hati Lany.


"Mamamu mau menikah?"


Safira mengangkat kepalanya seraya tersenyum kecut. "Gimana mau menikah kalau cowok itu ternyata punya istri. Bahkan istrinya datang melabrak Mama. Bikin malu saja. Kayak nggak ada cowok lain yang masih single. Mana di kafe semalam banyak teman Safira lagi nongkrong lagi. Mau ditaruh di mana mukaku kalau ketemu mereka besok. Aku pasti akn dibully anak pelakor. Makin tua kelakuan nggak ada bagus-bagusnya," gerutu Safira dengan kesal.


"Ssst! Fira, nggak boleh ngomong begitu. Bagaimana pun juga dia mama kamu. Yang sudah bertaruh nyawa untuk membuat kamu ada di dunia ini."


"Safira tahu. Tapi untuk apa Safira dilahirkan kalau Mama sendiri nggak pernah mengharapkannya. Orang tua Mommy pasti nggak oernha mengatakan kalau tidak pernah menginginkan Mommy lahir ke dunia ini. Safira sakit hati Mama bilang begitu."


Za terdiam. Di balik sifat Safira yang sering diam, ternyata dia menyimpan luka oleh orang yang melahirkannya. Jauh dari kehidupan Za yang mendapat limpahan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya.


Tangan lentik itu mengusap pelan rambut yang dicepol asal. Tatapannya iba melihat Safira yang kini menitikkan air mata.

__ADS_1


"Kenapa sih Safira harus punya ibu seperti dia? Kenapa nggak seperti Mommy yang rela meninggalkan pekerjaan demi keluarga? Bahkan saat Papa sakit pun Mama nggak peduli."


Za merasakan sesak yang sama yang mungkin saat ini dirasakan Safira. Dia merapatkan kursi agar dapat memeluk Safira. Bahu gadis itu pun terguncang diiringi isak tangisnya.


"Dulu aku nggak rela Om Fadhil mau menikah. Karena takut kalau Safira akan kehilangan semuanya. Nggak ada lagi yang akan menyayangi Safira," ugkap gadis itu dengan terbata dan parau.


"Makasih karena Mommy nggak ngambil Om Fadhil sepenuhnya."


Za mengangguk pelan. "Sudah, ya. Jangan terlalu banyak pikiran. Kamu lagi sakit, nanti makin lama sembuhnya." Za menciba nenenangkan Safira yang masih terisak.


"Minum dulu susunya. Nanti sehabis sarapan kita ke dokter. Badanmu masih panas banget ini," bujuk Za lagi.


Namun Safira menolak. Lidahnya terasa pahit untuk mengecap semua jenis makanan.


Karena teelau khawatir dengan Safira yang demamnya tidak juga turun, Za naik ke atas menyusul Fadhil yang sejak subuh atdi masih berdiam diri di dalam kamar.


"Mas, kamu nggak mau sarapan dulu? Udahan kerjanya nanti lagi. Safira demam tinggi. Kita bawa dia ke dokter, ya?"


"Nggak apa-apa gimana? Dia itu dari semalam sakit. Mas saja yang nggak peduli sama dia," cerocos Za sambil membuka lemari untuk mengambil baju gantinya.


"Duh yang lagi mengkhawatirkan anak gadisnya."


Za memicing mendengar sahutan Fadhil. "Bukan waktunya bercanda, Mas. Ini lagi musim DB. Mas nggak khawatir kalau Safira ikut terjangkit?"


"Iya, Mommy. Daddy sudah siap nih! Tinggal berangkat." Fadhil menunjukkan penampilannya yang mengenakan kaos dan celana pendek. Tidak terlalu buruk untuk sekedar mengantar ke rumah sakit.


"Apaan sih, Mas. Kamu bercanda terus, deh. Safira lagi kesakotan tuh. Mengangkat kepala saja dia berat. Mas turun dulu sana! Aku udah buat kopi sama roti di meja."


Secepatnya Za mengganti dasternya dengan celana panjang dan blus longgar kemudian mengenakan jilbab setelah memoles tipis wajahnya.

__ADS_1


Za menyambar tasnya lalu kembali turun menemui Safira yang kini tergolek di sofa. Melihat Safira hanya mengenakan celana pendek, Za mengambilkan celana panjang dan juga kerudung kaos dari dakam kamar.


"Pusing banget, ya?" tanya Za sambil meringis melihat Safira hanya diam saja saat Za melapisi celana pendeknya dengan celana panjang.


"Kuat jalan, nggak? Kalau nggak kuat sini Daddy gendong."


Za terkekeh mendengar Fadhil yang lagi-lagu bercanda. Sementara Safira mengulum senyum meski sambil menahan nyeri di kepalanya.


Fadhil benar-benar menggendong Safira di punggungnya. Karena Safira mengatakan tidak kuat jalan sampai depan.


"Ingat waktu kamu masih SD ya, Fir. Tiap hari digendong begini kalau mau berangkat sekolah," ujar Fadhil. Safira hanya berdehem.


"Katanya mau nikah, kok masih manja?" goda Fadhil lagi sambil menurunkan Safira ke jok belakang mobilnya.


"Emang iya? Udah ada calonnya?" timpal Za.


"Apaan, sih? Safira sibuk. Nggak sempat nyari cowok," sahut Safira sambil menggeser tubuhnya.


"Nanti Mommy kenalin sama cowok. Ganteng kayak Oppa Korea," balas Za sambil naik ke jok depan.


Fadhil yang mendengar itu pun ingin tahu. "Siapa yang ganteng?" tanyanya dengan nada tak suka Za memuji pria lain.


"Ada, deh," jawab Za membuat teka teki. "Nanti kalau sembuh Mommy kenalin kamu sama dia, Fir. Auto klik deh pastinya."


"Safira masih mau sekolah! Mau lanjut S2, S3. Nikah nanti-nanti aja kalau udah siap punya anak. Nggak mau kayak Mama yang nikah muda tapi nggak mau tanggung jawab sama anak yang sudah dilahirkan." Jawaban Safira membuat dua orang di depannya diam seketika.


"Siapa kemarin yang bilang mau nikah muda?" celetuk Fadhil mencairkan suasana yang kaku beberapa saat.


"Nggak jadi. Takut kalau ternyata nggak bisa bahagia seperti Om Fadhil dan Mommy Za," sahut Safira.

__ADS_1


"Ya sudah, fokus saja dulu sama kuliahmu. Kalau memang belum mau menikah. Karena menikah memnag tak sellau seindah yang dibayangkan." Za yang punya pengalaman dikejar-kejar deadline menikah oleh orang tuanya tentu mengerti perasaan Safira.


Setibanya di rumah sakit, Za menganti di meja pendaftaran sementara Fadhil menemani Safira di deretan kursi tunggu. Antrian cukup panjang sehingga Za harus sedikit bersabar hingga tiba gilirannya. Saat mengambil dompet, Za merasa ada sesuatu yang raib dari dalam tasnya. Dia meneliti sekali lagi dan benda itu tidak ditemukannya.


__ADS_2