Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Perdebatan


__ADS_3

Za merasa sangat tepat jika dia akhirnya memiliki kendaraan sendiri dan bisa mengantar jemput Alif di tengah kandungannya yang semakin membesar. Mungkin memang benar, sepandai-pandainya menyembunyikan kebohongan pasti akan terbongkar. Entah sejak kapan Alex menemui Alif. Ah, kenapa nama mereka hampir sama saat diucapkan. Za berdecak kesal sendiri.


"Mama kenapa?" tanya Alif sat Za memukul stir.


"Nggak. Nggak kenapa-napa," sahut Za diiringi senyum tipis. Dia pun kembali fokus menyetir. Membiarkan Alif yang sibuk dengan mainan barunya. Bisa jadi mainan di rumah yang begitu banyak itu bukan semuanya Fadhil yang membelikan.


"Al, sejak kapan Al sering ketemu Ayah?" tanya Za karena Alif tidak akan mungkin berbohong.


"Sejak….Al lupa, Ma."


Za membuang nafas kasar. Jawaban lupa mungkin saja karena terlalu sering atau sudah berlangsung lama. Dan ingatan anak berusia 4 tahun itu tentu saja terbatas.


Za melepas sabuk pengaman Alif. Anak itu pun turun dan berlarian masuk ke dalam sembari memainkan pesawat mainan itu.


"Wah, mainan baru lagi?"


Hanna mendengar suara Tante Sarah dan itu membuatnya was-was.


"Iya, Oma. Dibelikan Ayah."


Za sedikit lega saat Tante Sarah hanya membulatkan bibirnya. Tidak bertanya lebih detail tentang siapa Ayah.


Dia pun membuntuti Al yang masuk ke dalam ruangan bermainnya untuk menyimpan mainan barunya.

__ADS_1


"Coba Mama ingin tahu mana saja mainan yang dibelikan Ayah?" tanya Za.


Alif menunjuk sebagian mainan yang bahkan sudah usang sekalipun. Anak itu mampu mengingat dengan jelas mana mainan yang dibelikan papanya dan mana yang dibelikan ayahnya. Termasuk motor trail aki yang sebulan lalu menjadi hadiah ulang tahun ternyata pemberian dari Alex. Dari mainan yang disebutkan Alif, Za memang tidak bisa menebak secara pasti, namun dia mengira jika rutinitas pertemuan mereka sudah berlangsung lama. Dan selama ini Fadhil tidak pernah menyinggungnya. Mungkin dia yang terlalu abai, atau Fadhil yang terlalu rapi menyimpannya.


Tak lama terdengar suara mobil Fadhil berhenti di depan rumah. Za yang sedang mengganti baju Alif sengaja membiarkan Fadhil dengan semua aktivitasnya setelah masuk ke dalam rumah.


Seperti biasa, setelah Alif dibersihkan sepulang sekolah, Tante Sarah akan membuatkan susu lalu mengajak Alif tidur siang. Namun rupanya anak itu kembali lagi ke kamar bermainnya.


Za pun masuk ke dalam kamarnya untuk merebahkan diri. Tidur siang memang menjadi hal yang tidak bisa ditinggalkan meski hanya satu jam. Dia mengabaikan Fadhil yang tengah mengganti bajunya.


"Za!"


Za sengaja menulikan telinganya. Karena masih kecewa dengan Fadhil yang membohonginya selama ini.


"Aku kecewa sama kamu," sahut Za kesal.


"Al juga berhak tahu siapa ayahnya. Meskipun dia hanya akan tahu jika Alex ayah biologisnya itu nanti. Setelah dia dewasa."


"Aku nggak siap kehilangan Al," balas Za sinis.


Hembusan nafas Fadhil terdengar. "Alex nggak akan ngambil Alif dari kita. Bukankah tadi dia sudah bilang ke kamu?"


"Tidak untuk saat ini. Tapi besok, besoknya lagi? Kita nggak tahu apa yang ada dalam pikirannya? Siapa yang bisa menjamin? Atau kamu memang sudah berencana menyerahkan Al ke dia? Karena sebentar lagi akan punya anak sendiri?"

__ADS_1


"Astaghfirullah. Mas nggak pernah berpikir seperti itu."


"Lalu apa yang mendasari kamu untuk mempertemukan mereka diam-diam di belakangku?" cecar Za.


"Ini cuma masalah waktu, Za. Mas pasti kasih tahu kamu."


"Setelah beberapa tahun lamanya?"


Fadhil terdiam. Menyadari kekeliruan yang sengaja dibuatnya. Meski tudingan-tudingan Za itu tidak benar. Namun api tidak seharusnya dihadapkan pada api. Akan ada waktunya Za memahami apa yang dilakukannya. Dia tahu Za bukan orang yang bisa benar-benar tega.


"Aku nggak mau kalau sampai Alex datang ke rumah ini dan Tante Sarah tahu siapa dia," ucap Za pelan.


"Apa itu artinya kamu telah mengizinkan Al bertemu ayahnya?"


"Sudah terlanjur kamu buat seperti itu," jawab Za ketus lalu dia pun membaringkan dirinya di atas tempat tidur.


"Alex mungkin pernah melakukan kesalahan besar, tapi penyesalannya jauh lebih besar," ujar Fadhil seraya mendekati Za.


"Dari mana kamu tahu? Kamu tidak pernah mengenalnya. Bisa saja dia memutar kata memasang wajah mengiba agar kamu kasihan padanya."


"Tentu saja Mas tahu bagaimana laki-laki yang benar tulus atau hanya berpura-pura."


"Ya, ya. Kamu paling tahu segalanya. Lakukan saja yang menurut kamu benar," pungkas Za.

__ADS_1


__ADS_2