Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Bersikap Aneh


__ADS_3

"Kamu nggak ingin minta sesuatu, Za?" tanya Fadhil saat mereka baru saja pulang memeriksakan kandungan.


"Minta apa?" tanya Za sembari meletakkan tasnya.


"Ya….apa saja. Terserah. Seperti minta rujak tengah malam atau apa saja yang aneh-aneh."


Za terkekeh. "Enggak. Nggak pingin apa-apa. Cuma pingin minum air dingin. Dari tadi kehausan kamu nggak ada kepikiran beli minum dulu, kek." balas Hanna menyindir Fadhil. Karena antrian di klinik tadi cukup panjang. Dan mereka datang terlambat sehingga mendapat nomor antri belakangan.


Za pergi ke dapur untuk mengambil air putih. Meski biasanya dia hampir tidak pernah minum air dingin, namun kali ini botol yang tampak berembun koleksi Safira itu menggodanya untuk segera mengguyur kerongkongannya.


Za melongok isi kulkas. Selain tidak minum, dia juga belum makan malam. Begitu kalau bahagia terlalu berlebihan, hanya fokus pada satu hal sehingga mengabaikan yang lainnya.


Sayangnya semua bahan makanan yang ada di dalam kulkas pun tidak ada yang menarik baginya. Za membuka penutup makanan di meja makan. Ayam kecap kegemaran Fadhil yang dimasak oleh Tante Sarah baru berkurang beberapa potong sejak siang tadi. Za pun menutupnya kembali karena tidak berselera.


Alhasil dia hanya duduk sembari mengetuk-ngetukkan jarinya ke meja. Dengan satu tangan menopang dagunya. Seolah ada hal berat yang dipikirkannya. Padahal hanya sedang memikirkan makanan apa yang sekiranya diinginkannya. Semua seolah tidak menarik baginya.


"Belum tidur, Mi?" tanya Safira yang baru pulang kerja. Gadis itu sekarang mengelola kafe milik Fadhil. Setelah beberapa kali melamar pekerjaan namun masih saja gagal. Meski Safira gadis yang cerdas, namun hanya faktor keberuntungan saja yang belum menghampirinya.


"Bawa apa, Fir?" tanya Za melihat Safira meletakkan dua kantong plastik di meja makan.


"Martabak," jawab Safira. "Tadi niatnya beli martabak doang. Tapi lihat ada penjual pentol yang mangkal di dekatnya ya udah aku beli sekalian. Kasihan sudah malam dagangannya masih banyak," imbuhnya sembari mencuci tangan di wastafel.


Sejak kecil ikut dengan Fadhil, rupanya kepekaan yang ditanamkan oleh om-nya itu sukses melekat pada diri Safira. Dia tidak hanya membeli sedikit saja bakso pentol, tapi beberapa bungkus plastik yang isinya cukup banyak.


"Buat siapa kamu beli sebanyak ini?" tanya Za.

__ADS_1


Safira tertawa sendiri. "Nggak tahu juga. Makan aja kalau mau, Mi. Enak kok tadi aku udah nyicipin. Jualannya juga bersih. Heran aja kenapa yang beli sepi."


Za pun mengambil mangkok dan menuangkan isi plastik ke dalamnya. Benar saja, tanpa ditambahkan apa pun kuahnya sangat pas di lidah Za yang pecinta bakso. Rasa baksonya pun lebih enak. Dia pun menambahkan sambal ke dalam kuahnya.


"Enak kan, Mi?"


"Hmm."


"Mami doyan apa lapar?" tanya Safira melihat Za begitu menikmati makanan di depannya.


"Doyan. Lapar juga. Tadi ngantri lama banget di klinik. Mana Mas Fadhil nggak peka. Beli makan dulu atau apa? Udah tahu Mami belum makan."


"Astaghfirullah. Barusan kan ditawari pingin apa."


"Mas minta." Fadhil mengambil sendok di tangan Za.


"Ambil mangkok sendiri, Mas. Itu masih banyak."


Namun Fadhil tak menghiraukan. Dia menyeruput kuah bakso dengan sendok yang dipakai oleh Za.


Za berdecak kesal lalu beranjak mengambil mangkok dan sendok yang baru.


"Nih! Pinjam sebentar aja ngambek." Fadhil meletakkan sendok itu melihat Za menggerutu.


"Nggak mau!" jawab Za ketus.

__ADS_1


"Kamu kenapa? Biasanya juga makan sepiring berdua juga nggak masalah," ujar Fadhil yang merasa heran dengan sikap Za. Karena makan dengan sendok yang sama menjadi hal yang biasa bagi mereka. Tetapi kali ini Za benar-benar menolak. Bahkan Za memilih untuk makan di sofa alih-alih kembali ke kursinya.


"Dek!"


Za mengabaikan panggilan Fadhil.


"Biarin aja sih, Om!" ujar Safira menengahi.


Fadhil pun membiarkan Za makan di sofa. Sementara dia menghabiskan sisa bakso dari mangkok yang tergeletak di meja makan yang pedasnya luar biasa untuknya. Karena Za sedang dalam mode senggol bacok,maka dia tidak berani mengingatkan.


Fadhil mengira Za sensi karena dia enggan memakai alat makan yang sama. Dan dia pikir semua selesai setelah mereka selesai makan. Namun saat menjelang tidur, Za justru mengusir Fadhil dari dalam kamarnya.


"Kamu kenapa, sih?" tanya Fadhil saat Za mendorong tubuhnya agar keluar dari kamar.


"Aku nggak mau tidur sama kamu."


"Kenapa memangnya?" tanya Fadhil lagi karena Za tidak akan bisa tidur nyenyak jika tidak memeluknya.


"Pokoknya nggak mau. Kalau kamu mau tidur di sini aku yang pindah ke atas."


Fadhil pun akhirnya mengalah. Dia melangkah gontai ke arah pintu kamar.


"Dek!" panggilnya dengan wajah mengiba sebelum keluar dari kamar itu.


Za menghampiri Fadhil. Bukan untuk berbaikan dengan suaminya. Namun untuk menutup pintu dan menguncinya dengan rapat. Setelah Fadhil keluar dari kamar itu, Za seolah bisa bernafas dengan lega. Tanpa harus menahan nafas karena tidak ingin membau tubuh suaminya.

__ADS_1


__ADS_2