Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Intimidasi


__ADS_3

"Mas berangkat, ya. Nanti kabari kalau Bian jadi ke sini." Fadhil mengecup singkat kening Za.


Hari ini Bian berencana datang ke rumah mereka. Karena sejak pulang dari Samarinda, sepupunya itu belum pernah sekalipun berkunjung. Selain karena ada hal yang ingin dibicarakan tentang bisnis yang akan dirintis oleh Bian.


"Hati-hati, Mas" ucap Za saat Fadhil hendak melajukan motornya.


Setelah Fadhil berangkat, Za benar-benar merasa kesepian. Harus berada di rumah sendirian. Meski tidak setiap hari. Karena Fadhil lebih sering berada di rumah. Pekerjaannya tidak terikat waktu. Toh dia juga memiliki orang kepercayaan di bengkel maupun di kafe.


Za membereskan baju kotor mereka. Dia melarang Fadhil untuk tidak membawa baju mereka ke laundry. Dia punya banyak waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah.


Suara bel yang berdenting membuat Za meninggalkan mesin cuci dan pakaian kotor yang baru saja dimasukkannya.


"Pagi bener datangnya," gumam Za.


Saat dia membuka pintu, bukan Bian yang berdiri di depan pintu. Melainkan wanita dengan setelan baju kerja. Menatap wajahnya muak, mengingat pembicaraan wanita di depannya itu dengan Fadhil tempo hati. Seolah tidak punya harga diri, Lany menawarkan diri untuk disentuh. Bahkan hingga nyaris menelanjangi dirinya sendiri.


"Silakan masuk!" Za menyuruh wanita itu masuk meski sebenarnya enggan meski sekedar bertatap muka.


Di ruang tamu itu mereka duduk berhadapan. Situasi yang Za tidak pernah inginkan. Dipertemukan dengan orang yang sedang ingin dihindarinya. Bukan takut, hanya saja Za tidak ingin suasana hatinya semakin buruk setelah beberapa hari ini hubungannya dengan Fadhil sudah membaik.


"Ada perlu apa datang ke mari?" tanya Za dengan raut wajah dingin.


Lany seolah mampu menguasai dirinya dengan baik. Bersikap tenang meski tuan rumah itu menunjukkan ketidaksukaannya. "Aku tidak menyangka, di balik penampilan dan kesan lembutmu, ternyata menyimpan hati yang busuk."


Za terbelalak dan menatap Lany dengan tajam seketika. "Apa maksudmu?"


Senyum miring pun tercetak di bibir merah wanita 41 tahun itu. "Sebelum mengenal kamu, Fadhil tidak pernah melakukan hal yang mengecewakan Safira. Aku tidak tahu apa yang kamu lakukan sampai Fadhil setega itu mengusir Safira dari sini. Tentu saja karena keinginan kamu bukan?"


Tudingan Lany memang benar adanya. Namun Za tidak menyesali keputusannya. Memang sudah seharusnya Safira tinggal bersama Lany sebagai ibunya.


"Aku harus mengingatkan kamu, jika Fadhil mempunyai tanggung jawab menggantikan kakaknya. Menafkahi Safira sebagai satu-satunya saudara kandung Mas Farhan. Jadi kamu jangan coba-coba untuk melepas tanggung jawabnya."

__ADS_1


Meski dalam hati meradang, Za mencoba untuk tidak terpancing dengan ucapan Lany yang melampaui batas.


"Saya wanita, kamu pun wanita. Saya seorang istri dan kamu pun pernah menjadi seorang istri. Saya rasa hal yang wajar jika seorang istri ingin menjadi prioritas suaminya. Kamu pun pasti akan menuntut hal serupa jika suamimu masih ada, bukan? Dan perlu kamu ketahui, saya tidak pernah melarang Mas Fadhil untuk menafkahi Safira. Karena mulai bulan ini saya sendiri yang akan mentransfer uang sesuai kebutuhan Safira. Jadi kamu tidak perlu takut Mas Fadhil akan lepas tanggung jawab." sahut Za tegas.


"Saya meminta Mas Fadhil mengantar Safira ke rumah utama, bukan karena mengusirnya. Bukankah itu yang kamu mau. Kamu memilih kembali ke kota ini agar lebih dekat dengan Safira? Lalu di mana kesalahan saya dan Mas Fadhil mengantar Safira pulang ke rumah utama untuk tinggal.bersama kamu? Bukankah kamu ibunya? Sudah bagus Mas Fadhil merawat Safira sejak kecil. Tapi apa yang kamu lakukan? Bukannya berterima kasih tapi kamu malah ngelunjak meminta suami saya menikahimu. Kamu cantik masih muda, meskipun janda saya masih banyak laki-laki single lain di luar sana yang bisa kamu dekati daripada harus mendekati suami orang."


Ucapan Za yang begitu panjang ternyata tidak mampu membuat Lany sadar diri. Wanita itu kembali tersenyum remeh menatap Za.


"Jangan terlalu percaya diri jika Fadhil sudah sepenuhnya jatuh hati padamu. Kamu pikir selama 20 tahun lebih setelah terlepas dari saya, apa alasan dia memilih menyendiri kalau bukan karena tidak bisa melupakan move on dari saya. Jadi Zahidah, saya ingatkan kamu jangan terlalu cepat menjatuhkan hati terlalu dalam pada suamimu. Karena kamu tidak tahu siapa yang sesungguh ada dalam hatinya. Bisa jadi kamu hanya sebagai pelarian setelah dia bosan melajang," balas Lany dengan sinis.


"Kamu tentu sepakat jika cinta pertama itu terlalu sulit untuk dilupakan," lanjutnya.


Za terdiam. Entah harus percaya dengan ucapan Lany atau tidak. Namun nyatanya ucapan mantan kekasih itu berhasil membuatnya bimbang.


"Silakan kamu renungi kata-kata saya. Sebelum kamu menyesal jika ternyata suamimu main hati di belakangmu." Lany beranjak dari sofa.


"Oh iya, kamu tahu kenapa Fadhil memilih wanita yang lebih jauh muda darinya dan penurut sepertimu? Kamu tentu bisa mencari tahu sendiri jawabannya," pungkas Lany.Wanita itu pun meninggalkan Za yang masih mematung di tempat duduknya.


Sesaat kemudian terdengar suara deru mobil menjauh dari rumah. Za menghempaskan punggungnya ke sandaran sofa. Lany berhasil mempengaruhi dirinya. Hingga suasana hatinya kembali buruk.


Berkali-kali dia menepis rentetan kalimat yang terus terngiang di telinga. Yang pada akhirnya hanya akan membuatnya menaruh curiga pada suaminya.


Za naik ke kamarnya untuk mencari ponselnya. Entah kenapa dia ingin terhubung dengan suaminya saat itu juga.


"Assalamu'alaikum, ada apa, Sayang?" Ucapan Fadhil terdengar begitu manis. Tapi kali ini tidak membuat Za tersentuh.


"Wa'alaikumsalam. Mas di mana?"


"Di bengkel, dong. Kenapa? Bian sudah datang?"


"Benar di bengkel? Ganti VC!"

__ADS_1


Dalam sedetik, wajah Fadhil muncul di layar. Dengan baju wearpack dan background mobil-mobil yang tengah diperbaiki. Dalam hati Za minta ampun karena sudah berburuk sangka pada suaminya.


Za tak pernah tahu, jika Fadhil masih mau turun tangan ikut dalam pekerjaan meski karyawannya puluhan.


"Aku ke situ ya, Mas?"


"Mau ngapain? Hari ini Mas sibuk. Dua orang nggak masuk. Nanti kamu ngambek dicuekin."


"Nggak. Nggak apa nanti aku nunggu di dalam," sahut Za.


Dia pun memutuskan sambungan telepon. Lalu bersiap menyusul ke bengkel.


Dengan menumpang ojek online, Za sampai di bengkel. Di tangannya menenteng tas plastik berisi kue dan camilan yang dibelinya saat di perjalanan tadi. Hal yang disukai oleh anak buah Fadhil, karena Za seringkali membawakan kue untuk mengganjal perut sambil menunggu waktu makan siang.


Za sudah tidak canggung lagi meski harus melewati area depan. Meski kedatangannya selalu menarik perhatian. Karena apalagi kalau bukan parasnya yang menawan hati bos mereka.


"Mas!" sapanya dengan senyum lebar.


"Alhamdulillah dapat mood booster!" celetuk salah satu karyawan Fadhil yang langsung mendapat tatapan tajam dari bos mereka.


"Nunggu di dalam saja!" ujar Fadhil.


"Aku bawa kue untuk mereka." Za menunjukkan tas plastik yang dibawanya.


"Iya. Nanti saja jam sepuluh."


Za pun menurut. Masuk ke dalam ruangan di samping ruang display sparepart. Tak berapa lama, pintu kembali terbuka. Dan Fadhil muncul dengan pakaian yang terlihat kotor.


"Kenapa tiba-tiba nyusul ke sini? Nanti kalau Bian ke rumah gimana?" tanya Fadhil sambil melepas wearpacknya.


"Tadi Lany datang ke rumah," sahut Za. Dia melihat gerakan tanhan Fadhil yang sedang membuka kancing terhenti sesaat.

__ADS_1


__ADS_2