Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Batal Menggugat


__ADS_3

"Gimana, Mas?" tanya Za saat Fadhil baru saja masuk ke dalam rumah.


"Ya nggak gimana-gimana. Semua bukti-bukti kita kuat. Apanya yang mau digugat. Mereka saja yang sedang menunjukkan kebodohannya," jawab Fadhil menjelaskan perkembangan permasalahannya dengan pihak yang akan mengambil Alif.


"Lalu mereka berhenti sampai di sini?' tanya Za penasaran.


"Mas nggak tahu. Semoga saja iya. Tadi Mas juga ketemu ayahnya Al. Ternyata teman kuliah Aira."


"Terus Mas apain dia?"


"Gebukin."


"Hah?! Yang benar? Mas kenapa malah bikin masalah, sih? Kalau mereka laporin Mas gimana?"


"Ya paling masuk penjara," jawab Fadhil dengan santai.


"Paling masuk penjara? Terus aku sama Al gimana? Harus sendirian?"


Fadhil justru terkekeh dan membuat Za kesal karena Fadhil telah berlaku sembrono.


"Bercanda, Sayang. Mas nggak mungkin bertindak bodoh seperti itu. Tadi Mas justru sempat bilang kalau semua bisa diselesaikan baik-baik. Bagaimanapun juga dia orang yang membuat Alif ada di dunia ini meski mungkin tidak dikehendaki. Mas akan izinkan dia kalau ingin bertemu Alif tapi dengan syarat tidak membawa Alif dari rumah ini."

__ADS_1


"Nggak! Mas kelewatan. Orang seperti itu nggak bisa dikasih hati. Laki-laki nggak bertanggung jawab. Sudah membuat anak orang hamil dan menelantarkannya bahkan sampai meninggal. Lalu tanpa rasa bersalah ingin mengakui anaknya. Aku nggak akan izinkan dia ketemu Alif." Za jelas menentang pemikiran Fadhil.


"Za, menuruti dendam nggak akan ada habisnya. Setelah dia membuat pengakuan dosa dan meminta maaf, apa yang sebaiknya kita lakukan kalau bukan menerima maafnya?"


"Nggak. Pokoknya ti-dak. Aku nggak mau dia datang ke sini. Di sini ada Tante Sarah yang pasti akan semakin terpukul jika tahu yang sebenarnya. Mas nggak ingat bagaimana congkaknya ibunya waktu itu?"


Fadhil menghela nafas kasar. Jika membunuh tidak berdosa, mungkin sudah dilakukannya saat bertemu dengan laki-laki itu.


"Awas aja kalau Mas diam-diam mempertemukan mereka," ancam Za sebelum beranjak dari kursinya.


Dia pergi ke belakang rumah karena Tante Sarah membawa Alif ke dekat kolam. Alif sudah mulai suka turun ke lantai dan meminta jalan. Meski belum bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri. Alif semakin lucu dan pintar. Jika keluarga ayahnya melihat pasti semakin ingin mengambil Alif.


"Kalau capek bawa Al masuk ke dalam, Tante. Mainnya kan udah dari tadi," ujar Za karena kasihan melihat Tante Sarah sejak tadi menuruti Al berjalan. Tante Sarah yang selalu telaten mengasuh Alif. Kesehatan wanita itu tampak membaik. Jarang melamun seperti saat awal datang ke rumah itu. Za yang selalu mengingatkan untuk minum obat setiap harinya. Komunikasinya pun semakin baik.


Za pun menunggu mereka bermain. Hanya butuh kesabaran dan ketelatenan untuk membuat Tante Sarah sembuh. Hampir dua bulan tinggal di rumah itu nyatanya banyak perubahan yang terjadi pada Tante Sarah.


Za sangat menyayangkan sikap menantu Tante Sarah. Yang bahkan tidak pernah menanyakan kabarnya. Hanya sesekali Zara yang menelepon untuk berbicara pada mamanya.


Mungkin akhirnya Tante Sarah merasa lelah juga. Harus terus menunduk memegang tangan Alif. Dia menggendong cucunya masuk ke rumah. Karena matahari pun sudah terik.


"Tante makan, ya? Pagi tadi kan cuma makan kue," kata Za mengingatkan.

__ADS_1


Tante Sarah pun mengangguk. Dia meletakkan Alif begitu saja di lantai.


"Kamu tadi dari mana, Dhil?" tanya Tante Sarah membuat Fadhil sedikit terkejut. Karena selama ini tantenya itu bahkan tidak pernah peduli dengan orang-orang di sekitarnya.


"Dari bengkel, Tan," jawab Fadhil berdusta.


Tante Sarah membulatkan bibirnya. "Mau makan?" tanyanya.


"Nanti saja. Tante makan duluan saja. Auw!" Fadhil mengaduh saat merasakan bulu kakinya ditarik. Dia melongok ke bawah meja dan mendapati Alif duduk di dekat kakinya. Bayi itu tertawa dengan polosnya saat melihat wajah Fadhil muncul.


"Al….usil ya, kamu?!" Fadhil mengangkat tubuh bayi itu dan menggelitiki dengan bulu wajahnya. Al tertawa karena merasa geli.


"Kenapa, Mas? tanya Za yang datang membawa mangkok sayur.


"Al usil sekali nyabutin bulu kaki."


Za pun tertawa. Semakin hari ada saja yang membuatnya terhibur dengan tingkah Alif.


Untung saja mereka mengambil Alif secara sah. Sehingga tidak ada yang bisa mengambil bocah menggemaskan. Dia pun tak menyangka jika akhirnya keluarga ayah biologis Alif menginginkannya. Bahkan mencarinya sampai ke kota itu.


"Tante kangen sama Aira, Dhil," celetuk Tante Sarah. Padahal seminggu sekali Fadhil mengantarnya ke makam Aira. Namun baru dua hari yang lalu, Tante Sarah sudah minta diantar ke sana lagi.

__ADS_1


"Nanti sore kita ke sana," jawab Fadhil yang memang selalu meluangkan waktu ke mana tantenya ingin pergi. Demi kesembuhan orang yang dulu sering mengasuhnya saat ditinggal ayah ibunya bekerja.


__ADS_2