
Belum bisa sepenuhnya tenang setelah kedatangan wanita yang mengaku omanya Alif, bel rumah berbunyi. Menandakan jika ada seseorang yang datang untuk bertamu.
"Siapa lagi?" gerutu Za yang masih kesal mengingat ucapan wanita tadi.
Fadhil yang sedang duduk di sampingnya pun beranjak membukakan pintu. Za tetap bertahan di dalam dia khawatir jika wanita tadi datang lagi.
Namun beberapa saat kemudian Fadhil masuk ke dalam bersama dua orang wanita. Salah satu di antaranya menyeret koper. Za terkejut melihat kedatangan Tante Sarah dan juga Zara, anaknya.
"Aira!" Tante Sarah menyebut nama Aira namun yang ditatapnya adalah bayi dalam gendongan Za. Wanita itu mendekat dan hendak mengambil Alif. Za pun memegang Alif lebih erat. Dia takut Tante Sarah mengambilnya. Bukan karena tidak boleh namun kondisi Tante Sarah yang labil tentu mengkhawatirkan Za. Terlebih kehadiran Alif yang tedak dikehendaki.
Za sungguh heran. Alif seolah bayo yang terbuang saat berada di rumah sakit. Namun setelah dia tumbuh menjadi bayi yang sedang lucu-lucunya, mereka berdatangan. Za tentu tidak akan rela jika salah satu dari mereka mengambil Alif darinya.
"Tante boleh gendong?"
Tatapan Tante Sarah yang mengiba membuat Za tiba-tiba tersentuh. Tate Sarah mungkin memang tidak seperti dulu. Tapi Za tidak akan pernah lupa bagaimana hangatnya sikap wanita itu.
Za menatap ke arah Fadhil. Meminta persetujuan jika Alif akan baik-baik saja ketika digendong tantenya itu. Melihat Fadhil mengangguk pelan, Za pun memberikan Alif pada Tante Sarah. Wanita itu senang bukan main. Dia menggendong cucunya, menimanh Alif seperti orang pada umumnya.
"Aira!" Tante Sarah masih saja menganggap Alif adalah Aira.
Za pun tersenyum mengangguk, memaklumi kondisi wanita itu. Dia membiarkan Tante sarah menimang-nimang Alif. Bayi itu pun terlihat nyaman. Mungkin karena ikatan darah keduanya.
"Maaf aku datang tanpa memberi kabar," ucap Zara seraya menjatuhkan diri di sofa.
"Mama begitu rewel sebulan ini. Dia selalu minta pulang untuk bertemu Aira. Aku sampai kesulitan untuk menenangkannya. Mama benar-benar menguji kesabaran," ujar Zara tampak frustasi.
"Tante Sarah sedang sakit. Harusnya kamu memahami hal itu, Ra," sahut Fadhil.
__ADS_1
"Aku ngerti, Mas. Aku nggak masalah Mama tinggal sama aku. Tapi suamiku…" Zara memijit pangkal hidungnya.
"Minum dulu, Ra." Za mengulurkan segelas air yang baru saja diambilnya.
"Makasih, Mbak.," ucap Zara lalu dia meneguk air dingin yang diberikan oleh Za.
"Aku nggak ngerti harus gimana lagi, Mas. Suamiku semakin ke sini sepertinya keberatan Mama tinggal bersama kami. Dia benar-benar bukan seperti yang aku kenal selama ini." Hembusan nafas dari mulut Zara menunjukkan seolah ada beban berat yang ingin dia keluarkan.
"Kalau begini inginnya aku kerja lagi. Supaya Mama tidak ikut-ikutan menjadi beban suamiku. Tapi bagaimana dengan anak-anakku?" Titik bening pun mulai berkumpul di sudut mata Zara.
"Sampai-sampai, suamiku memberi aku pilihan!" Air mata Zara pun akhirnya tumpah.
Za melingkarkan lengannya. Mendekap lalu mengusap lengan Zara. Kembali dia harus bersyukur. Fadhil tidak hanya menerima dirinya dengan baik, tetapi juga menerima kedua orang tuanya. Jika dia dalam posisi Zara, tentu akan merasakan hal yang sama. Dilema antara berbakti pada suami atau pada orang tua yang kondisinya sangat membutuhkan perhatiannya sebagai anak yang kini tinggal satu-satunya.
"Aku nggak tega kalau harus membiarkan Mama tinggal sendirian di rumah. Sementara kalau harus menggaji orang untuk merawat Mama aku nggak bisa. Hidupku saja sepenuhnya ditanggung suamiku. Mungkin beberapa tahun ke depan setelah anak-anakku sekolah aku bisa mencari pekerjaan. Tapi untuk sekarang, aku nggak bisa. Aku benar-benar bingung, Mas."
"Tinggalkan Tante Sarah di sini. Aku yang akan mengurusnya," ujar Fadhil setelah sejak tadi hanya diam mendengar keluh kesah adik sepupunya.
"Nggak mungkin, Mas. Kami sudah merepotkan keluarga ini dengan merawat anak Aira," jawab Zara.
"Lalu kamu akan tetap merawat mamamu dan mengorbankan keluargamu? Sementara anak-anakmu masih butuh kamu."
Zara terdiam. Fadhil mengerti jika sepupunya itu merasa sungkan, terutama pada Za.
"Istirahat dulu, Ra. Kami pasti capek semalaman di jalan."
Zara mengangguk. Dia beranjak dari sofa menyeret kopernya masuk ke salah satu kamar tamu. Tubuhnya terlihat sangat letih. Bahkan langkahnya pun gontai.
__ADS_1
"Aira tidur!"
Ucapan Tante Sarah mengalihkan perhatian Za dari sepupu suaminya. Dia menghampiri Tante Sarah untuk melihat Alif yang memang benar sedang terlelap. Bayi gembul itu tampak tenang dalam gendongan neneknya.
"Alifnya biar tidur di kamar dulu, ya. Nanti kalau sudah bangun main lagi. Sekarang Tante juga harus istirahat. Tante capek, kan?" Za bahkan harus seperti guru TK berbicara dengan Tante Sarah.
Wanita itu mengangguk patuh. "Tante tinggal sama kamu, boleh?" Ucapan yang membuat Za kembali iba dengan Tante Sarah. Meski mungkin kondisi psikisnya sekarang berbeda, mungkin dia juga merasakan tidak nyaman saat tinggal di rumah Zara.
Za mendekap wanita yang dulu pernah mendekapnya dengan hangat saat pertama kali mereka bertemu. Mengusap punggung wanita itu dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya menggendong Alif.
"Tante suka tinggal di sini?"
Tante Sarah mengangguk. "Suka. Tante mau sama Aira." Aira seolah memenuhi fantasi Tante Sarah.
Za membimbing wanita itu ke salah satu kamar. Menyuruhnya untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan panjang. Semalam di jalan tentu Za mengerti jika mereka menempuh jalan darat dia hanya tak mengerti kenapa Zara melakukannya. Karena sepengetahuannya, Zara hidup berkecukupan.
Setelah memastikan Tante Sarah tenang, Za membawa Alif naik ke kamar. Bayi itu seolah tak terganggu dengan semua aktivitas yang dilakukannya sejak dari kamar tamu hingga naik ke kamar bayi itu.
Za tersentak saat sepasang lengan tiba-toba melingkari pinggangnya. Untung saja Alif sudah dia tidurkan di ranjang mungilnya.
"Terima kasih, Za."
Za mengernyit "Untuk?"
"Atas kelapangan hatimu menerima Tante Sarah."
Za menipiskan bibir seraya membalik tubuhnya. "Aku cuma ingin seperti kamu, Mas. Menanam kebaikan sebanyak-banyaknya. Karena kita tidak tahu dari pohon yang mana kita bisa memanen buahnya."
__ADS_1
"MasyaAllah. Istriku," Fadhil menatap kagum istrinya yang moody. Kadang seperti anak-anak, tapi jika sedang bersikap dewasa seperti sekarang ini, selalu membuatnya melihat sisi Za yang berbeda. Namun itulah sesungguhnya Za, yang sebenarnya mudah tersentuh hatinya. Dia tidak akan tega jika melihat seseorang menderita.