Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Besok Nikah


__ADS_3

"Al! Sini!" Za melambaikan tangan memanggil Alif yang hanya berdiri di depan kamar. Sejak acara aqiqahan berlangsung tadi, Alif tak sebentar pun menempel padanya. Anak kecil itu pun mendekat. Seolah mendapat izin untuk kembali bermanja.


"Sayang Adek Lulanya!"


Keberadaan bayi kecil itu mungkin yang membuat Alif segan mendekati sejak pulang dari rumah sakit Za memang disibukkan dengan bayinya. Terlebih kondisinya yang belum pulih benar.


"Za, kamu makan dulu sana. Alif sama Lula biar Ibu yang jaga," ujar Ibu karena Za sejak tadi hanya sibuk dengan tamu-tamunya. Danny baru bisa beristirahat saat acara selesai dan tamunya sudah pulang.


"Al di sini sama Uti dulu, ya. Mama mau makan."


Alif pun mengangguk. Za dapat mengerti perasaan Alif yang kini harus berbagi perhatian dengan adiknya.


Ze berjalan perlahan menuju ke dapur. Tidak ada siapa pun yang ditemui. Namun masih terdengar suara orang di ruang tamu. Suara Fadhil yang entah dengan siapa. Terlalu banyak tamu yang datang hari ini. Sebagian teman Fadhil bahkan Za belum mengenal.


Makanan yang memenuhi meja makan membuat perutnya mendadak keroncongan. Tak peduli tubuhnya yang semakin mekar di beberapa bagian, Za menarik kursi setelah mengambil piring bersih di dapur. Namun dia mengurungkan niatnya mengambil nasi saat tatapannya menangkap sosok yang tengah berada di teras belakang. Pencahayaan yang cukup membuatnya tidak kesulitan menangkap siapa orang-orang yang berada di sana.


"Dek, kamu…."


"Ssst!" Za menempelkan telunjuknya di depan bibir saat Fadhil datang dan memanggilnya.


"Kenapa?" tanya Fadhil dengan berbisik. Za mengarahkan pandangan ke arah belakang rumah. Fadhil pun mengikutinya. Mereka melihat jelas Tante Sarah yang tengah berbincang dengan seorang laki-laki yang bersimpuh di kakinya. Keduanya tampak sedang terlibat perbincangan. Meski tatapan Tante Sarah kosong. Entah apa yang mereka bicarakan. Karena saat Alex datang tadi Za sempat was-was. Apalagi Alif terus memanggilnya ayah.


Fadhil dan Za menunggu dengan perasaan cemas di meja makan. Cukup lama hanya berdiri dan mengamati kedua orang di teras belakang rumah. Bahkan beberapa kali Alex tampak mencium tangan Tante Sarah. Bahu wanita tua itu pun tampak bergetar.


Meski tergelitik untuk mendekat, namun Fadhil menahan diri. Sesaat kemudian dilihatnya Tante Sarah yang meraih bahu Alex dan meminta pria itu untuk berdiri. Sesuatu hal yang tidak mereka duga, Tante Sarah memeluk Alex sambil terisak.


"Mas!" panggil Za lirih dengan raut khawatir.

__ADS_1


Fadhil mengusap bahu Za seraya menipiskan bibir. "Kami tidak pernah diajarkan untuk mendendam. Semoga saja Tante Sarah benar-benar memaafkan Alex."


Za mengangguk pelan. Harapannya pun demikian. Sehingga mereka tidak perlu kucing-kucingan lagi dengan Tante Sarah.


Za bergegas duduk dan mengambil nasi saat dua orang itu beranjak masuk. Sementara Fadhil pun ikut menarik kursi. Meski tidak makan, dia hanya ingin menemani istrinya.


Mata Alex tampak merah. Begitu juga dengan Tante Sarah. Namun Za dan Fadhol harus bersikap seolah tidak tahu apa yang baru saja terjadi.


"Makan dulu, Lex." ujar Za sambil mengulurkan piring kosong.


"Makasih, Mbak," tolak Alex dengan halus.


"Sejak tadi kamu cuma main sama Al. Ayo makan dulu!" desak Za lagi.


"Ayo, nak Alex, makan dulu. Tidak baik menolak rejeki."


Suasana meja makan benar-benar hening. Meski ada tiga orang yang mengelilinginya. Semua sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing. Sampai selesai makan, Za sengaja tetap berdiam diri di meja makan. Perutnya begah karena mengambil makanan terlalu banyak. Lagi pula bagian bawah tubuhnya yang terkadang masih terasa nyeri membuatnya enggan untuk banyak bergerak.


"Mas, Mbak. Saya sudah berbicara dengan Tante Sarah. Alhamdulillah beliau memaafkan saya," ucap Alex setelah beberapa saat tidak ada yang membuka suara di antara ketiganya.


Za kagum dengan sikap Alex yang akhirnya berani mengakui semuanya di depan Tante Sarah. Memendam masalah terlalu lama memang tidak akan membuat masalah itu terurai dengan sendirinya. Harus ada yang berani dan berbesar hati untuk saling memaafkan.


"Saya….juga ingin membicarakan satu hal lagi dengan Mas Fadhil."


Fadhil yang mendengar ucapan Alex tertuju untuknya pun meletakkan gawainya dan siap menjadi pendengar. "Silakan."


Alex menghirup nafas dalam-dalam untuk mengusir rasa gugupnya. "Saya ingin meminta restu dari Mas Fadhil untuk menikahi Safira."

__ADS_1


"Uhuk!" Za yang sedang makan remahan kerupuk mendadak tersedak. Keseriusan itu pun buyar karena semua fokus pada Za yang masih terbatuk.


"Maaf, maaf. Aku beneran kaget," ujar Za setelah sedikit tenang. Mereka pun kembali serius dengan pembicaraan Alex.


"Kalau untuk masalah itu, saya serahkan sepenuhnya pada Safira. Saya tidak bisa memutuskan sebelum meminta pertimbangan dari dia," ujar Fadhil menjawab pernyataan Safira.


"Safira sudah OK, Mas."


"Maksudnya? Sejak kapan kalian diam-diam menjalin hubungan?" tanya Fadhil kemudian.


"Kami hanya berteman, Mas."


"Yakin?"


"Iya, Mas. Hanya berkomitmen saja."


"Ya sudah. Besok kalian nikah!"


"Hah?! Beneran, Om?" Suara Safira terdengar melengking dari arah pintu kamarnya. Namun sedetik kemudian pintu kamar itu tertutup dengan sedikit kencang.


"Yakin mau punya istri kekanakan begitu?" tanya Fadhil berusaha menggoyahkan Alex.


"Tidak masalah, Mas."


"OK. Tanyakan Safira mau mahar apa. Besok jam sembilan kalian nikah di rumah ini."


"Alhamdulillah. Makasih, Mas."

__ADS_1


__ADS_2