Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Ingin Hamil


__ADS_3

Za tak menyangka jika Fadhil benar-benar menuruti permintaannya untuk mengantar Safira pulang ke rumah utama. Entah bagaimana cara suaminya itu membujuk keponakannya. Yang pasti hari ini Safira sudah tidak tinggal bersama mereka. Karena semalam Fadhil telah mengantarnya.


Bukan tanpa alasan Za meminta suaminya untuk mengembalikan Safira pada ibunya. Keberadaan Safira di rumahnya yang membuat Lany selalu punya alasan untuk menemui Fadhil. Hal itu pula yang dia dengar tempo hari.


Kali ini saja, Za ingin egois. Demi melindungi pernikahannya dengan Fadhil yang baru sebentar. Lagi pula Safira bukan lagi anak kecil. Usianya sudah 21 tahun. Tidak lagi butuh pengawasan seperti anak-anak. Meskipun dia tetap merasa was-was Safira tergelincir pada pergaulan yang keliru.


Seharusnya Lany berterima kasih pada Fadhil. Yang rela mengurus Safira dari masih anak-anak sampai dewasa. Bukan malah menyalahkan Fadhil.


"Pagi, Sayang!" Za berjengit saat sepasang lengan melilit pinggangnya. Permasalahan semalam seolah usai begitu saja bagi Fadhil. Bahkan wajah pria itu terlihat tanpa beban.


Tuk!


Fadhil meringis saat tangannya dipukul spatula oleh Za.


"Semalam pulang jam berapa?" tanya Za datar sambil membalik omelet yang tengah digorengnya. Karena sampai di terlelap tadi malam, dia tidak melihat wajah suaminya. Pagi tadi dia mendapati Fadhil terlelap di sampingnya dengan masih memakai sarung juga baju koko.


"Jam sebelas," sahut Fadhil.


"Selarut itu?"


"Mas kan harus bicara sama Safira dan ibunya juga."


"Yakin cuma bicara. Nggak mengulang ciuman panas dan selebihnya mungkin."


Fadhil menghela nafas panjang. "Dek, kamu masih nggak percaya kalau Mas nggak pernah ngapa-ngapain sama dia. Dulu mungkin Mas menganggap ciuman itu masih hal wajar. Tapi tidak lebih dari itu. Jadi jangan berpikir berlebihan, kamu yang pertama untuk Mas."


"Laki-laki kan nggak kelihatan segelnya udah lepas atau belum." sahut Za sambil mematikan kompor. Dia melepas lilitan lengan Fadhil untuk mengambil piring.


"Kok kamu malah jadi fitnah Mas?" balas Fadhil sambil mengambil piring di tangan Za. Lalu memindahkan telur di dalam piring.


Za tak menyahut. Dia membiarkan Fadhil mengambil alih perannya. Membuat nasi goreng dengan bumbu yang sudah diraciknya. Ya, begitulah keseharian mereka. Meski kini Za tidak lagi mengajar, namun dia sangat jarang mengerjakan pekerjaan rumah. Hanya bersih-bersih saja. Tentang pakaian dia terima rapi dari laundry. Memasak lebih sering Fadhil yang menyiapkan makan untuknya. Itu kenapa Za tidak rela jika sampai ada yang menggoda suaminya. Meski sudah berumur, godaan itu tetap berlaku. Ya resiko punya suami ganteng dan dompetnya menjamin.


Meski Fadhil mengatakan tidak akan tergoda perempuan lain namun hati orang siapa yang tahu. Dia bisa berubah-ubah kapan saja. Dan Za tidak mau kecolongan.


"Hari ini aku mau ke rumah Ibu?" cetus Za saat mereka makan.

__ADS_1


"Untuk apa? Bukannya belum seminggu yang lalu kita ke sana?"


"Nggak ada kesepakatan berapa hari sekali kita ke sana," balas Za.


"Kalau begitu Mas antar kamu ke sana."


Za mendengus. Dia ingin pulang ke rumah orang tuanya karena masih kesal dengan Fadhil. Apa jadinya kalau suaminya justru ikut ke sana. Akan sia-sia karena tujuannya menghindar untuk dari Fadhil.


Usai sarapan, Za mencari kesibukan agar Fadhil tak mengganggunya. Meski kesibukan itu tidak sesungguhnya sibuk. Dia hanya duduk diam di atas ranjang sambil berselancar di dunia maya. Keseharian yang sudah ditekuni selama seminggu ini dan benar-benar membuatnya bosan.


"Aku ingin mengajar lagi." cetus Za pada Fadhil yang sejak tadi seperti bodyguard yang terus menjaganya.


"Mas nggak ngijinin."


"Egois!" gumam Za kesal.


"Egois di mananya, Sayang? Mas cuma minta kamu di rumah. Nggak perlu capek-capek kerja."


"Ya itu namanya kamu egois. Kamu di luar bisa ketemu mantanmu. Dan kamu minta aku harus berdiam diri di rumah."


"Mas nggak tahu bagaimana rasanya di rumah sendirian tanpa ada yang harus dikerjakan."


Sebelah alis Fadhil pun terangkat "Jadi butuh teman. Yok, bikin anak biar kamu ada temannya," ucap pria itu. Dalam hitungan detik bajunya sudah teronggok di lantai.


"Aku lagi datang bulan, Mas!" Za mendorong tubuh Fadhil.


Tamu bulanannya datang pagi tadi. Dia pikir kerja keras mereka akan membuahkan hasil. Ternyata masih harus bersabar lagi. Karena seiring bertambahnya usia pernikahan mereka, keinginan segera memiliki buah hati bukan hanya datang dari Fadhil. Namun juga dirinya sangat memimpikan hadirnya bayi lucu di tengah-tengah mereka.


"Yang kemarin-kemarin nggak jadi, ya?"


Za menggeleng pelan mendengar ucapan Fadhil. Entah kenapa dia justru merasa bersalah. Meski ucapan Fadhil tidak bermaksud demikian. Seringkali perempuan yang lebih banyak disalahkan saat pasangan belum memiliki keturunan.


"Kok sedih?"


"Mas kecewa, ya?" Za seolah lupa jika tadi bahkan sejak kemarin dia sedang kesal dengan suaminya.

__ADS_1


"Kecewa karena apa?"


"Karena aku belum hamil."


Senyum tipis terukir di bibir pria itu. Dia mendekap istrinya dengan penuh perasaan. Dan untuk kali ini Za tidak menolak.


"Masih terlalu dini. Kita baru sebulan menikah. Masih banyak waktu untuk berusaha sampai Allah berkehendak menitipkan bayi mungil pada kita." Jawaban Fadhil sedikit menenangkan Za. Mereka baru menikah, usia Za juga masih tergolong muda. Rasanya terlalu buru-buru untuk merisaukan hal yang memang belum waktunya didapatkan.


"Inilah salah satu alasan Mas meminta kamu untuk di rumah. Supaya kamu tidak capek, tidak stres dengan pekerjaan. Kalau bosan di rumah, kamu tinggal bilang. Mungkin memang kita butuh refreshing," ucap Fadhil dengan lembut yang dibalas anggukan kepala. Semudah itu meluluhkan hati Zahidah.


"Jadi kita mau liburan ke mana?"


"Heh?!" Za mendongak menatap Fadhil seketika.


"M-maksudnya Mas ngajak liburan?" tanyanya.


"Iya. Mas juga sudah lama nggak jalan-jalan. Kerja terus sampai nggak sadar tahu-tahu tua," sahut Fadhil lalu dia terkekeh.


"Udah sadar kalau tua, ya?"


"Sadar, Dek. Sadar banget. Makanya dulu pingin cepet-cepet nikahin kamu." Fadhil menarik hidung Za gemas.


Pria itu pun meraih gawainya di atas meja. Berselancar mencari destinasi wisata.


"Ke Bali mau?" tanya Fadhil setelah bingung sendiri menentukan tempat tujuan mereka.


"Ke Bali? Dalam rangka apa?" Za bertanya balik.


"Liburan. Gimana sih, baru diomongin lupa."


"Aku pikir Mas nggak serius."


"Serius dong, Sayang. Tentang kamu Mas nggak pernah bercanda," sahut Fadhil. "Jadi gimana? Setuju, nggak? Kalau iya, Mas pesan tiket sama reservasi villa sekarang."


"Minggu depan aja, Mas. Aku lagi palang merah. Nggak nyaman kalau mau jalan-jalan."

__ADS_1


Fadhil pun tersenyum lebar. Mengiyakan jawaban Za. Bulan madu saat istri sedang berhalangan tentu bukan waktu yang tepat.


__ADS_2