Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Permintaan Za


__ADS_3

"Tadi kamu sudah mengingatkan Fadhil untuk datang kan, Za?" tanya Fatma karena acara empat bulanannya sudah selesai namun Fadhil tak kunjung datang.


Za mengangguk. Pagi tadi dia memang sudah mengingatkan Fadhil. Za sengaja datang lebih awal untuk membantu menyiapkan acara. Namun ternyata sejak tadi dia hanya duduk saja. Karena keluarga Fatma sudah banyak yang datang membantu.


"Apa dia sibuk?" tanya Fatma lagi.


"Mungkin."


Mungkin sibuk dengan mantan pacarnya, lanjut Za dalam hati.


"Biasanya bengkelnya tutup sore, kan? Kenapa dia belum ke sini?"


Za membuang nafas kasar. Capek karena dia sedang tidak ingin dicecar masalah Fadhil. Dia mengedikkan bahu dan Fatma pun diam. Dia tidak lagi bertanya pada Za.


Za mengambil tasnya dan bersiap untuk pulang. Lelah menunggu Fadhil yang mungkin tidak akan datang. Sejenak dia kembali duduk di sofa. Menimbang-nimbang ke mana dia akan pulang. Rasanya malas melihat wajah Fadhil setelah apa yang dia ketahui tadi. Ingin pulang ke rumah, dia pasti akan diberondong pertanyaan oleh ibunya. Kenapa malam-malam-malam datang sendiri? Ke mana suamimu? Dan pertanyaan lain yang pasti akan membuatnya semakin kesal.


"Mbak, aku pulang dulu, ya," pamitnya setelah beberapa saat diam.


"Nggak nunggu Fadhil?"


"Nggak usah, Mbak. Aku naik taksi saja," jawab Za.


"Diantar Om Irsyad, ya?" cetus Fatma melihat Za yang tidak bersemangat. Dia bukan tak tahu jika sejak tadi Za lebih banyak merenung.


"Nggak usah, Mbak. Beneran deh aku nggak papa pulang sendiri." Za menolak dengan halus. Juga menyungging senyum meski mungkin terlihat kaku.


"Ya….udah kalau begitu. Tapi ini dibawa, ya?" Fatma mengambil sebuah tas berisi kotak makanan dari atas meja makan.


Za tidak menolak. Lebih tepatnya enggan menolak lagi. Dia mengambil tas itu lalu segera pamit.


"Taksinya mana, Za?" tanya Fatma melihat jalan depan rumahnya yang kosong.karena dia pikir Za buru-buru pamit karena taksi pesanannya sudah datang.

__ADS_1


Namun sampai di depan, Za baru mengeluarkan ponselnya untuk memesan taksi. Beberapa saat kemudian sebuah mobil berhenti di depan mereka.


"Loh, itu kamu dijemput," ujar Fatma melihat mobil Fadhil yang baru saja berhenti.


Za tak menyahut. Dia sengaja membuang wajah saat suaminya baru saja turun dan menghampiri mereka.


"Maaf, Mbak. Aku benar-benar lupa kalau ada acara," ucap Fadhil penuh penyesalan.


"Nggak apa-apa.," balas Fatma dengan senyum tipisnya.


"Ini Za sudah mau pulang." Bukan mengusir, namun sikap yang diam membuat Fatma memahami. Jika terjadi sesuatu di antara mereka. Menyuruh Fadhil masuk untuk mengobrol bukanlah sebuah tawaran yang bagus saat ini.


Dan di sinilah mereka sekarang berada. Di dalam mobil Fadhil dengan suasana mencekam. Seperti tidak ada yang berniat membuka percakapan.


Za menatap keluar jendela sepanjang jalan. Sedikit dia juga tak mendengar suaminya itu membuka mulutnya.


Saat tiba di rumah, mobil Safira sudah lebih dulu masuk carport. Za bergegas turun begitu Fadhil mematikan mesin mobil. Kemudian menerobos masuk ke dalam rumah yang terlihat lengang. Karena mungkin Safira ada di dalam kamar.


Za melempar tasnya di atas ranjang. Lalu mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Tubuh lelahnya sudah mendambakan guyuran air.


Cukup lama dia berada di dalam kamar mandi. Saat membuka pintu, dia mendapati Fadhil yang duduk di tepi ranjang. Za mengambil pakaian ganti dari dalam lemari. Mengabaikan Fadhil yang mungkin mengamatinya saat memakai daster longgarnya.


"Dek!"


Za menoleh dan menatap wajah suaminya datar.


"Mas minta maaf. Tapi kamu harus dengar dulu penjelasan Mas."


"Tentang apa? Kejadian tadi? Aku sudah dengar semuanya jadi nggak ada yang perlu dijelaskan lagi," sahut Za dengan wajah yang masih terlihat tenang.


Nafas kasar lolos dari celah bibir Fadhil. "Syukurlah. Jadi kamu nggak marah?"

__ADS_1


Sudut bibir Za terangkat. "Kamu pikir aku patung yang nggak punya perasaan? Yang nggak akan marah saat ada yang menyebutku menikah sama kamu karena harta? Nggak marah saat tahu ada wanita lain yang sengaja menggoda kamu? Bahkan terang-terangan minta dinikahi sama kamu? Aku ingin marah! Aku benci sama kamu yang nggak bisa tegas sama Lany. Tapi….sudahlah. Seperti yang pernah kamu katakan, semua yang kita miliki hanya titipan yang kapan saja bisa diambil. Termasuk suami. Kalau nggak diambil oleh Tuhan, ya diambil mantan!" ujar Za dengan sinis.


"Sejauh mana hubungan kalian dulu? Pasti jauh banget sampai nggak bisa move on meski sudah puluhan tahun. Banyak kenangan juga tentunya. Seperti ciuman kamu yang katanya panas!" sindir Za. Dia mengambil jepit rambutnya lalu meninggalkan Fadhil yang masih termangu di tepi ranjang.


Berdua di dalam kamar membuat darahnya meletup-letup. Dia menyingkir pergi ke dapur. Mereka tidak hanya berdua saja di dalam rumah. Za masih cukup sadar untuk menahan diri agar Safira tidak tahu dia tengah bertengkar dengan Fadhil.


Segelas air dingin diteguknya. Berharap bisa mendinginkan kepalanya. Bunyi perutnya menyadarkan Za jika dia tidak mengasup makanan sejak siang tadi. Bahkan di tempat Fatma pun dia hanya mengambil sepotong kue meski makanan yang disediakan berlimpah.


Za membuka tas berisi kotak makanan yang tergeletak di meja. Tas yang dia tinggalkan begitu saja di mobil yang pasti Fadhil yang membawanya masuk. Melihat satu kotak berisi kue dan satu kotak lagi berisi nasi lengkap dengan lauk. Sehingga Za mengurungkan niatnya untuk memasak. Karena makanan itu cukup untuk mereka bertiga. Itu pun jika Fadhil atau Safira mau makan. Untuk malam ini, Za enggan mengingatkan mereka untuk makan malam.


Setelah mengosongkan piringnya, Za masih saja duduk di meja makan. Jika ada ranjang lain, tentu dia sudah mengistirahatkan dirinya di sana. Sayang kamar itu sekarang dipakai oleh Safira. Dan satu kamar dilantai atas pun masih kosong.


Dengan gontai Za memaksakan diri kembali ke kamarnya. Fadhil terlihat baru saja mandi karena lelaki itu tengah menggosok rambut basahnya dengan handuk. Za hanya heran dengan suaminya kali ini. Fadhil tidak membujuknya meski tahu dia sedang marah. Sedang kemarin-kemarin saat Za marah karena perkara kecil, suaminya itu selalu membujuknya sampai dia bisa tersenyum.


"Andai saja masa lalu itu bisa dihapus, aku pasti sudah melakukannya sejak lama. Aku tidak ingin wanita manapun memasuki hatiku selain kamu."


Za masih saja terdiam. Dia tidak menyesali masa lalu suaminya. Hanya saja mendengar percakapan Fadhil dan Lany tadi, masih saja membuatnya kesal. Kenapa perempuan itu begitu berani menggoda suaminya tanpa rasa malu.


"Aku nggak seegois itu. Masa lalumu, apa pun itu aku bisa terima. Seharusnya kamu terus terang sejak awal jika memang pernah mempunyai hubungan dengan Lany."


"Untuk apa? Bagiku itu tidak penting."


"Kalau menurutku penting? Setidaknya aku bisa tahu ada apa dengan kalian. Kelakuan Lany jelas ingin menggodamu. Tapi aku lihat kamu enjoy saja melihat penampilannya setiap hari di rumah. Atau mungkin kamu justru senang melihat Lany dengan baju terbuka seperti tadi?"


"Astaghfirullah. Kalau aku senang aku nggak mungkin keluar dari ruangan tadi," Fadhil membantah keras. "Mas benar-benar minta maaf. Wallahi, Mas nggak ada keinginan sedikitpun untuk menyentuh dia."


Za terdiam melihat wajah Fadhil yang begitu serius. Dan justru terlihat menakutkan.


"Kalau begitu aku minta satu hal. Apa kamu mau melakukannya?"


"Baik. Apa pun itu asal masih dalam kesanggupanku."

__ADS_1


"Kembalikan Safira pada ibunya. Aku tidak melarang kamu membiayai hidupnya sampai dia mendapatkan pekerjaan. Tapi mulai sekarang, aku nggak ingin dia tinggal bersama kita," ucap Za yang membuat Fadhil terdiam.


__ADS_2