
"Gimana?"
Bukannya menjawab, Za justru menangis menghambur ke arah Fadhil. Tangannya menggenggam alat tes kehamilan. Dua kali mencoba inseminasi, dua kali pula dia mengalami kegagalan. Rasanya berat untuk menunjukkan hasil tes itu pada Fadhil. Meski dia pasti akan tahu reaksi Fadhil pasti tidak menunjukkan kekecewaan. Tapi dia mampu menakar dalamnya isi hati suaminya. Apalagi yang diharapkan oleh pria yang sudah menikah dengan kemapanan ekonomi. Tentu saja hadirnya anak-anak sebagai penerusnya.
"Gagal lagi," ucap Za lirih. "Apa mungkin aku benar-benar tidak bisa hamil."
Fadhil mengusap yang bersandar di dadanya. Setelah mengetahui kondisi Za, dia harus menekan keinginannya. Karena tidak ingin membebani pikiran sang istri. Yang pasti akan berakhir menyalahkan diri sendiri. Cukup baginya menua bersama Za. Terlebih sudah ada Alif. Meski bukan darah dagingnya, tidak masalah baginya. Mungkin bayi itulah yang dikirim Tuhan untuk mengisi kekosongan yang dirasakan mereka. Hadir di saat yang tepat bahkan Alif pun hanya akan mengenal dirinya dan Za sebagai orang tuanya.
"Ma…ma…ma!" suara Alif yang duduk di atas ranjang memanggil. Bayi itu mengangkat-angkat tubuhnya sambil mengulurkan tangannya.
"Apa, Sayang?" sahut Fadhil.
"Za, Al cemburu. Minta digendong dia."
Za pun melepaskan dirinya. Mendekati ranjang dan merebahkan dirinya. Seolah tak terjadi sesuatu, dia mengangkat tubuh Alif dan membuat bayi tujuh bulan itu tertawa. Tawa yang seketika menghapus kesedihannya.
Za ingin menyerah, karena mungkin memang hanya Alif saja yang akan menjadi anaknya. Tapi ketakutan itu entah kenapa selalu merongrongnya. Ketakutan jika Fadhil pada akhirnya akan mencari wanita lain untuk melahirkan anaknya.
"Kita bersyukur masih punya Alif, Za. Banyak pasangan lain yang sampai menua tanpa memiliki anak dan mereka baik-baik saja. Mereka tetap bisa bahagia meski hanya berdua saja. Kenapa kita tidak berusaha untuk mencontoh mereka?" ujar Fadhil melihat Za kembali diam dengan tatapan kosong.
"Aku takut," gumam Za.
"Takut kenapa?"
__ADS_1
"Takut kalau tiba-tiba kamu berubah pikiran dan diam-diam mencari wanita lain yang bisa memenuhi keinginanmu."
Fadhil terkekeh pelan. "Itu sama sekali tidak pernah terlintas dalam pikiran Mas. Bukankah sudah pernah Mas katakan, apa pun kamu, Mas ridho. Kita sudah lebih dari setahun menikah, kamu belum bisa percaya sepenuhnya. Apa suamimu ini begitu meragukan, Za?"
Za terdiam. Karena sebenarnya ketakutannya itu memang tidak berdasar. Rasa bersalah dan tidak percaya diri lah yang membuatnya merasa demikian.
Fadhil tak pernah memintanya untuk melakukan inseminasi. Semua murni keinginannya. Bahkan Fadhil pernah berpesan agar apa pun hasilnya, dia tidak boleh kecewa. Namun Za tetap memaksa melakukan ulang setelah usaha pertama gagal.
"Sudah, ya. Mas nggak mau membahas masalah ini terus-terusan. Jangan merasa rendah diri. Kita hanya manusia yang tidak lepas kekurangan. Mungkin ini adalah salah satu ujian rumah tangga kita yang harus kita lalui." Fadhil mengusap titik bening yang mulai berkumpul di sudut mata Za.
"Banyak hal yang patut kita syukuri, Za. Daripada harus meratapi apa yang belum kita dapatkan."
Za menghirup nafas dalam-dalam. Fadhil, kenapa setiap ucapannya selalu membuatnya tenang. Seolah menduplikasi ayahnya.
"Kita ajak Al jalan-jalan, yuk!" cetus Fadhil tiba-tiba.
"Libur nyenengin anak istri dulu. Biar makin lancar rejekinya."
Za tersenyum lebar lalu mengaminkan doa suaminya. Za tak pernah tahu berapa penghasilan dari usaha Fadhil. Tak pernah bertanya tepatnya. Namun beberapa bulan terakhir, keinginannya membeli tanah dan membuat rumah kost sudah terkabul. 10 kamar kost VIP yang harga sewanya cukup menguras kantong karena lokasinya di tempat strategis. Dan Fadhil membuat surat atas nama dirinya. Bahkan rumah baru yang hanya ditempati beberapa hari pun surat kepemilikannya atas nama Za. Alasannya sungguh membuat Za terharu bahkan sedih. Jika Fadhil sewaktu-waktu meninggal lebih dulu, Za tidak perlu repot-repot mengurusnya.
"Ayo siap-siap!" kata Fadhil kemudian. Tentu saja menyiapkan perlengkapan Alif yang paling banyak.
"Mau ke mana memangnya? tanya Za.
__ADS_1
"Maunya ke mana? Ke mall? Ke pantai?" Fadhil tampak berpikir sejenak. "Ke kebun binatang mau?"
"Kebun binatang? Ngapain?"
"Ngajak Alif jalan-jalan. Biar tahu dunia luar selain rumah sama mall," sahut Fadhil. Karena selama tujuh bulan usianya, tempat itulah yang pernah dikunjungi Alif.
Za pun akhirnya mengangguk setuju. Tempat itu mungkin terakhir lagi dia kunjungi saat masih sekolah dasar. Orang tuanya sesekali mengajak ke sana. Liburan yang dekat dan tidak membutuhkan biaya banyak. Karena hanya terletak di pinggir kota.
Satu tas Alif sudah dipenuhi dengan perlengkapan bayi. Za menggendong Alif turun karena tasnya sudah dibawa oleh Fadhil.
Alif terlihat senang sekali jika diajak bepergian. Salah satu kebiasaan baru yang diajarkan Fadhil, mengajak bayi itu berkeliling komplek setiap akan berangkat kerja. Sehingga saat terlewat, Alif pasti akan merengek.
"Kok lewat sini, Mas?" tanya Za saat menyadari jika jalan yang dilaluinya bukan arah menuju ke kebun binatang. Melainkan arah ke selatan.
"Mau ke kebun binatang, kan?" tanya Za lagi karena Fadhil hanya senyum-senyum.
"Iya. Kebun binatang yang di Jogja."
"Hah?!" Za terbelalak. "Kamu…. Kenapa nggak bilang kalau ngajak ke Jogja?" ujarnya kesal karena dia tidak membawa persiapan untuk perjalanan jauh.
"Yang penting persiapan pumya Al sudah ada. Kita gampang, Za," sahut Fadhil dengan santai.
"Tapi kan bawanya cuma sedikit, Mas. Aku pikir siang kita udah pulang lagi."
__ADS_1
"Nggak. Kita akan nginap di sana."
Za kembali terkejut. Fadhil selalu saja membuat rencana mendadak yang mengejutkan.