Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Menunggu Kabar


__ADS_3

Jam sepuluh malam Za dijemput oleh Safira sepulang kerja. Dia tidak tega membiarkan Safira berada di rumah sendirian malam ini.


"Om Fadhil ke mana?" tanya Safira saat mereka baru saja meninggalkan rumah orang tua Za.


"Ke Bandung katanya," jawab Za. Ada saudara kita yang tinggal di Bandung?" tanyanya kemudian. Karena tadi Fadhil sempat mengatakan jika dia ditunggu Tante Sarah. Salah satu adik ayahnya Fadhil yang memang sudah dikenalnya. "Ada. Anaknya Oma Sarah. Yang namanya Aira. Mami kenal tahu 'kan orangnya?"


Za mencoba mengingat-ingat wajah keluarga Fadhil yang pernah ditemuinya. Namun nama Aira tidak melekat dalam memorinya. Fadhil sehingga sampai saat ini Za belum begitu mengenal semua. Apalagi yang tinggal di luar kota. Apalagi banyak di antara mereka memiliki wajah serupa.


"Lupa," sahut Za setelah gagal mengingat.


"Ngapain Om Fadhil ke Bandung? Ke tempat Tante Aira?"


Za menggeleng. "Nggak tahu. Tadi buru-buru berangkat. Sampai nggak sempat bilang ada apa."


"Belum telepon sampai sekarang?" tanya Safira.


Za kembali menggeleng. Bahkan teleponnya berkali-kali diabaikan. Pesannya juga belum dibaca apalagi dibalas.


"Ngapain, ya?" gumam Safira turut penasaran.

__ADS_1


Mereka pun terdiam. Menuruti pikiran masing-masing yang masih dipenuhi tanda tanya. Terlebih Za yang begitu penasaran karena Fadhil yang masih sulit dihubungi.


"Aira di Bandung kerja?" tanya Za memecah keheningan.


"Kuliah. Bentar lagi lulus," jawab Safira.


Za mengangguk-angguk. Rasa penasaran semakin merongrongnya. Tebak-tebakan di dalam kepalanya justru berakhir membuat kepalanya sakit.


Za kembali membuang pandangannya ke jalan. Menatap keramaian jalanan akhir pekan. Bahkan Safira harus melajukan kendaraan dengan lambat karena kemacetan di beberapa titik.


"Nggak mau mampir ke mana dulu, Mam?" tanya Safira.


"Nggak lah. Sudah malam. Kamu juga capek."


Entah kapan terakhir kali Za menghabiskan waktu akhir pekan. Karena semenjak dia menjadi ibu rumah tangga full, setiap hari terasa akhir pekan. Bahkan sewaktu-waktu hendak jalan pun Fadhil selalu siap mengantarnya.


Mereka pun tiba di rumah dan semua lampu sudah menyala. Za yang menyuruh ART-nya untuk menyalakan semua lampu sore tadi. Agar saat pulang mereka tidak kegelapan.


Ketika harus berdua saja di rumah, tentu saja Za tidak bernyali untuk tidur sendirian di kamarnya. Rumah yang sudah berumur dengan kesan klasik entah kenapa membuat Za ciut. Lain halnya jika ada Fadhil di rumah.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri Za kembali turun dan mengetuk pintu kamar Safira.


"Mami tidur di sini, ya?" ujar Za saat Safira membuka pintu.


Gadis di depannya itu pun terkekeh. Lalu membuka pintu lebih lebar agar Za bisa masuk ke dalam kamarnya.


Meski malam semakin larut, Za masih sulit memejamkan mata. Pikiran mengembara pada suami yang belum terdengar kabarnya. Setidaknya membalas pesan yang dikirim oleh Za. Agar dia bisa tidur tenang malam ini tanpa mengkhawatirkan keadaan suaminya.


Za mencoba kembali menelepon Fadhil. Sekali, dua kali, hingga ketiga kali panggilannya terhubung. Za tersenyum lega.


"Hallo. Assalamu'alaikum. Mas?"


"Wa'alaikumsalam. Ya, Sayang. Maaf Mas baru bisa angkat telepon. Tadi lagi fokus di jalan."


"Iya. Ini sudah sampai?"


"Sudah baru saja sampai. Kamu kenapa belum tidur. Ini sudah jam satu malam, Za."


"Aku nggak bisa tidur sebelum dengar kabar dari kamu, Mas," sahut Za jujur.

__ADS_1


"Iya, iya. Maaf. Sekarang tidur, ya. Mas baik-baik saja."


Bukan itu jawaban yang diharapkan Za. Dia hanya ingin tahu untuk apa Fadhil pergi ke Bandung dengan terburu-buru. Apalagi suara berisik di sekeliling Fadhil semakin membuatnya penasaran. Namun Fadhil justru mengakhiri panggilan karena ada hal penting yang harus diurusnya. Dan itu justru semakin membuat Za tidak mampu memejamkan mata sampai terdengar suara adzan subuh.


__ADS_2