
"Tampan sekali anak ini, Za. Kalian seperti memiliki ikatan darah. Wajahnya hampir mirip dengan Fadhil," ujar Ibu Za saat Alif selesai dicukur rambut. Dan kepala bayi itu kini telah bersih tidak tersisa rambut satu pun. Za semakin gemas melihatnya.
"Mungkin sudah jadi jodohnya kami, Bu," sahut Za.
"Iya. Meskipun dia bukan darah dagingmu, jaga dia selayaknya anak kandung. Dia juga amanah untuk kalian."
Za tersenyum mendengar penuturan ibunya. "Iya, Bu."
Za tak menyangka jika di acara aqiqah Alif akan banyak saudara yang datang. Selain ibu dan ayahnya, Bian, Alya dan keluarganya juga datang. Semua tanpa persiapannya. Karena dia hanya tahu pegawai dari katering yang datang pagi untuk menyiapkan semua. Dan sore harinya acara berjalan seperti yang mereka inginkan.
Keputusan mereka untuk mengangkat anak tentu saja mengejutkan. Sekaligus membahagiakan. Za tahu akan banyak pertanyaan tentang penyebab dirinya dan Fadhil mengambil anak angkat. Desas-desus mandul pasti akan beredar. Namun Za tidak peduli akan hal itu. Karena Fadhil yang selalu menguatkan dia saat ingin terpuruk dengan kondisi yang dialaminya. Terlebih sekarang sudah ada Alif yang menjadi pewarna kehidupan mereka.
Saat banyak pertanyaan tentang asal muasal bayi itu, Za mengatakan jika mereka mengambilnya dari rumah sakit. Sesuai kesepakatannya dengan Fadhil. Ya, semua orang hanya akan tahu mereka mengambil Alif dari rumah sakit. Ada seseorang yang masih harus dijaga perasaannya. Tante Sarah yang mengalami guncangan mental setelah mengetahui anak gadisnya melahirkan bayi tanpa ikatan pernikahan. Bahkan hingga acara selesai, dia tak pernah datang. Zara, anak pertamanya mengatakan pada Fadhil jika mamanya mengurung diri di dalam kamar dan tidak mau diajak bicara. Sehingga rencana datang di acara aqiqahan Alif pun gagal.
"Ibu jadi berat mau pulang," ujar Bu Rahma sambil menimang bayi Alif.
"Nginap di sini aja, Bu. Ibu sama Ayah 'kan belum pernah nginap."
"Besok ayahmu masuk kerja."
Selalu alasan itu saja yang didengar Za. Tapi dia tahu ayahnya hanya tidak bisa tidur jika bukan di rumah sendiri. Sehingga tidak pernah mau menginap. Apalagi rumah mereka masih dalam satu kota. Malam hari pun mereka akan pulang.
Meski dengan berat hati, Bu Rahma menyerahkan Alif ke pangkuan Za. "Sering-sering pulang ke rumah, Za. Ibu pasti akan kangen banget sama Al."
"Iya, Bu. Seminggu sekali kan Za pasti pulang," sahut Za melihat wajah ibunya yang terlihat sedih harus meninggalkan Alif.
Za mengantar ibunya sampai ke depan rumah. Menemui ayahnya yang berbincang dengan Fadhil.
"Sudah mau pulang?" tanya Ayah Za melihat Bu Rahma keluar membawa tasnya juga tas besar berisi kotak-kotak makanan. Fadhil terlalu banyak memesan menu sehingga tersisa banyak. Sebagian sudah dibawa oleh saudara yang lebih dulu pulang.
__ADS_1
"Sebenarnya sih belum. Tapi sudah malam. Besok Ayah 'kan kerja," sahut ibu Za.
Laki-laki paruh baya itu pun beranjak dari kursinya. Selain waktu sudah malam, anak dan menantunya pasti butuh istirahat setelah sibuk dengan acara sore tadi.
"Hati-hati, Yah!" seru Za saat motor matik ayahnya melaju.
Za menatap haru kedua orang tuanya yang semakin menjauh dan keluar dari pagar. Jika bukan karena paksaan kedua orang tuanya, dia tak akan mendapat suami sebaik Fadhil. Tinggal di rumah besar dengan semua fasilitas sehingga tak perlu lagi memikirkan bagaimana harus bersusah payah mencari uang.
"Mas mau belikan Ayah mobil," celetuk Fadhil tiba-tiba.
"Hah?! Mas bilang apa barusan?" tanya Za terkejut.
"Mas mau beli mobil untuk Ayah sama Ibu. Biar mereka nggak kepanasan atau kehujanan lagi kalau pergi naik motor," jelas Fadhil.
"Mas. Itu berlebihan. Ayah sudah biasa naik motor," sahut Za melarang. Fadhil sudah terlalu baik padanya. Dia merasa tidak enak jika suaminya itu harus mengeluarkan uang banyak untuk kedua orang tuanya.
"Nggak ada yang berlebihan untuk orang tua, Za. Ayah semakin tua, keseimbangannya pasti akan berkurang. Kamu lebih tega melihat Ayah sama Ibu panas-panasan di jalan atau harus repot memakai jas hujan?"
Fadhil menghela nafas panjang. Mendengar ucapan Za yang justru membuatnya sedikit kesal.
"Harus Mas bilang lagi, kalua uang Mas itu uang kamu juga? Mas berniat membelikan mobil untuk Ayah sebagai ucapan terima kasih, karena telah memberikan anak perempuannya untuk Mas."
Za tidak tahu apa yang dilihat Fadhil darinya. Wajahnya memang cantik, tapi banyak perempuan lebih cantik dari padanya. Kemampuannya melakukan peran sebagai ibu rumah tangga pun biasa-biasa saja. Bahkan dia tak pandai memasak. Memberikan anak untuk Fadhil pun rasanya hal mustahil. Za tak merasa dirinya istimewa.
"Terserah kamu lah," ucap Za kemudian lalu dia membawa masuk kembali Alif ke dalam rumah.
Menolak keinginan Fadhil pun dia tidak ada alasan lagi. Selain merasa tidak enak. Dia tidak ingin membebani Fadhil terlalu banyak.
"Kok terserah. Mas minta dukungan dari kamu."
__ADS_1
"Iya. Nanti aku dukung. Pilih nomor berapa Bapak Fadhil?'
Fadhil menggeleng mendengar candaan Za. Dia membuntuti Za yang naik ke kamar untuk meletakkan Alif yang sudah terlelap. Meski kamar di sebelah sudah selesai diubah menjadi kamar Alif namun Za masih saja membawa bayi itu ke dalam kamarnya. Tidak tega menjadi alasannya.
"Nggak ditidurkan di kamar sebelah?" tanya Fadhil.
"Nanti saja. Kalau kita sudah mau tidur," sahut Za. "Mas nggak makan dulu?" Za mengingatkan Fadhil karena dia hanya melihat Fadhil sibuk menyambut tamu-tamu mereka.
"Temani, ya,"
Za pun kembali turun dari ranjang. Kadang kala Fadhil memang masih menunjukkan sifat manjanya. Meski sangat jarang. Sebanyak apa pun usia, sifat manja ternyata masih melekat dalam diri anak bungsu keluarga itu.
Za mengambilkan makanan yang sengaja disisakan di meja makan untuk makan malam mereka. Sedikit nasi sesuai permintaan Fadhil.
"Mas bilang Ayah kalau mau beliin mobil?" tanya Za saat menunggu Fadhil makan.
"Ya nggak lah. Orang tua kalau mau dibelikan sesuatu untuk anaknya pasti menolak dengan alasan mendang-mending."
"Ya memang begitu. Apalagi Ayah style-nya selalu sesuai isi dompet," sahut Za seraya mengambil sate kambing.
"Makanya tugas kita menyenangkan mereka. Biar mereka bisa menikmati masa tuanya. Kalau bisa Mas mau Ayah pensiun dini saja."
"Mana mungkin mau, Mas. Ayah nggak punya kesibukan apa-apa selain pergi ke kantor," balas Za lagi.
"Mas!" panggil Za kemudian.
"Hmm?" Fadhil menyahut dengan berdehem karena mulutnya penuh makanan.
"Makasih ya, sudah memikirkan Ayah dan Ibu juga," ucap Za.
__ADS_1
"Kok makasih, Ayah sama Ibu kan orang tua Mas juga."
Za tidak tahu lagi harus berucap apa selain memeluk suaminya.