Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Masa Lalu


__ADS_3

"Apa belum cukup melihatku selamanya menanggung rasa bersalah padamu. Sampai kamu tega membuat Safira ikut-ikutan membenciku."


Fadhil menatap sekilas wajah wanita di depannya. Air mata selalu dijadikan alat untuk mengiba. Sayang hatinya tidak bisa lagi tersentuh oleh wajah nelangsa wanita yang dulu sempat mengisi hatinya.


"Aku tidak pernah membuat Safira membencimu. Banyak-banyaklah bercermin agar dirimu tahu kenapa anakmu sendiri membencimu." sahut Fadhil.


"Dan satu lagi, jangan pernah mengungkit yang sudah berlalu. Urusan kita sudah selesai sejak kamu menerima perjodohan dengan Mas Farhan," ucap Fadhil lagi dengan penegasan.


Hatinya memang pernah patah. Kala wanita yang berjanji akan setia menemaninya ternyata lebih memilih laki-laki lain. Yang tidak lain adalah kakak kandungnya sendiri. Dia pikir Lany wanita paling baik. Yang mau menerima dia apa adanya. Meski usianya pun terpaut dua tahun lebih muda dari Lany.


Fadhil ingin marah namun dia sadar diri saat dibandingkan secara pencapaian. Dan orang yang membandingkan itu justru kekasihnya sendiri. Kala itu dia memang bukan siapa-siapa jika tanpa memandang orang tuanya. Hanya seorang mahasiswa yang memberanikan diri membuka bengkel kecil-kecilan agar hidupnya tidak selalu di cap sebagai anak nakal yang selalu menyusahkan orang tua. Meski hasilnya hanya cukup untuk makan dan sesekali mengajak Lany jalan.


Fadhil muda bukan seperti yang sekarang. Dia anak yang susah diatur dan seringkali membuat orang tuanya geram. Beberapa kali dimasukkan ke pondok pesantren saat sekolah menengah namun dia selalu saja kabur. Hidupnya semuanya sendiri menuruti jiwa mudanya.


Berbanding terbalik dengan kakaknya yang selain pintar, Farhan juga penurut. Anak pertama yang menjadi kebanggaan orang tua. Karirnya moncer di yang baru 28 tahun sudah menjadi petinggi di sebuah instansi. Hal itu semakin membuat orang tuanya bangga. Dan Fadhil semakin tenggelam karenanya.


Meski selalu mendapat pujian, sang kakak tidak lantas tinggi hati. Dia selalu menyemangati Fadhil. Bahkan memberikan modal untuk membuka usaha. Bengkel itu masih berdiri dan semakin berkembang sampai sekarang.


Entah karena terlalu penurut atau terlalu polos, Farhan tidak menolak saat orang tuanya mengajukan perjodohan dengan anak dari teman ayahnya. Tanpa mencari tahu lebih dulu siapa gadis itu. Hanya melihat foto yang cantik dan tampak luwes, Farhan mengiyakan begitu saja. Bisa dikatakan mereka menikah tanpa cinta. Meski akhirnya semua terungkap jika Lany pernah menjalin hubungan dengan adiknya. Tetapi pernikahan mereka telah berlangsung bahkan Lany pun telah mengandung.


Menyesal pun sudah percuma. Farhan hanya bisa meminta maaf meski Fadhil tidak mempermasalahkannya lagi. Fadhil hanya menyayangkan, Lany tidak pernah bisa menjadi istri yang baik untuk kakaknya. Pembangkang dan juga selalu menuntut. Gaya hidupnya berubah setelah menjadi istri seorang petinggi sebuah instansi pemerintahan. Tak cukup dari gaji suami, setelah lulus kuliah dia memaksa untuk bekerja. Meninggalkan Safira bayi dengan baby sitter. Bahkan Lany tidak menolak saat harus dimutasi ke luar kota. Dia rela mengorbankan keluarganya demi ambisinya, hidup bergelimang kemewahan.


"Aku menyesal. Apa itu nggak cukup, Dhil. Berulang kali aku mengatakannya tapi kamu nggak pernah peduli," sesalnya.

__ADS_1


"Keputusanku waktu itu adalah hal yang paling kusesali," Lany menyusut sudut matanya.


"Cukup, Lan! Tidak seharusnya kamu mengungkit hal itu lagi. Kamu yang memilih meninggalkanku. Dan sekarang kamu bersikap seolah-olah aku yang menyakitimu." Fadhil menyodorkan kotak tisu lebih dekat ke depan Lany.


"Aku sudah menikah. Tolong jaga sikapmu. Jangan membuat istriku salah paham dengan sikap kamu ini."


Lany tersenyum sinis. "Apa kamu yakin istrimu itu tulus sama kamu? Dia masih muda, apalagi yang dia lihat dari dirimu selain karena harta."


"Dia bukan wanita sepertimu!" balas Fadhil tegas. Namun tidak juga membuat Lany merasa segan.


"Kita lihat saja. Nantinya kamu akan paham, siapa yang sungguh-sungguh mencintaimu. Aku atau istrimu yang baru kemarin kamu nikahi itu."


Fadhil membuang nafas kasar. Berbicara dengan Lany memang selalu menguras emosinya. Padahal dulu Lany gadis yang lembut. Meski kadang sedikit egois. Namun entahlah, wanita itu benar-benar berubah.


Lany justru melipat tangannya dan enggan beranjak dari kursi. Merajuk seperti anak kecil.


Melihat sikap Lany yang kekanakan, Fadhil semakin muak. Lany benar-benar keras kepala. Bahkan terang-terangan diusir pun dia tidak beranjak.


"Dhil!" Lany semakin merajuk saat Fadhil mengabaikannya.


"Jadikan aku istri keduamu. Aku janji akan jadi istri yang baik untukmu." Fadhil tersenyum miring. Ini bukan sekalinya Lany meminta untuk dinikahi. Baginya pantang memungut kembali apa yang sudah dibuangnya. Perasaannya pada Lany telah mati dan terbuang tak bersisa.


"Kamu pikir selama ini aku memilih menjanda demi apa kalau bukan karena kamu. Aku belum lupa bagaimana panasnya ciumanmu meski itu sudah berlalu puluhan tahun. Aku ingin mengulanginya lagi. Sekali saja, Dhil!!" Lany menggigit bibir bawahnya menggoda Fadhil.

__ADS_1


Lany beranjak dari kursi dan mendekatkan wajah ke arah Fadhil. Tubuhnya yang membungkuk memperlihatkan belahan di celah kemejanya yang tidak terkancing sempurna. "Aku merindukanmu. Please!" ucapnya setengah berbisik.


"Jangan gila kamu Lan!" Fadhil menepis lengan Lany yang hendak mengusap wajahnya.


"Jangan membohongi dirimu sendiri, Sayang. Aku tahu kamu selama ini menahan hasrat padaku. Hanya saja kamu terlalu gengsi."


Fadhil beranjak dari kursinya dan berlalu meninggalkan Lany. Namun saat dia membuka pintu, Za telah berdiri di depan pintu entah sejak kapan. Fadhil tertegun melihat wajah istrinya yang juga tengah menatapnya. Dia menoleh ke dalam dan mendapati penampilan Lany yang membuatnya meradang. Wanita itu membuka sebagian kancing bajunya dan rambut yang tadi terlihat rapi kini terlihat sedikit berantakan. Pandangannya kini beralih ke arah Za yang wajahnya berubah merah.


"Makan siangmu, Mas!" Za mengulurkan tas berisi kotak makan lalu membalikan badan.


"'Dek!" Fadhil mencekal tangan Za secepatnya.


"Kamu salah paham, Sayang!" Fadhil menarik Za hingga jatuh ke pelukannya.


"Lepas, Mas. Aku mau pulang. Sepertinya aku datang di saat yang tidak tepat." Sekuat tenaga Za mendorong tubuh Fadhil dan meninggalkan tempat itu. Mengabaikan tatapan penuh tanya beberapa karyawan Fadhil yang memperhatikannya. Dia hanya menahan agar air matanya tidak tumpah.


Sementara itu, di dalam ruang kerja Fadhil, Lany tersenyum puas. Dia mendekati Fadhil yang masih mematung di depan pintu.


"Kenapa tidak kamu kejar? Hmm?" ucapnya dengan remeh.


Fadhli menarik lengan Lany ke luar ruangan lalu menutup pintu dengan kasar. Tak peduli penampilan Lany yang pasti akan mengundang perhatian para karyawannya. Mungkin saja mereka akan mengira jika Fadhil memiliki skandal dengan kakak iparnya. Fadhil tidak memusingkan hal itu.


"Dhil! Buka pintunya! Tasku di dalam!" Lany berteriak sambil menggedor pintu.

__ADS_1


Fadhil meraih tas tangan yang tergeletak di meja. Lalu melemparnya keluar setelah membuka pintu.


__ADS_2