
Mbak Za!"
Za menoleh saat mendengar seseorang memanggilnya. Setelah mengedarkan pandangan, dia mendapati Alya berada di dalam mobil yang berhenti di depannya.
Semenjak keluar dari rumah tadi, entah sejauh mana dia berjalan. Hingga tanpa sadar sudah berada di trotoar.
"Ngapain di sini?" tanya Alya.
"Aku…" Za memutar otak mencari jawaban yang tepat agar Alya tidak curiga.
"Ayo masuk, Mbak!"
Za masih memaku diri di tempatnya. Sampai pintu samping terbuka dan Bian keluar menghampirinya.
"Mau ke mana kamu, Za? Pulang?"
Bian selalu saja mengerti isi kepalanya. Za tidak punya pilihan lain selain mengangguk. Berbohong pada Bian adalah hal sia-sia. Karena sepupunya itu tahu jika Fadhil tidak pernah membiarkannya pergi sendiri. Keberadaannya di trotoar yang jauh dari tempat tinggalnya tentu saja memancing kecurigaan Bian jika dia sedang ada masalah dengan suaminya.
"Sudah makan belum, Za?" tanya Bian saat akan kembali melajukan mobil.
"Belum."
"Kebiasaan," gumam Bian. Tampak sekali jika Za memang sedang memiliki masalah.
"Makan bakso rusuk mau nggak? Alya lagu ngidam bakso," ujar Bian lagi.
"Ngidam? Kamu hamil lagi, Ya?" tanya Za.
Alya tampak membalas dengan tersenyum dari kaca spion.
"Syukurlah," ucap Za kemudian.
Melihat aura Alya yang terlihat bahagia, ingin rasanya dia seperti istri sepupunya itu. Melewati masa hamil tanpa banyak masalah. Bisa minta ini itu pada suaminya. Tidak sepertinya yang merasa semua yang melekat pada diri Fadhil terlihat menyebalkan.
Bahkan Za justru kagum dengan Alya. Yang terlihat jauh lebih bisa bersikap dewasa meski usianya lebih muda darinya.
"Kamu lagi ada masalah sama Fadhil?" todong Bian tanpa sungkan.
__ADS_1
"Nggak ada."
"Terus kenapa kamu di jalanan kaya orang hilang? Kalau mau pulang kenapa nggak baik taksi atau ojek saja, Za?"
"Males."
Bian menggelengkan kepala mendengar jawaban Za. Sejak kecil Za memang selalu dimanja. Mendapat suami yang usianya jauh lebih tua, Za semakin jadi manjanya.
Bian menepikan kendaraan setelah sampai di kedai langganannya bersama Za. Terakhir kali mereka ke tempat itu entah berapa tahun yang lalu. Saat dia dan Bian belum sama-sama menikah.
Dua wanita itu pun mencari tempat duduk. Kedai bakso sedang tidak begitu ramai. Sehingga mereka bisa mendapatkan meja kosong dengan cepat.
Tak berapa lama pesanan mereka datang. Aroma kuah bakso membuat Za mendadak merasakan lapar. Sejak pagi memang dia tidak mengisi perutnya kecuali dengan air jeruk yang tetap dimuntahkan lagi.
"Makan yang banyak, Za. Bayimu butuh makan," ujar Bian sambil mengangsur mangkok bakso ke depan Za. Bahkan istrinya mengambil sendiri mangkoknya. Namun Alya yang sudah tahu kedekatan Bian dengan Za tidak mempermasalahkan hal itu.
"Mas, sambalnya!" gerutu Za saat Bian menjauhkan mangkok sambal setelah Za memasukkan satu sendok sambal ke mangkoknya.
"Ingat yang di perut!"
Za mendengus. Namun dimakannya juga bakso meski dengan kepedasan yang hanya sedang. Sembari memperhatikan Bian yang menuangkan kecap ke mangkok Alya.
"Uhuk! Uhuk!"
Bian gegas membuka botol air mineral dan memberikannya pada Za. "Minum dulu!"
"Mbak Za pasti ngelamun," tebak Alya.
Za tak menjawab. Dia meneguk air putih itu dari dalam botol. Hingga rasa pedasnya di kerongkongannya berkurang.
"Mas, aku mau pulang, ya," ucap Za tiba-tiba.
"Loh, ini belum kamu habiskan, Za. Kamu mau pulang ke rumah ibumu, kan? Nanti bareng aja. Kita cuma mau makan bakso terus pulang, kok."
"Nggak. Nggak usah, Mas. Ini baksonya aku bungkus saja." Za mengambil bakso yang baru berkurang satu butir itu untuk di bungkus. Sayang kalau ditinggalkan.
Setelah mengucapkan terima kasih dan pamit pulang, Za memesan ojek online. Sepanjang jalan, Za tak mampu membendung air mata yang mendadak ingin keluar. Entah sebab apa. Za pun tidak tahu. Dia hanya ingin menangis saja saat ini.
__ADS_1
Bahkan hingga sampai di rumah, dia mengucapkan terima kasih pada driver ojek sembari menunduk. Lalu bergegas membuka pagar rumah.
"Mas!" panggilnya pada orang yang sedang mencuci motor.
Za melepas plastik di tangannya lalu menghambur mendekap lelakinya. "Maaf," ucapnya sembari berurai air mata.
Tangan Fadhil yang basah membalas dekapan Za. Dan membiarkan istrinya itu menumpahkan air matanya hingga tubuhnya yang shirtless itu basah. Berkali-kali dikecupnya pucuk kepala istrinya. Hingga beberapa lamanya isakan itu mereda.
"Masuk, yuk!" Fadhil melingkarkan lengannya di pinggang Za dan mengajak istrinya itu masuk ke dalam rumah.
"Mandi, ya? Mas siapkan air hangatnya."
Za mengangguk pelan. Dia tidak lagi merasa jijik dengan suaminya. Justru ingin memaki dirinya yang masih selalu keras kepala. Seolah tidak memiliki rasa syukur memiliki suami penyabar seperti Fadhil.
Berendam air panas sedikit melegakan beban pikirannya. Za memungut handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Lalu menggunakan kain tebal itu untuk membungkus tubuhnya.
"Mas nggak mandi?" tanya Za saat Fadhil mengambilkan baju ganti untuknya.
"Sudah," jawab sang suami.
"Sudah? Kok nyuci motor?"
.
"Memangnya ada aturan sehabis mandi dilarang cuci motor?"
Za tertawa pelan. "Nggak ada, sih," sahutnya. "Aduh, Mas!" Za menepuk dahinya seketika.
"Kenapa?"
"Tadi aku bawa bakso. Coba lihat ke depan!"
Za bergegas mengenakan piyamanya lalu menyusul Fadhil yang sudah lebih dulu keluar.
"Gimana, Mas?"
"Ya pecah. Tadi kamu banting."
__ADS_1
"Yah, sayang. Padahal itu baru dimakan sedikit."
"Makanya jangan main film india. Udah nanti beli lagi habis maghrib," jawab Fadhil yang membuat Za terkekeh.