
"Pakai mobil saja, Dhil. Kasihan Za kalau harus naik motormu," ujar Pak Irsyad saat Fadhil.
"Dek Za, Pi." sarkas Fatma dengan senyum menggoda Za yang mendadak merona.
Pembicaraannya dengan Fadhil rupanya terekam oleh Fatma. Sehingga menjadi bahan ledekan untuk Za.
Fadhil pun menerima usulan om-nya. Mengingat motornya yang pasti membuat Za merasa tidak nyaman saat membonceng. Motor sport itu juga yang menjadi alasan Za menolak diantar oleh Fadhil. Karena akan sulit menjaga jarak.
Dengan menumpang mobil Pak Irsyad, mereka meninggalkan rumah itu. Hampir setengah perjalanan keheningan menyelimuti keduanya. Tidak ada yang berniat memulai percakapan. Za membuang pandangannya sepanjang jalan melalui kaca samping. Sedangkan Fadhil fokus dengan jalan di depannya. Mendadak Za yang cerewet menjadi pendiam di depan laki-laki itu.
Sampai di persimpangan, Fadhil mengambil arah yang berbeda dari jalan menuju rumah Za.
"Kok lewat sini, Mas? Bukannya makin jauh?" tanya Za karena jalan yang dipilih Fadhil akan memakan waktu lebih lama untuk ditempuh.
"Ada acara di Simpang Lima. Jalan dialihkan."
Za terdiam. Dia merogoh gawainya untuk mencari informasi kebenaran ucapan Fadhil. Entah kenapa dia tidak percaya sepenuh ucapan pria di sebelahnya. Sebuah berita di media sosial pun meyakinkan Za jika benar ada acara konser musik band kenamaan.
"Kita mampir sebentar, ya? Saya butuh bicara berdua dengan kamu."
Za menoleh seketika. Benar kan, dugaannya? Jika Fadhil memang mempunyai rencana tanpa membuat kesepakatan lebih dulu dengannya.
"Langsung pulang saja, Mas. Ayah sama Ibu pasti khawatir karena saya sudah pergi sejak sore," tolak Za yang memang enggan menuruti kemauan Fadhil. Memangnya apalagi yang ingin dibicarakan? Mereka tidak punya urusan apa pun untuk diselesaikan. Kalau hanya untuk sekedar ngobrol tentu saja Za menolak.
Fadhil terlihat mengambil gawai di saku celananya. Jarinya mengusap layar untuk mencari nomor seseorang.
"Assalamu'alaikum, Bapak!"
"Wa'alaikumsalam. Ada apa Nak Fadhil? Ini Ibu. Bapak sedang di masjid." Terdengar suara ibu Za dari seberang telepon. Karena ponsel Fadhil di-loudspeaker.
"Ya sudah dengan Ibu saja tidak apa-apa. Sekarang Za sedang bersama saya, Bu. Saya minta ijin untuk mengajak Za. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengannya. Tidak lama. Sebelum jam sembilan insyaallah saya antar Za pulang. Boleh kan, Bu?"
"Ooh. Tidak apa-apa, Nak Fadhil. Boleh."
__ADS_1
Za mendengus mendengar sahutan ibunya bahkan jika Fadhil membawanya pulang ke rumah lelaki itu pun mungkin ibunya akan dengan senang hati membolehkan. Sehingga akan punya alasan untuk segera menikahkan mereka.
"Ibu tidak akan mengkhawatirkanmu lagi. Beliau sudah tahu kamu pergi dengan siapa." Fadhil menyimpan kembali ponselnya.
Fadhil menambah kecepatan mobil yang dikendarainya. Semakin naik dan jauh meninggalkan jalan menuju ke rumah Za. Za menyesal kenapa tadi tidak bersikeras untuk naik ojek untuk pulang ke rumah. Perkara motornya yang kempes bisa dia ambil besok dengan Bian. Tapi nyatanya dia tidak kuasa untuk menolak. Karena merasa sungkan dengan Pak Irsyad. Yang kini justru membuatnya terjebak di sebuah kafe puncak bukit yang menyuguhkan indahnya pemandangan kota Semarang pada malam hari.
Dua hot plate beef steak dan dua gelas lemon tea diantar oleh seorang waitress. Semua pesanan Fadhil. Karena Za tidak berminat membuka buku menu. Kata samakan saja menjadi pilihan Za. Karena dia tidak mau pusing memilih menu yang beragam. Meski dia penggemar kuliner, namun bersama Fadhil bukan saat yang dia inginkan. Lain halnya jika Bian yang mengajaknya. Za akan memilih menu sesuka hatinya tanpa merasa canggung. Mengingat Bian, dia masih kesal dengan sepupunya itu yang tadi meledeknya dan membandingkan Za dengan Alya. Istri sendiri pastilah dipuji.
"Dek? Kamu tidak lapar? Kata ibu sejak siang kamu belum makan. Di rumah Om Irsyad tadi juga cuma menemani Mbak Fatma makan rujak, kan?"
Za bergeming. Ibunya kenapa juga harus memberi tahu Fadhil tentang dia yang memang tidak berselera makan sejak beberapa hari ini. Sejak ibunya jarang mengajak Za bicara, hal itu mengganggu pikiran Za.
"Tidak suka steak? Mau ganti menu?"
"Tidak perlu. Kita ke sini karena ada yang mau Mas Fadhil bicarakan dengan saya, kan? Bukan untuk makan."
Fadhil menipiskan bibirnya melihat wajah jutek yang sengaja Za perlihatkan. "Mana mungkin saya membiarkan perut kamu tidak terisi sementara saya tahu kamu belum makan," sahutnya.
Za segera mengambil pisau dan garpu. Lalu mulai memakan steak di depannya. Tujuannya cuma satu, ingin agar Fadhil segera mengungkapkan hal yang ingin dibicarakan lalu Za akan minta di antar pulang secepatnya.
"Enak, kan?"
Za mendongak menatap Fadhil. Dari pertanyaannya, sepertinya kafe itu bukan tempat asing bagi Fadhil.
"Hmm. Lumayan. Mas Fadhil sering ke sini?"
"Tidak terlalu sering. Seminggu mungkin tiga kali atau empat kali."
Za bahkan sampai berhenti mengunyah mendengar jawaban Fadhil. Seminggu tiga atau empat kali makan di tempat yang sama dia bilang tidak terlalu sering. Lalu apa definisi sering menurut Fadhil?
"Ooh. Sendirian? Sama teman pastimya."
Za ingin sekali memukul mulutnya yang bertanya melampaui batas. Dia merutuki dirinya sendiri yang bertanya sedetail itu. Apalagi dengan nada nicara yang menunjukkan kesenjangan. Terbukti Fadhil tersenyum tipis menanggapii ucapan Za.
__ADS_1
Za meneguk minumnya setelah isi piringnya tandas. Dia menunggu beberapa saat sampai Fadhil menyelesaikan makannya. Ditemani gawai untuk mengusir kebosanan.
"Silakan! Apa yang ingin Mas Fadhil bicarakan dengan saya," ujar Za setelah Fadhil selesai dengan makanan di depannya.
Fadhil menatap Za. Sembari menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. Za sampai menunduk karena tidak tahan ditatap sedemikian rupa. Bahkan Za menilai jika Fadhil tetlalu berani.
"Saya ingin tahu alasan sebenarnya Dek Za menolak saya."
Za tertegun mendengar pentanyaan Fadhil. Dia pikir urusan mereka sudah selesai. Sesuai perkataan Fadhil jika dia menerima keputusan Za.
"Apakah kurang jelas yang saya sampaikan kemarin. Jika saya merasa belum siap dan tidak pantas untuk menjadi istri Mas Fadhil," tegas Za.
Fadhil menarik sudut bibirnya. "Dek Za yang merasa tidak pantas, atau saya yang tidak pantas untuk menjadi suami Dek Za? Saya ridho dengan Dek Za apa pun itu. Lain halnya jika saya yang memang tidak pantas untuk Dek Za. Bukankah akan lebih baik berterus terang jika Dek Za sudah ada pilihan yang lain?"
Ucapan Fadhil semakin membuat Za diam. Fadhil sedang menunjukkan sisi dirinya yang lain. Pilihan lain? Mungkin Fadhil mengira jika Bian adalah sosok lain yang dimaksud Fadhil.
"Om!" panggil seorang gadis yang berjalan tergesa-gesa ke arah mereka.
"Pantas telponku nggak diangkat. Rupanya sedang kencan," ujar gadis yang pernah Za temui tengah bersama Bian di mall waktu itu. Gadis 20 tahunan yang mengenakan jumper dan celana jeans itu bahkan tidak canggung menggelendot pada Fadhil meski ada orang asing yang di depannya.
"Fira, Om sedang ada perlu dengan teman Om," kata Fadhil bermaksud menyuruh gadis yang disebut Fira itu untuk kembali dengan teman-temannya. Karena dia tadi datang bersama beberapa teman seusianya.
"Minta duit!" rengeknya.
Fadhil membuang nafas kasar. "Yang kemarin habis?" tanyanya. Dan Fira pun menggangguk.
Fadhil mengambil.gawainya. Kemudian membuka aplikasi m-bankingmya.
"Sudah Om transfer."
"Makasih, Om." Gadis bernama Fira itu tersenyum lebar. Lalu meninggalkan Fadhil dan Za untuk kembali ke meja yang dipesan bersama teman-temannya.
Rangkaian kejadian yang dilihat di depannya semakin membuat Za kehilangan respect pada diri seorang Fadhil.
__ADS_1
"Sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, bukan? Saya mau pulang." Za mengambil tasnya lalu beranjak dari tempat duduknya. Tak peduli Fadhil akan menyusulnya atau tidak. Masih banyak ojek atau taksi yang bisa mengantarnya ke rumah. Dia kadung kesal dengan Fadhil yang mengungkit tentang alasan penolakan Za. Dan mengira jika Za sudah punya pilihan lain, padahal dia sendiri yang terang-terangan punya hubungan dengan gadis belia yang usianya bahkan jauh lebih muda dari Za. Za mendadak menjadi berburuk sangka, apa yang dilakukan gadis itu hingga Fadhil begitu royal padanya.