Dilamar Bujang Lapuk

Dilamar Bujang Lapuk
Penolakan Za


__ADS_3

"Dhil, kok kamu tidur di sini?" tanya Tante Sarah saat mendapati Fadhil terbaring di kursi teras belakang.


"Dhil!" panggil Tante Sarah lagi karena Fadhil hanya menggeliat.


"Pindah ke dalam, sana!"


Perlahan mata lelaki itu pun terbuka. Hari masih gelap, namun Tante Sarah sudah bangun. Menandakan jika malam sudah berganti pagi. Tante Sarah memang selalu bangun sebelum subuh.


"Kamu kenapa tidur di sini?"


"Za nggak mau tidur sama aku, Tan," jawab Fadhil.


Tante Sarah menghela nafas pelan. "Sabar, ya. Mungkin bawaan bayi. Dia bukan tidak suka sama kamu."


Fadhil pun mengangguk lesu. Mungkin benar kata Tante Sarah. Dia tidak habis pikir dengan sikap Za semalam. Yang mendadak aneh. Karena Za selama ini tak pernah bisa jauh-jauh darinya.


Bahkan semalam suntuk dia memikirkan hal itu. Entah jam berapa di menyerah pada kantuknya. Yang dia rasakan pagi ini, kepalanya yang terasa berat setelah terbangun oleh suara Tante Sarah.


"Sholat dulu. Nanti tidur lagi kalau masih ngantuk."


Fadhil beranjak dengan malas. Melihat pintu kamar yang masih tertutup, dia berusaha membukanya. Namun terkunci dari dalam. Dia pun memutuskan untuk ke kamar atas. Setelah sholat subuh berniat melanjutkan tidurnya yang mungkin baru beberapa jam. Karena dini hari tadi dia masih terjaga.


Nyatanya dia tak bisa memejamkan mata lagi. Hanya memandangi langit-langit kamar sembari meratapi nasibnya. Baru semalam rasanya sudah begitu menyiksa. Bagaimana kalau Za menghindarinya sampai dia melahirkan. Tentu saja Fadhil akan melewatkan banyak masa kehamilan istrinya. Padahal dia sudah menunggu kehamilan Za bertahun-tahun.


Fadhil menuruni anak tangga. Bermaksud membangunkan Za karena melihat pintu kamar yang masih tertutup rapat. Namun suara berisik di dapur mengalihkan perhatiannya. Perempuan berdaster dengan rambut dicepol yang sejak semalam dirindukannya tengah berdiri di depan kompor. Dia pun memelankan langkah hingga tak bersuara.


Tuk!


Sendok besi itu singgah di tangannya yang melingkari pinggang Za.

__ADS_1


"Kamu nggak rindu, Za?"


"Nggak!" sahut Za ketus. Lalu dia mematikan kompor. Menuangkan air panas itu untuk membuat susu.


"Dek!"


"Apa sih, Mas?! Jangan manja! Dak, Dek, Dak, Dek!"


"Peluk sebentar boleh!"


"Mandi dulu sana! Aku nggak tahan sama bau badan kamu."


Fadhil terbelalak. Dia mengendus ketiaknya. Tidak ada bau badan sama sekali. Bahkan Za kuatru menyukainya karena dia hanya akan terlelap ketika sudah menyusup di bawah lengannya.


"Nggak bau, Za. Apanya yang bau, sih?!"


"Tiap hari kalau mandi juga pakai sabun. Nggak pernah pakai odol," jawab Fadhil.


Za mengabaikan jawaban Fadhil. Susu yang dibuatnya untuk Alif telah siap. Secepatnya dia meninggalkan dapur sembari menutup mulutnya.


"Hoek!" Za tidak bisa lagi menahan rasa mualnya sehingga dia terpaksa kembali ke dapur.


"Jauh-jauh sana, Mas!" usirnya saat Fadhil mendekat untuk membantunya.


"Mas cuma mau bantu kamu."


"Nggak usah!" tolak Za. "Hoek!" Za berusaha memuntahkan kembali isi perutnya.


"Please! Mandi dulu sana, Mas! Keringatmu bau banget!" ujar Za memohon.

__ADS_1


Fadhil membuang nafas kasar. Dia pun menyingkir untuk membersihkan diri seperti permintaan istrinya.


Setelah Fadhil masuk ke kamar, Hanna kembali lega. Bau Fadhil pun tidak terciumnya lagi. Dia mengambil cangkir susu yang sedianya akan diberikan pada Alif. Anak itu pun sudah menyusulnya ke dapur. Mungkin karena terlalu lama menunggu di dalam kamar.


"Mami, sakit!" Alif sudah ketularan Safira memanggilnya mami.


"Enggak," jawab Za. "Ini susunya diminum dulu." Za memberikan cangkir itu pada Alif. Dan meminta anaknya duduk saat minum.


"Mau bobok lagi?" tanya Za setelah isi cangkir kosong.


Alif menggeleng. "Mau main," jawabnya lalu melorot dari kursi. Kemudian masuk ke dalam salah satu ruangan yang sengaja disediakan untuk bermain. Agar mainan Alif yang sangat banyak itu tidak bertebaran. Za berkali-kali menginjak printilan lego dan membuat kakinya kesakitan. Karenanya dia mengusulkan membuat ruangan bermain untuk Alif.


Rencana memasak setelah membuatkan susu pun gagal. Mendadak Za kehilangan mood untuk menyiapkan sarapan. Seperti kata Fadhil, ada banyak orang di rumah itu yang akan menyiapkan makan. Bahkan semenjak Tante Sarah sudah kembali pulih, hampir setiap hati dialah yang memasak.


"Pakai parfumku saja, Mas," ujar Za saat melihat Fadhil keluar dari kamar mandi.


Fadhil pun mengiyakan demi bisa berdekatan dengan istrinya. Tak apa memakai parfum wanita. Lagi pula harli ini dia tidak akan ke mana-mana selain mengantar Alif ke sekolah. Itu pun jika Alif tidak minta berangkat bersama Safira.


Ternyata saat ada orang lain dalam satu rumah itu ada hal yang menguntungkan. Banyak yang bisa membantu mereka saat tidak memungkinkan dikerjakan sendiri. Meski sebagian orang tidak nyaman jika ada orang lain tinggal dalam satu rumah.


"Sudah wangi. Boleh peluk?"


Tanpa menunggu jawaban dari Za, Fadhil mendekap istrinya. Namun hanya sebentar saja, karena Za kembali menghindar dengan alasan akan menyiapkan keperluan sekolah Alif.


"Ini masih terlalu pagi, Sayang. Nanti-nanti juga bisa," ujar Fadhil sambil menahan lengan istrinya.


"Tapi aku nggak mau dekat sama kamu," jawab Za. Kali ini tidak dengan nada ketus. Berharap Fadhil mengerti jika dia benar-benar sedang tidak ingin dekat dengannya.


Fadhil harus kembali mengalah. Dia membiarkan Za keluar dari kamar. Menghadapi kehamilan istrinya ternyata tidak seperti yang pernah dibayangkan.

__ADS_1


__ADS_2