
Setelah semalam Lany menginap, pagi ini dia pun sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan makan pagi. Dia bangun lebih awal dari para penghuni rumah lainnya. Bahkan lebih pagi dari Fadhil yang akan berangkat ke masjid tadi.
"Ku masak semur ayam sama capcay,, Dhil," ujarnya saat Fadhil akan mengambil air putih sepulang dari masjid.
"Terserah kamu," sahut Fadhil.
Lany memang tahu hampir semua masakan kegemaran Fadhil. Ketika dia berada di rumah itu, selalu saja memasak menu-menu yang disukai Fadhil. Selama ini Fadhil tak pernah menolak masakannya.
"Tapi nggak ada jamur di kulkas. Capcaynya nggak pakai jamur," ujar Lany lagi.
"Za nggak suka jamur. Masak yang ada saja. Nggak usah dibuat ribet."
"Ita. Nggak usah ketus gitu kenapa? Nggak usah khawatir, aku nggak akan deketin kamu lagi. Aku tahu kamu nggak bisa membagi hati. Bodohnya aku memang karena dulu ninggalin kamu."
Fadhil tak menyahut. Dia menarik sebuah kursi kemudian meneguk air putih yang baru saja diambilnya.
"Kamu bisa nggak sih nggak usah ngungkit yang sudah lewat, Lan?" sahut fadhil mengingatkan. Karena dia tidak mau tiba-tiba Za muncuk dan mendengar ocehan Lany.
Lany oura-pura tak mendengar. Dia memotong terlihat serius memotong sayuran. Sambil sesekali membolak balik ayam yang tengah dimasaknya.
"Istrimu belum bangun?" tanyanya lagi.
"Sudah."
"Kok belum turun? Nggak da niat buat masakin kamu gitu?
"Kan sudah ada kamu yang masak. Ngapain dia harus ikut ke daour kalau kamu saja bisa menyelesaikan semuanya sendiri."
"Maksudnya, aku dianggap pembantu di sini?"
__ADS_1
"Aku nggak bilang begitu. 'Kan kamu sendiri yang mau masak. Kalau nggak mau taruh saja."
Lany mencebik. Dia kembali ke depan kompor dan memablok ayam yang hampir saja goosng karena kuahnya sudah mengering. Untung saja masih terselamatkan. Dan masih layak untuk dimakan. Di lekas mematikan kompor. Dan kembali menyiapkan bahan capcay.
Sementara Fadhil masih duduk di meja makan dan sibuk denagn gawai di tangannya.
"Udah ada kabar lagi dari Rudi, Dhil?" tanya Lamy menanyakan temtang perkembangan pencarian orang yang menipunya.
Fadhil berdehem. "Nanti siang mobilmu diantar ke sini."
Seperti menadapat sebuah kejutan, Lany memekik senang. "Hah?! Secepat itu?!
"Kalau mau lambat balikin lagi mobilnya sama orang yang nipu kamu itu," sahut Fadhil dengan datar. "Lain kali jangan ceroboh, cari laki-laki yang sepantaran atau lebih tya dari kamu. Yang bisa membimbimg kamu. Jangan gampang kepincut bromdong yang akhirnya justru membohongi kamu. Aku juga yang harus ikut susah."
Lany membuang nafas panjang. "Ya maunya sih begitu, Dhil. Apa daya laki-laki itu sekarang justru jadi milik orang. Ah, sudahlah. Yang oenting mobilmya udah kembali. Mau kamu pakai?"
"Mas pikir belum bangun?" anay Fadhil saat dia mendapati Za temgah duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Sudah dari tadi. Mau ke dapur sudah ada yang masak. Ya susah aku tunggu di sini saja."
Jawaban sedikit ketus dari Za tentu saja menandakan jika dia mungkin mendengar pembicaraan mereka.
"Lari pagi, yuk! Sekalian cari sarapan di stadion." ajak Fadhil kemudian.
"Bukannya sudah dimasakin makanan kesukaan kamu?" sarkas Za.
"Mas lagi pingin sarapan soto.."
Dengan malas Za beringsut turun dari ranjang saat Fadhil menarik tangannya. Padahal dia tidak keberatan Fadhil makan di rumah dengan makanan yang dimasak oleh Lany. Namun suaminya itu rupanya terlalu menjaga rasa.
__ADS_1
Za mengganti pakaiannya dengan celana training dan kaos. Lari pagi adalah hal yang jarang bahkan selama ini tidak pernah dilakukannya. Beberapa kali Fadhil mengajaknya pun Za menolak demgan berbagai alasan.
"Ayo!" Fadhil menggandeng tangan Za yang masih berdia setelah mengganti pakaian.
"Malas, Mas."
"Jangan malas olah raga, Dek. Ini untuk kamu juga."
Za pun mengekor saat Fadhil menarik tangannya keluar dari kamar. Namun langkahnya dia belokkan ke dapur untuk mengambil air putih. Karena sejak bangun tidur tadi dia sengaja menahan haus karena melihat suaminya yang sedang berbincang dengan Lany di dapur.
"Pagi, Za. Mau ke mana?"
"Pagi, Mbak," balas Za. "Masak apa? Mau aku bantu?"
"Nggak usah. Udah beres semua. Tinggal bawa ke meja," jawab Lany sambil menuangkan capcay ke mangkok.
Za oun berinisiatif membawa semur ayam yang masih tergeletak di daour ke meja makan. Yakin, jika Fadhil.menelan saiva melihat masakan Lany. Aromanya saja menggelitik indra penciumannya. Za pun kembali ke dapur untuk mengambil capcay.
"Aku panggil Safira dulu ya, Mbak."
"Hmm. Makasih, Za."
Za mengangguk dan pergi ke kamar Safira. Namun suara Fadhil memanggilnya dari depan.
"Dek, katanya cuma minum. Kok lama?"
Za meringis. "Nggak jadi lari, Mas. Besok-besok saja, ya? Mbak lany masak banyak, tuh. Sayang kalau nggak dimakan. Mubadzir."
Fadhil mengehla nafas pelan. Lalu kembali melepas topi yang dikenakannya.
__ADS_1