
"Dek, kok kamu jadi diam sama Mas? Kenapa?" Fadhil mencecar Za yang sejak dalam perjalanan tadi mendiamkannya. Bahkan selama di meja makan pun Za tidak membuka suara. Selesai makan, Za masuk ke dalam kamar dan Fadhil menyusulnya.
Za bukan kesal pada Fadhil, tapi sikap kurang tegas suaminya yang membuat Lany berbuat semaunya. Seolah tidak menghargai privacy orang lain.
"Aku nggak suka Lany ada di rumah."
Jawaban itu membuat Fadhil terdiam. Dia mengerti kegundahan hati istrinya. Tapi untuk mengusir Lany, hal itu tidak mungkin dilakukannya.
"Lany kan nggak lama di rumah. Paling tiga hari juga sudah kembali ke Surabaya."
"Ini sudah hari ketiga. Dan dia masih anteng-anteng saja di rumah. Mas bisa nggak sih sedikit tegas sama dia? Paling tidak punya lah sedikit rasa menghargai orang."
Fadhil membuang nafas kasar. Hal itu mungkin saja dia lakukan. Namun hatinya tak sampai.
"Atau Mas justru senang dia ada di rumah. Biar setiap hari disuguhi paha sama dada montoknya?"
"Astaghfirullahal'adzim. Nggak gitu, Sayang. Lany itu ibunya Safira. Wajar dong kalau dia datang ke rumah menjenguk anaknya beberapa hari. Kalau tentang pakaiannya, Safira sudah berulang kali mengingatkan. Tapi memang stylenya Lany berubah sejak dia kerja di luar kota. Dulu dia nggak gitu."
"Pokoknya aku nggak suka kalau dia ada di rumah. Aku mau tinggal di sini sampai dia pergi dari rumah. Biar Mas puas lihat dia yang seksi," ujar Za ketus.
"Kalau kamu di sini, Mas juga mau di sini."
Fadhil yang sejak tadi duduk di tepi ranjang, kini merebahkan diri di samping Za yang masih duduk dengan wajah dilipat. Dia tahu, Za tak akan bisa marah lama-lama. Meski ketika marah seringkali meledak-ledak. Namun hanya sesaat pasti sudah kembali melunak.
"Tadi Lany bilang biasa naik mobil kamu duduk di depan. Jadi kalian sering ke mana saja?" tanya Za kembali mengungkapkan kekesalannya.
"Ngantar jemput dia ke bandara," jawab Fadhil dengan santai.
"Oh, jadi sopirnya, to?" sindir Za.
"Dek, udah deh. Nggak usah bahas yang nggak penting kenapa, sih? Masih banyak hal yang bisa dibahas selain membahas orang lain yang justru membuat kamu kesal."
Za mendengus. Dia beringsut turun dari ranjang. Seminggu tidak berkunjung ke rumah orang tuanya, pasti ibunya rindu bercengkerama dengannya.
Dua orang tua itu tengah duduk di sofa. Menikmati buah kelengkeng yang tadi dibeli oleh Za saat dalam perjalanan. Di depan mereka, TV sedang menyala menyiarkan program berita.
"Jangan banyak-banyak, Yah. Gulanya tinggi," ujar Za seraya menghempaskan diri di samping ayahnya.
"Iya. Baru berapa biji."
__ADS_1
Meski sudah dewasa dan sudah menikah, Za masih saja manja dengan ayahnya. Dia menggelendot memeluk ayahnya.
"Nggak malu sama suamimu?" Ujar ibunya mengingatkan.
"Nggak. Biar aja."
Bu Rahma menggeleng pelan. Anak semata wayangnya itu memang kesayangan ayahnya. Bahkan saat kecil seringkali merengek saat hendak ditinggal berangkat kerja.
"Gimana, Za? Udah berhasil belum?" tanya ibunya lagi.
"Berhasil apanya, Bu?"
"Buatin cucu untuk Ibu dan Ayah."
Za menghela nafas kasar. Setelah dituntut untuk segera menikah, kini ada lagi tuntutan ibunya. Meminta Za untuk segera memberi cucu.
"Sabar dong, Bu. Belum.juga sebulan mereka menikah. Biarkan mereka beradaptasi dulu. Nanti kalau sudah waktunya dikasih pasti juga dikasih. Barangkali mereka mau pacaran dulu sebelum merencanakan untuk punya anak."
Za tersenyum senang. Ini baru ayahnya. Yang selama ini selalu berada paling depan membelanya.
"Yah gimana, dong. Bian nunggu Alya lulus dulu. Za mau pacaran dulu. Kapan kita punya cucunya, Yah."
"Kalau sudah saatnya. Sudah nggak usah dipaksa-paksakan. Mengurus anak kan juga nggak mudah. Biarkan Za menyiapkan diri dan mental dulu.
Bagi Za, bisa saja dia menganggap angin lalu. Namun ibunya orang yang mudah tersulut. Dia sabgat peka jika ada yang membandingkan anak perempuannya dengan anak perempuan orang lain. Capek, tentu saja hal itu yang dia rasakan. Karena sekua akan bermuara padanya.
"Dek, Mas pulang dulu ya?" Suara Fadhil didepan pintu kamar membuat ketiga orang itu menoleh.
"Ada perlu?" tanya Za menanggapi.
"Iya. Sebentar saja. Nanti Mas ke sini lagi."
Setelah Fadhil pamit pada ayah dan ibunya, Za mengekor sampai ke depan rumah.
"Ada apa sih, Mas?" tanya Za penasaran.
"Jangan marah dulu, ya. Mas juga nggak tahu pasti apa yang terjadi." Jawaban Fadhil justru memancing rasa ingin tahu Za lebih besar lagi.
"Mbak Min barusan telpon, dia bilang ada kurir bawa banyak barang ke rumah. Barang-barangnya Lany."
__ADS_1
Za terdiam mendengar penjelasan Fadhil. Seberapa banyak barang Lany sampai Mbak Min harus telpon pemilik rumah.
"Kenapa nggak diurusin yang punya barang saja sih, Mas," sahut Za dengan nada tidak suka.
"Lany nggak ada di rumah. Barangnya nggak cuma satu koper tapi satu mobil bak."
"Hah?!" Za ikut terkejut.
Dia pun berinisiatif untuk ikut pulang bersama Fadhil karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah.
Sepanjang jalan Za sibuk menerka-nerka. Wajahnya tentu saja terlihat panik. Lain halnya dengan Fadhil yang tampak tenang mengemudikan kendaraan.
Sesampainya di rumah, beberapa barang berupa koper dan barang rumah tangga lain masih tergeletak di depan rumah. Fadhil danZa menerobos masuk mencari ART mereka. Namun yang ditemui justru Lany yang duduk sambil minum teh di sofa ruang keluarga.
"Sudah pulang kalian?" tanya Lany dengan santai.
Melihat sikap Lany yang menjengkelkan, Za naik ke kamar. Mengabaikan urusan Lany yang pasti akan diselesaikan oleh Fadhil.
"Aku mengajukan mutasi dan di acc. Besok aku sudah mulai bekerja di cabang sini. Dan aku akan tinggal di sini supaya lebih dekat dengan Safira."
"Harusnya kamu bicarakan dulu dengan kami, Lan. Kenapa kamu seenaknya memutuskan sendiri?"
"Kenapa memangnya? Ini rumah bersama. Kamu belum lupa kalau aku ini ibunya Safira, kan?"
Fadhil membuang nafas kasar. "Apa salahnya bicara dulu? Di sini bukan hanya Safira yang tinggal. Ada aku, istriku,"
"Oh, jadi istrimu keberatan aku tinggal di sini? Tolong bilang sama dia, saya juga menantu di rumah ini. Bukan hanya dia. Meski pun Mas Farhan sudah nggak ada, tapi ada anaknya yang juga berhak atas rumah ini." Ucapan Lany membuat Fadhil meradang. Jika Za mendengar, sudah pasti dia akan merasa sakit hati atas tudingan Lany.
"Kaku memang selalu egois!" Fadhil meninggalkan Lany dan menyusul Za ke kamar. Namun yang ditemui justru istrinya itu sedang berdiri di ujung tangga yang sudah pasti mendengar semua perdebatannya dengan Lany.
Za bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia mengambil koper dan mengemasi pakaiannya.
"Sayang, letakkan kembali pakaianmu!"
"Nggak. Lebih baik saya tinggal di rumah Ayah sama Ibu. Daripada di rumah ini."
Fadhil menahan tangan Za yang memasukkan bajunya ke dalam koper.
"Kita memang nggak akan tinggal di sini lagi. Tapi bukan pulang ke rumah Ayah dan Ibu." bujuk Fadhil dengan lembut agar Za mau mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah orang tuanya.
__ADS_1
"Lalu ke mana? Ngontrak?"
"Ikut Mas. Kita kemasi barang-barangnya nanti."