Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
10.


__ADS_3

Tiga hari ini, Axcel sibuk sekali mengurusi keberangkatannya ke Jerman, sehingga setelah keributan waktu itu dengan mantan dosennya, dia tidak menemui Nanda lagi.


Selain dosen itu semakin ketat mengawasi Nanda, Nanda juga harus fokus beradaptasi dengan pekerjaan barunya, sehingga Axcel membatasi video call yang biasa berlangsung semalaman. Mereka kini hanya satu jam saja melakukan panggilan video itu, tetapi tetap romantis dan hangat.


Seperti biasa, Nanda akan pulang lebih lambat dari Hima yang kini pulang lebih awal bersama Cica sang pengasuh. Karena hari ini dia ingin mengambil kebaya di penjahit, dan membuat janji dengan salah satu salon dekat kampus, Nanda memesan taksi. Namun, alangkah terkejutnya Nanda ketika melihat mobil yang akrab di matanya telah terparkir di depan gerbang sekolah Hima.


"Mas Diwa ...." Perasaan Nanda ketika memanggil nama itu adalah takut. Sosok yang melambai dan tersenyum itu membuat Nanda jatuh iba. Diwa memang baik dan dewasa, tapi bagaimanapun, Nanda tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Diwa.


Pria dengan tinggi tubuh menjulang itu mendekati Nanda. "Apa kabar, Nda ...?"


Tangan Diwa terulur untuk menyalami Nanda.


"Baik, Mas ... kok Mas tau kalau aku di sini?" Nanda memandang Diwa. Heran bercampur bingung. Bingung dengan apa yang akan disampaikannya pada pria ini nanti. Melihat wajah tulus Diwa, Nanda tak sampai hati jika harus membuat pria itu kecewa, toh sejauh mereka dijodohkan, Diwa tak pernah membuat Nanda kesulitan.


"Aku nanya sama orang rumah, soalnya aku langsung ke sini dari Bandung." Diwa tersenyum seolah mengerti kebingungan Nanda. Ada yang ingin Mas bicarakan, Nda ... sebelum kita melangkah lebih jauh."


Nanda menatap kedua mata Diwa. "Mas, aku—"


"Katakan itu nanti, yo ... kita makan dulu. Itung-itung kencan," potong Diwa seraya menarik tangan Nanda untuk mengikutinya.

__ADS_1


Diwa senang bertemu Nanda lagi setelah hampir setahun hanya bertukar kabar melalui telepon. Hanya melihat ekspresi kaget dan kebingungan Nanda membuat Diwa sedikit kecewa. Memang, dia tidak pernah menanyakan perasaan Nanda padanya, sebab sebagai pria dia paham mereka hanya terikat perjodohan.


Diwa sudah menyiapkan hati jika Nanda tidak memiliki perasaan apapun padanya, meski Nanda tak pernah menolak telepon darinya. Nanda tak pernah menghindarinya sejauh ini.


Diwa memang sudah merencanakan untuk pulang terlepas dari kabar yang diberikan oleh kakaknya. Namun, jauh dalam hati Diwa juga merasa cemburu dengan foto tersebut. Sebenarnya, dia sudah bertanya dimana Nanda tinggal, dengan siapa, hubungan dengan bapaknya Nanda apa, tapi ketika Diwa ingin bertanya siapa pria tersebut, Diwa ragu. Dia takut itu akan membuat Nanda kesulitan.


Tanpa itu saja Nanda sudah sangat kesulitan menghadapi hidupnya. Diwa tau, sangat tau bagaimana hidup Nanda selama ini.


Diwa punya tekat jika telah menikah dengan Nanda, akan membuat Nanda menjadi wanita yang dipandang penuh penghormatan. Diwa berjanji dalam hati untuk itu.


"Kamu mau ambil kebaya, kan?" Pertanyaan Diwa membuyarkan suasana canggung di dalam mobil yang masih baru ini.


Diwa tersenyum seolah sudah menduga Nanda akan mengatakan itu. "Nggak apa-apa, Mas juga pengen lihat kaya apa hasilnya. Kalau bagus, nanti pesan sekalian untuk akad."


Nanda tersentak beberapa saat lamanya. Dia tak pernah berpikir untuk memesan kebaya akad di sana. Dia tidak ingin menikah dengan Diwa.


"Masih jauh?" tanya Diwa seraya menoleh keluar. Ekspresi dan keterdiaman Nanda seolah menjadi jawaban dari dugaan Diwa. Mungkin kakaknya benar, tapi Diwa tentu belum akan menyerah.


"Nggak, Mas ... tinggal di depan itu, kok." Nanda gelagapan. "Mas nanti langsung pulang?"

__ADS_1


Diwa menghela napas dalam. "Aku pulangnya kan barengan sama kamu. Tujuanku lewat sini, kan biar kita bisa sama-sama, Nda."


"Tapi aku belum libur, Mas ... masih Sabtu nanti. Maklum aku baru kerja tiga hari, Mas." Nanda perlahan mengarahkan pembicaraan ke arah yang menjurus pada keengganan Nanda pulang. Axcel akan berangkat ke Jerman sebentar lagi, meski belum jelas kapannya, selain itu dia akan wisuda hari Senin depan. Tidak mungkin kan, kalau dia kembali ke sini setelah acara itu?


Ah, pokoknya dia tidak mau pulang. Titik.


"Nggak apa-apa, Nda ... Aku pulangnya di hari kamu bisa pulang. Kan kita bisa jalan-jalan dulu di sini, sekalian aku liburan." Diwa kembali tersenyum seolah dia tidak tahu apa yang sedang disembunyikan Nanda.


Nanda benar-benar bingung sekarang. Menentang kemauan Diwa adalah hal yang mustahil sekarang.


"Mas, udah sampai." Nanda terpaksa menghentikan mobil Diwa di rumah jahit milik seseorang yang sudah sangat terkenal di kawasan ini. Meski lebih pantas disebut desainer tapi pemilik rumah jahit tidak mau disebut demikian. Rekomendasi dari Bapak dan Ibu-nya Nuga. Pak Puji dan Bu Hapsari.


Nanda turun dan langsung masuk begitu saja, tanpa mengindahkan Diwa yang masih memarkirkan mobil.


Disambut hangat, Nanda dipersilakan mengepas dan memeriksa pakaiannya sebelum dibawa pulang. Awalnya Nanda menolak, sebab seharusnya dia pesan dua, untuk lamaran dan untuk wisuda. Tapi jika Nanda bilang tidak ya, artinya tidak. Dia tidak berniat pulang.


"Ini buat acara lamaran, ya. Nda? Bagus dan cocok sama kamu." Diwa tersenyum puas melihat betapa cantiknya Nanda dalam balutan kebaya peach.


Jantung Nanda jumpalitan, bingung mencari alasan. Padahal dia sudah diberi uang untuk beli kebaya yang akan dipakai untuk acara lamaran nanti.

__ADS_1


"Mati aku!"


__ADS_2