
"Nda ... semalam kamu udah tidur, jadi kamu nggak ngerasa apa-apa, oke! Kamu nggak tau apa-apa, nggak denger apa-apa, nggak ngerasa apa-apa!"
Nanda menepuk pipi dan memantapkan hati dengan menekan kedua bibirnya rapat-rapat. Hari ini Nanda sama sekali tidak berani keluar kamar dengan banyak alasan. Tapi yang jelas, dia menghindari menatap Nuga. Sekalipun dia mencoba, tetapi selalu berakhir dengan mundur lagi dan mengutuk tubuhnya yang merespons Nuga berlebihan semalam.
Namun kali ini, dia memompa keberanian menghadapi Nuga. Mari abaikan muka menyebalkan itu untuk sekarang. Astaga, tapi ... wajah Nuga itu memang membuat Nanda kesal walau baru membayangkan.
Nanda turun dan mendapati Nur dan Cica sedang membersihkan ruang tengah sambil berbincang. Dari gesturenya, mereka sedang membicarakan hal yang panas. Cica suaminya bekerja di Malaysia, Nur suaminya di Kalimantan, sama-sama LDM membuat obrolan mereka tidak jauh-jauh dari hubungan badan dan segala hal yang bersangkutan dengan itu.
Nanda baru saja akan menyapa, tetapi segera menutup mulut kembali saat mendengar ucapan Cica. Tampaknya mereka berdua tidak menyadari kehadiran Nanda, sebab memang memunggungi tangga.
" ... pas aku buka pintu, mereka lagi gini-gini, Mbak." Jemari Cica mengerucut lalu saling ditabrakkan satu sama lain. "... Mbak sih suruh aku ke sana. Aku kan jadi nggak enak, Mbak. Kesannya aku ngintip gitu."
"Ya kan aku ndak tau kalau Pak Nuga ke kamar Hima dulu! Biasanya juga mandi, lanjut kerja, dan minta disiapkan kopi, kan? Semalam itu buru-buru banget, pikirku kan nggak tahan mau ninu-ninu." Nur yang mengelap meja membela diri.
Cica berdecak, "jangan lagi suruh aku tidur di kamar Hima, Mbak ... aku bisa pingsan."
"Lain kali ketuk dulu, biar mereka tau kamu dateng. Lagian ada Hima kok mereka berani sih?" Nur kesal.
"Hima kan susah ditinggal Nanda, Mbak ... ya mau gimana lagi?" Cica mengendik.
"Ekhem ...!"
__ADS_1
Bukan hanya Nur dan Cica yang kaget, Nanda juga memegangi dada saat mendengar deheman Nuga. Pria itu berdiri di sebarang Nanda, sementara Nur dan Cica ada ditengah-tengah. Tatapan Nanda dan Nuga langsung bertemu dan Nanda bergegas berpaling membuang muka. Ya ampun, tatapan itu membuat Nanda langsung tau, kalau Nuga sadar keadaan semalam bagaimana.
"Eh, Bapak sudah pulang." Nur dan Cica berdiri setelah saling pandang sejenak. Tapi Nur memang jauh lebih tenang dan santai ketimbang Cica, jadi Nur langsung bisa menguasi keadaan, sementara Cica sedikit bersembunyi di belakang Nur.
"Mau dibuatkan kopi, Pak?"
"Nggak perlu." Tatapan Nuga tidak beralih dari Nanda. "Hari ini kalian boleh keluar, kalau pekerjaan sudah selesai."
Nanda menoleh, menatap bingung ke arah Nuga. Ini kan baru tengah bulan, kok sudah boleh keluar, sih?
Nur dan Cica terlonjak senang. Mereka bisa jalan-jalan sampai malam, kalau diberi izin buat keluar, tanpa ada tugas belanja.
"Hima sama saya aja, Pak. Abis les saya bawa ke itu tempat wisata yang baru buka. Hima pengen kesana." Nur menawarkan. Dia langsung paham maksud Nuga.
"Pasti mau, Pak. Kan ada saya." Cica menambahkan seraya tersenyum. Kemudian mereka berdua bergegas bersiap-siap setelah pamit.
"Ganti baju yang longgar dan menyerap keringat, Nda ... nanti biar mudah periksanya." Nuga meletakkan tas kerja di sofa ruang tengah, menggulung lengan kemeja, lalu melihat jam. "Setengah jam cukup untuk bersiap-siap, kan?"
Nanda mengangguk, lalu kembali menaiki tangga—masih dengan kepala menunduk.
"Hari ini nggak ada chat romantis ... kalah romantis ya, sama yang halal?"
__ADS_1
Nanda menebalkan telinga. Bodo amat lah. Dia tidak dengar dan merasa apa-apa semalam. Itu yang terjadi.
"Kok diem? Udah kehabisan kata-kata buat bikin ayang melayang-layang?" Nuga mendudukkan tubuhnya di lengan sofa, menyeringai, dan menatap Nanda yang berjalan pelan menuju kamarnya.
"Kamu nggak gitu sama Axcel dulu? Bukannya kalian selalu berduaan di mobil kalau ketemuan? Dan kamu tampak agresif ke Axcel, tapi didepanku sok polos." Nuga melanjutkan saat dia berada di atas angin kemenangan. Baru hari kedua sudah kalah.
Nanda berbalik, dia ingin marah, tapi yang keluar hanya air mata. "Di pikiranku, pacaran itu dua manusia saling jatuh cinta, menyalurkan perasaan dari hati dan tulus. Om mikirnya terlalu jauh ... meski aku nakal, tapi aku nggak sejauh itu. Aku hanya-hanya ... suka sama satu orang, yaitu Axcel. Dan-dan kalau emang aku udah nggak ada kesempatan buat balik sama Axcel, tolong jangan sebut nama dia di depanku. Gimana pun, perasaanku ke dia tulus, Om. Axcel baik ... dia baik sekali ke aku."
Nanda menarik napasnya yang sesak keras-keras, hingga dadanya tersentak naik. Seraya mengusap pipi, Nanda berbalik.
Nuga sedikit terkejut. Apa topik Axcel masih sensitif dibahas di sini? Tapi Nanda memang sensitif sekali ... dan Nuga baru sadar sekarang.
Nuga masih merenungi ucapan Nanda saat wanita muda itu kembali. Wajahnya yang merah sudah sedikit pudar. Tapi dia masih menunduk.
"Maaf, aku nggak tahu sejauh apa perasaanmu ke Axcel. Tadi aku hanya bercanda." Pada wanita yang terluka, cukup katakan maaf dan akui saja kesalahanmu. Nanti bisa dijelaskan setelah kemarahannya reda.
Nanda menunduk semakin dalam, lalu berjalan mendahului Nuga.
Ah, punya istri ABG memang nano-nano rasanya.
*
__ADS_1
*
*