Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
80


__ADS_3

Nuga masih terlihat lelah dan ngantuk Minggu subuh saat seluruh keluarga Nuga berangkat ke rumah Nanda.


Dia baru pulang semalam, baru tidur dua jam sebelum dibangunkan. Ketika Nanda masuk, Nuga langsung merebahkan kepala di paha Nanda.


"Kangen," ucap Nuga tanpa suara, tetapi Nanda melihatnya dengan jelas.


Nanda berdecih. "Sudah tua juga, masih kaya ABG," balas Nanda dengan gumaman kecil. Lantas dia menarik paha kuat-kuat.


"Kalau Om di sini, siapa yang nyetir?" sambut Nanda galak. Kapan sampainya kalau begini, kan?


Nuga bangkit dengan muka bantal dan memelas. "Ada Yan, Yang!"


Nanda membeliak, kesal dipanggil Yang. "Mas Yan nggak tahu jalan, Om! Buruan, ih! Sana nyetir. Aku di sini sama Mbak Michelle!"


Nanda terus mendorong Nuga yang lemas tak berdaya. Membuat semua usaha Nanda tidak berguna sama sekali.


"Bahaya kalau orang ngantuk nyetir, Nda." Yan masuk, mengambil posisi di balik kemudi.


"Tuh!" Nuga dengan malas kembali jatuh di pangkuan Nanda. "Aku kangen masuk ke sana!"


Nanda kali ini benar-benar kesal bercampur malu. Ucapan Nuga barusan jelas di dengar oleh Yan. Buktinya pria itu tersenyum simpul, hanya karena sungkan pada Nanda saja, Yan tidak mengejek Nuga.


"Ngomong kaya gitu lagi, Om aku buang ke kali Brantas!" Nanda mengancam. "Menjijikkan!"


"Aku kangen masuk ke saku jaket kamu, Nda! Nih, kaya gini!" Nuga menelusupkan tangan ke saku hodie yang berada di depan, lalu mengusap perut Nanda. "Begini nyaman banget, Nda."


Pria itu melantur mungkin. Nanda enggan menanggapi. Terserah saja, dia enggan mendebat yang hanya akan membuatnya malu.


Michelle yang duduk di depan menoleh. "Jangan malu, Nda! Nuga begitu itu baik sekali untuk chemistry dan bonding kalian. Pernikahan itu butuh sentuhan, kalau tidak mau disentuh, ya, temenan saja."


Jempol Yan yang sedang mengarahkan setir ke arah jalan raya itu langsung mengacung, Nuga juga.


"Menikah dan berteman itu harus ada bedanya. Kamu jadi wanita terlalu dingin, apalagi cowok kamu bu-bucin." Michelle langsung minta koreksi ke Yan soal bucin—dia takut salah. Setelah Yan mengangguk, Michelle menatap Nanda lagi.


"Nuga kayaknya udah cinta mati sama kamu."

__ADS_1


Hanya demi menghormati Michelle, Nanda tersenyum, tetapi begitu Michelle berbalik badan, Nanda memutar bola matanya malas.


"Bucin apanya? Dia itu maniak, Mbak! Kasar banget!" gumam Nanda lagi-lagi tanpa suara. Tapi Nuga tahu apa yang Nanda katakan.


Tangan Nuga iseng saja, mengetes seberapa jauh Nanda tahan dengan sikapnya. Dia menelusup ke balik baju dan meremas sebelah dada Nanda. Memainkan ujungnya. Penutup bagian itu yang dikaitkan di depan membuatnya mudah membukanya.


Mata Nanda membeliak, tangannya dengan cepat menahan tangan Nuga. Tentu Nuga tidak peduli. Sudah beberapa malam dia tidak mendapat jatah, karena Nanda dengan rajin tidur di kamar Hima, sampai dia pulang semalam, tak ada inisiatif Nanda menyambutnya.


Hem ... little pinky kesukaannya.


Yan dan Michelle tidak terlalu terganggu, malah terkesan membiarkan. Dan dasarnya, Nuga tidak tahu malu. Selisih tiga tahun, membuat Yan dan Nuga sangat dekat. Keduanya saling perhatian dan pengertian. Dan Nuga yang nakal, sama sekali tidak perlu khawatir Yan akan memberi tahu bapak ibunya, atau Nuga juga akan membongkar rahasia Yan.


***


Selepas dzuhur, rombongan tiba. Keluarga besar Padmasari dan Utomo hadir. Meski awalnya, Yang Ti menolak, tetapi Pras berkeras. Semua harus tahu walau hari telah disetujui. Semua harus menyambut keluarga besar Puji Ananta.


Melihat Pak Puji, Yang Ti sedikit canggung. Penampilan Puji yang berbeda dari apa yang dipikirkannya, mobil mereka bagus-bagus, dan sebuah truk yang bermuatan berat, membuat Yang Ti merah di muka.


Seluruh keluarga Pras kaget melihat truk yang menurunkan kebutuhan pokok, sampai ayam dan kelapa. Biasa di sini, pihak lelaki mengantarkan seserahan berupa sembako, kelapa, dan sepasang ayam kampung. Puji ingat benar, dulu dia dihina karena dianggap tidak mampu memenuhi seserahan itu oleh Padmasari dan orang tua Lestari.


Pras menyambut suka cita sahabatnya. Mereka tertawa dan berpelukan erat. Saling melempar guyonan hingga membuat suasana cair.


Lestari dan Hapsari langsung akrab. Kedua wanita itu sama-sama cantik, sehingga membuat Yang Ti menghela napas. Puji Ananta tidak pengaruh rupanya sama hinaannya dulu.


"Rumah kamu masih sama aja, ya, Pras! Hebat loh, kayunya kuat meski udah puluhan tahun, tapi masih kokoh," komentar Pak Puji saat masuk ke rumah. Ya, tidak ada dekorasi yang menutup kesan kuno rumah ini. Kata Kang Dekor, bagus begini, agar terlihat klasik. Tapi entah apa sebabnya, Yang Ti merasa tersinggung.


Nanda memeluk ibunya saat dia kembali dari kamar untuk meletakkan pakaiannya. Keduanya menangis haru.


"Maaf Nda nggak tau kalau Ibuk sakit." Nanda terisak di bahu ibunya. "Nda nggak bisa jaga Ibuk selama sakit."


"Udah, to ... malu dilihat mertua kamu." Lestari mengusap punggung Nanda, melepaskan kerinduan yang sudah lama ditahannya. Sebenarnya, banyak yang ingin Lestari tanyakan, tapi tampaknya tidak baik dibicarakan di sini.


Sementara itu, Yang Ti menyalami Puji dengan kepala menunduk, dan badan merendah. "Sugeng rawuh ... selamat datang di gubuk kami, Nak."


"Loh, Ibuk ndak usah begini sama saya! Panggil aja aku Jliteng, Buk ... kaya dulu pas aku bantu Bapak dan Simbok buruh di kebun Ibuk!" Puji terkekeh seraya mencium tangan Padma sari. "Ibuk sehat, njih? Pangapunten, maaf ... saya belum seminggu di rumah, baru sempat kemari hari ini."

__ADS_1


Padmasari merah padam. Panggilan Jliteng alias hitam legam itu sebenarnya adalah bentuk hinaan paling buruk seorang Padmasari pada kasta, fisik, dan betapa tidak pantasnya seorang Puji Ananta bergaul dengan keluarganya yang merupakan juragan.


"Injih, sehat, Nak." Yang Ti terpaksa menjawab. Sopan dan halus.


Puji Ananta kembali terkekeh. Dia membalut tujuannya dengan tawa. "Ibuk iki loh, kok begitu sama anak? Jangan pake bahasa alus begitu, toh ... biasa aja. Saya masih Puji yang dulu, Buk ... yang suka ngerusuhi Ibuk dan Bapak."


"Yo, ndak bisa, Nak! Kamu sekarang tamu kami, kok. Masa masih pake bahasa kasar?!" Yang Ti langsung mengarahkan tangan agar semua masuk ke dalam rumah. Mereka diarahkan duduk lesehan di bale rumah*.


"Oh, alah ... njih-njih, Buk. Dalem tak mlebet. Aku juga udah lama pengen masuk ke rumah Ibuk yang megah ini." Puji masih tertawa, membuat Yang Ti mingkem bin kicep. Dia tidak mampu berword-word again.


"Oh, ya, Buk." Puji berkata dengan suara rendah dan mencondongkan badan ke Yang Ti. "Kalau ada yang belum lengkap, tolong kasih tahu. Saya baru balik dari Australia, jadi ndak persiapan buat bawa serahan. Itu spontan saya lakukan, sebab saya ingat adat di sini begitu. Jangan sungkan loh, Buk ... kasih tau aja, sebelum hari H terlaksana."


Yang Ti berkeringat dingin. Bagaimana satu truk fuso masih kurang? Lah, dibagi-bagi sekampung juga masih sisa banyak.


Umumnya, ada uang sayur sebagai ganti serahan. Sekitar 3-5 juta, sesuai kemampuan pihak pria. Kalau berwujud serahan barang, biasanya hanya satu mobil bak kecil. Itu juga bernilai tidak lebih dari 3 juta.


Tapi ini? Berapa ratus juta? Kaya orang mau buka toko saja! Semua serba lebih dari yang seharusnya.


"Serius loh, Buk. Pokoknya yang umum di sini kaya gimana, saya manut." Puji menyakinkan.


Yang Ti tersenyum kecut menanggapi. Berharap Puji segera menjauh darinya. Ya ampun, sombongnya bikin gerah.


Semua orang yang rewang dibuat menganga saking bingung mau di taruh dimana semua barang itu. Astaga, ini Nanda mau buka usaha apa gimana? Kok mujur banget dia jadi wanita ya? Hem ....


*


*


*


(*) Bale rumah/rumah bale itu biasanya hanya ruangan luas dan besar los tanpa sekat. Kebetulan rumah simbah dulu ada yang model kuno begini. Kalau gendurian, kadang arisan RT digunakan. Bahkan seingat ku, hampir semua rumah di desaku punya bale rumah dulu. Tapi sekarang udah nggak banyak yang punya. Hanya simbah dari pihak suami rumahnya masih model begitu. Lumayan sih, kadang buat numpang main bola pas ujan, hehehe. Atau nitip parkir motor, hahahaha.


Oh, ya ... ada ranjang kuno juga dari besi, yang bunyi gitu kalau dipake tidur, pernah spil di bab berapa ya, lupa. Nah, aku dulu juga suka main itu😂 kadang kalau malam bunyi🤣🤣🤣 duh, gak paham sama hal begituan jaman tahun 94-97.


kok jadi nostalgia😂 ketahuan spil umur juga ini😂

__ADS_1


__ADS_2