
Padmasari terus menyungging senyum saat Nanda dengan patuh mengikuti setiap instruksi yang diberikan.
"Ini baru cucuku sing ayu dewe." Dia menyentuh pundak Nanda yang mengerutkan bibir saat dirias sebelum ke berangkat ke rumah Diwa. Sejak pukul dua siang, perias dari salon langganan keluarga Nanda sudah datang dan merias satu per satu anggota keluarga.
Kecuali Yuna. Yuna yang memiliki gaya make up sendiri, merasa make up kampung, tidak sesuai dengan standarnya. Dia adalah staf ahli di Komisi 3 DPR RI, yang begitu elegan dan berkelas.
Tak ada jawaban dari Nanda. Senyum terpaksa muncul sekilas di bibirnya yang sudah diberi lipstik merah muda yang sesuai dengan warna bibir Nanda.
"Loh, ini lipstiknya kurang merah dikit, Mbak. Cucuku jadi pucet, nanti dikira sakit kurang makan loh." Padma yang tidak mendapat sambutan mulai meneliti wajah cucunya. Walau make up natural cocok untuk Nanda, tapi Padma kurang suka.
"Njih, Eyang Putri ... nanti biar dipoles ulang sama asisten saya." Si perias yang masih sibuk dengan sanggul Nanda menundukkan kepala sejenak ke arah Padma. Itu sama sekali tidak masalah baginya. Meski cerewet tetapi nenek ini murah hati sekali.
"Loh, jangan asistenmu, kamu aja ... Biar hasilnya paripurna." Padma mengerutkan dahinya yang memang sudah banyak kerutan. "Pokok e putuku harus bikin gadis-gadis iri. Sudah cantik, suaminya polisi, nanti akan ada acara nikah yang pake seragam itu juga. Eyang akan diajak ke Bandung, pas acara itu."
Nanda diam saja. Suara Yang ti memang masuk ke pendengarannya, tapi dia tidak memikirkannya. Semalam, dia hampir kabur saking tidak sanggupnya menghadapi semua ini, tetapi Diwa meyakinkan.
"Kalau begitu, aku tidak memaksa kamu, Nda ... hanya saja kamu harus memikirkan orang tuamu. Bukan kabur cara yang paling benar untuk menyelesaikan masalah, tetapi cobalah hadapi. Kadang yang menurutmu menyakitkan, itu yang paling baik untuk kamu. Aku tidak apa-apa jika kamu memang tidak punya perasaan padaku, aku mengerti, tapi baik aku dan kamu, tidak bisa kabur begitu saja. Percaya sama Mas ... yang baik akan datang dengan caranya sendiri."
Nanda menghela napas. Dia mencoba melepaskan dan ikhlas. Setidaknya Diwa cukup pengertian, hanya meminta kesempatan, dan jika memang tidak bisa menumbuhkan perasaan, Diwa tidak memaksa, hanya dia butuh waktu untuk membatalkan perjodohan ini.
__ADS_1
Yang ti Padma berbincang sejenak dengan tim MUA lalu pergi setelah mengatakan jam berapa mereka harus bersiap.
"Nda ...."
Nanda menoleh dan mendapati Dika dan Bagas masuk ke kamarnya. "Tumben barengan? Mau ngomeli aku? Aku nya udah pulang loh, Mas ... jangan buat aku berubah pikiran dan kabur ya, karena kalian!"
Peringatan Nanda membuat dua pria kesayangan Nanda itu tertawa.
"Ndak kok, cuma mau kasih ini." Bagas yang paling tua mengulurkan sebuah kotak besar, tampak berat dari cara Bagas membawanya.
Nanda menatap kotak itu curiga. "Mas nggak isi ini dengan sepuluh kodok, kan? Aku ndak akan tertipu."
Kotak itu kembali lagi ke tangan Bagas.
"Awas kalau bohong!" Nanda perlahan membuka kotak tersebut hati-hati. Sebuah heels berwarna ungu pucat senada dengan kebaya yang dikenakannya, dan tas tangan cantik yang berwarna lebih gelap muncul dari kotak itu.
"Mas nggak akan bohongi adek Mas yang cantik ini." Bagas mencubit pipi Nanda dengan gemas. "Walau ini ndak akan bikin kamu bebas dari ini semua, tapi semoga kamu terhibur."
"Dan Mas Dika hanya bisa kasih kamu liburan ke Universal sama Diwa setelah lamaran nanti, Nda ... Mas siapkan semuanya, kamu tinggal berangkat." Dika menambahkan seraya mengulurkan amplop ke tangan Nanda. "Kami nggak bisa berbuat banyak, dan mengucapkan makasih yang tak terhingga sama kamu, karena membuat keluarga kita rukun kembali."
__ADS_1
Nanda merengut cemberut dan masam wajahnya. "Sudah jangan bilang apa-apa, aku juga capek setiap hari diolesi terus. Kalau begini bisa bikin telingaku lega, ya wes ... aku nerima aja semuanya."
Bagas dan Dika tersenyum lalu memeluk Nanda. Dari luar kakak ipar Nanda merangsek masuk lalu ikut nimbrung memeluk adiknya.
"Kita semua sayang Nanda ...."
Yuna di luar pintu kamar Nanda yang baru selesai di renovasi, tinggal memasang plafon saja ini berdecih penuh ejekan. Wajah wanita berusia 27 tahun itu masam dan sinis.
Satu hal yang membuat Yuna benci Nanda adalah banyak orang menyukainya Meski dia bodoh dan tidak pernah menelurkan satu prestasi pun. Tidak seperti dia yang selalu membanggakan orang tua dengan segala pencapaiannya.
"Yuna ... kamu ngapain sih, di sini?" Yang Ti Padma muncul entah dari mana dan mengagetkan Yuna. Wanita beranak satu itu berjingkat seraya mengelus dada.
"Itu kamu belum ganti baju, ngapain sih, intip-intip adikmu? Cantik, kan dia? Biar di make up gaya kampung juga cantiknya kelihatan. Beda sama hasil botox dan suntik putih." Padma meliukkan bibir tuanya. "Udah sana pake baju kamu yang buatan luar negeri itu, ndak udah kepo sama adikmu itu!"
Sumpah demi apapun, Yuna kesal dan ingin menonjok muka neneknya yang berkulit tajam itu. Segala sesuatu yang berbau modern, neneknya itu memang anti. Cantik baginya ya, yang dibawa dari lahir dan dirawat tradisional. Yuna juga, dia merawat wajah sebagai asetnya, bedanya dia pakai cara yang lebih kekinian.
Yuna menghentakkan kakinya dengan keras saat meninggalkan depan kamar Nanda. "Ck, anak nggak guna gitu aja dibangga-banggakan. Dasar kolot dan kampungan mereka semua itu." Yuna menggerutu.
*
__ADS_1
*
*