
Diwa duduk dengan tenang di kursinya saat pembawa acara dan seluruh penghuni ruang tengah menatapnya bingung.
"Nanda kemana, Diwa? Ini sudah satu jam loh?" Asti lah yang paling syok dan marah melihat keterdiaman Diwa, setelah masuk ke dalam rumah satu jam lalu, kemudian berkata; Nanda pergi ke kamar mandi.
Satu jam di kamar mandi itu melakukan apa? Sekalipun urgent, tidak bisakah muncul sebentar di sini, lalu kembali lagi?
Asti menatap tajam Diwa yang tampaknya sedang menghitung pori-pori tisu di atas meja. Wanita itu gusar dengan urat di pelipis telah menonjol semua.
Tatapannya beralih pada sekitar empat puluh kepala yang saling pandang dan mengendikkan bahu, lalu menerka apa yang terjadi dalam gumaman.
Yang Ti Padma sudah pias saking marahnya. Wanita sepuh itu mulai mengerti kemana Nanda selama satu jam ini. Dia menoleh ke arah Lestari yang gemetar, Pras yang bingung menghubungi Nanda. Pandangan mereka bersirobok satu sama lain, yang kemudian berakhir dengan gelengan kepala dari Pras sebagai tanda Nanda sudah lepas.
"Aku melepas Nanda dari beban yang telah aku timpakan pada bahunya selama lima tahun terakhir."
Tatapan tegas Diwa menyapu seluruh tamu dan keluarga yang hadir.
__ADS_1
"Nanda masih muda dan berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Aku memikirkannya lima tahun ini, dan aku merasa aku telah kejam pada seorang wanita. Untuk sekarang, aku melepaskan Nanda seperti aku melepaskan burung dari belenggu di kakinya, jika suatu saat dia kembali, maka aku akan menerimanya dengan tangan terbuka. Jodoh tidak bisa dipaksakan dalam kasus kami. Kami dulu sama-sama menerimanya dengan terpaksa, jadi kami menentukannya sekarang."
"Diwa! Apa maksud kamu?" Ridwan Said berdiri dengan sentakan keras keluar dari bibirnya. Jelas pria itu marah sekaligus malu pada apa yang anaknya katakan. Mulut Diwa sudah keterlaluan, seakan menuduh perjodohan ini tidak adil bagi mereka.
Diwa dengan tenang menatap Padmasari dan orang tua Nanda bergantian. "Yang Ti dan Bapak Ibuk ... bukan saya tidak menghargai njenengan semua. Tapi putri Njenengan pantas bahagia ketika berumah tangga. Tolong hargai pilihan kami."
Diwa berdiri, "Saya minta maaf atas kekacauan ini. Tapi ini tidak seberapa jika dibandingkan kekacauan dalam hidup Nanda jika masih melanjutkan perjodohan ini. Tidak ada yang lebih menyakitkan dari gagalnya berumah tangga. Selamat malam."
Dengung suara langsung mengisi ruangan yang semula penuh hingar bahagia. Diwa melangkah pergi, sementara dua pihak keluarga tergemap dalam kekacauan pikiran. Sedih jelas, tapi ucapan Diwa bisa diterima otak mereka dengan jelas. Selama ini, mereka hanya menutup mata dan merasa semua akan baik-baik saja.
"Mas ... maafkan anak saya." Pras bersimpuh di bawah kaki kursi menghadap Ridwan yang masih gusar dan belum mampu menguasai diri.
"Sudah ...." Yani berdiri, ekspresinya datar. "Anak kami juga sudah memutuskan dan membantu kita berpikir jernih. Diwa mungkin baru sadar akan satu hal malam ini, jadi kita putuskan saja untuk mengakhirinya. Perjodohan ini batal dan putrimu bebas dari wasiat itu—"
"Ndak bisa gitu, Nduk Handayani!" sela Padmasari seraya berdiri, pandangannya lurus menatap Yani dan Ridwan. "Kita bisa meneruskan perjodohan ini—"
__ADS_1
"Nyuwun sewu, Yang Ti Padma ...." Yani dengan tegas menyela. "Dulu lamaran pernah gagal karena Nanda memilih kuliah, kami bisa maklum. Tapi sekarang gagal lagi dan anak kami dengan rela melepaskan Nanda. Mungkin ada yang kita semua ndak tau soal mereka. Nanda bisa saja punya orang lain, begitu pun Diwa. Apa saja bisa terjadi, Yang Ti ... kita harus membuka mata kita soal ini."
"Tapi Nanda ndak begitu, Yani ... Nanda itu anak yang patuh dan memegang tanggung jawab. Empat tahun ini loh, aku mantau dia dengan ketat, ndak mungkin Nanda punya orang lain."
Disa sedari tadi diam saja, tetapi ketika Padma mengatakan itu, darah di kepalanya langsung mendidih. Ingin sekali dia menunjukkan foto Nanda dengan pria beranak itu ke depan mata Padma. Namun gerakan Disa dicegah Yani dengan cepat.
"Yang Ti tolong pahami satu hal, kita dirumah ndak pernah tau gerakan kecil di tangan Nanda saat menelpon. Diwa jauh lebih bisa dipercaya ucapannya. Dan kamu sudah ndak mau membuat semuanya rumit, bukankah Yang Ti harusnya lega?"
Pras menyadari kalau semua ini memang sudah berakhir. Handayani sudah memutuskan atas nama Keluarga Said. Yang terbaik memang mundur, dan benar kata Diwa, jika Nanda kembali, mungkin mereka akan bertemu sebagai dua orang yang bebas. Semua cerita akan menjadi berbeda.
"Buk ...." Pras menahan Padma dan menggelengkan kepala. "Kita pulang saja. Ndak enak bikin keributan di sini. Tahan diri Ibuk, kita selesaikan di rumah."
Padmasari menarik tangannya kasar dari cekalan anaknya, lalu meninggalkan ruangan ini setelah memberikan tatapan penuh permusuhan pada Pras, dan lebih banyak pada Lestari yang menunduk dan membisu.
*
__ADS_1
*
*