
"Serius Arum sampai seperti itu, Om?"
Setelah sampai di tempat parkir dan Nanda berhasil mengatasi syok yang menderanya dia bertanya. Berarti, apa yang dialaminya belum seberapa dibandingkan Arum. Padahal, dia sudah bertingkah seperti orang yang paling menderita di dunia, kabur, ngambek, marah-marah ke ibu bapak, bilang mereka kejam, hanya karena dijodohkan. Ya ampun, sekarang dia merasa jadi gadis paling egois dan manja. Dasar Nanda!
Nuga mengangguk seraya membuang napas. Masih saja anak ini tidak percaya? Padahal sudah jelas di depan mata bagaimana dia mendamprat mereka tadi, kan?
"Om kenapa mau kasih mereka uang, rumah, dan sebagainya—"
"Hanya rumah saja!" Nuga menoleh, suaranya melembut. Menghadapi Nanda harus dengan kesabaran yang penuh. "Yang lain, mungkin dari Yessa. Tapi Yessa bisa seperti sekarang bisa jadi karena Arum juga. Maksudku ginjalnya Arum."
Nanda menaikkan alis. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi Arum saat itu dari penjelasan yang Nuga katakan tadi. "Kejam sekali mereka."
"Lebih kejam lagi, pas Arum menolak donor ginjal, Budi culik Hima dan siap melemparkannya dari jembatan. Awalnya, Arum setuju donor ginjal, tapi Hima tetap ditahan si Budi. Arum sudah sekarat, dan aku tidak punya pilihan selain menebus Hima dengan harga yang sangat mahal. Tapi tidak masalah, Hima sehat dan tumbuh dengan baik. Arum pasti senang melihat anaknya seperti sekarang, seperti kamu."
"Om, orang itu kan ayahnya ... ayah kandungnya. Kenapa dia mau bunuh Hima? Dan harusnya kan, ibunya Arum melindungi Arum. Harusnya dia yang ambil alih pengasuhan Hima setelah Arum pergi." Nanda masih belum selesai dengan rasa ingin tahunya.
Nuga berhenti, kemudian menatap Nanda dengan sorot mata yang jauh lebih meneduhkan. "Mereka terlalu toxic untuk Hima, Nda. Bayangkan, Hima yang masih bayi, bisa saja dijual oleh Budi jika masih di sana. Dan aku yakin, ibunya Arum tidak akan berani melawan suaminya untuk melindungi Hima. Arum saja yang anaknya rela dia buang hanya demi mematuhi suaminya. Ditambah, Hima adalah anak kandung Budi dengan Arum, apa ibunya Arum tidak merasa benci pada Hima. Mereka bisa melakukan apa saja demi uang."
"Iya juga, ya ... tapi kenapa nggak lapor, Om? Polisi kan ada?" Nanda membuang napas dan merengut. Ini agak menyebalkan.
Nuga melanjutkan langkah usai mendongak saat merasakan titik-titik air mulai menetes di atas kepala. Tangan Nuga memayungi kepala Nanda, lalu mendorong pelan bahu Nanda untuk berjalan.
__ADS_1
"Penjara itu hanya persinggahan bagi penjahat. Mereka tidak pernah benar-benar di hukum, apalagi menyesali perbuatan. Malah kejahatan baru muncul dari lapas. Jaringan baru narkoba, pelecehan, dan kaum pemerkosa muncul dari balik jeruji besi, yang diawasi pemerintah secara langsung. Ayo jangan menutup mata soal itu dengan sering membaca berita yang berwawasan. Jangan hanya nonton konten DEBM yang isinya menyesatkan itu!"
Nuga membuka pintu mobil untuk Nanda, memaksa Nanda masuk sebab gerimis mulai berubah jadi hujan.
"Kok Om tahu aku suka nonton itu?" Pria itu hanya mengendikkan bahu.
Nanda mengawasi Nuga yang memakai tangannya untuk memayungi kepala. "Salah siapa parkir di luar, padahal di dalam ada!"
Ketika Nuga masuk, Nanda bergegas mengambil tisu dan mengelap wajah Nuga sampai membuat pria itu syok.
Mata Nuga nyaris tak percaya dengan apa yang dialaminya sekarang.
"Om basah! Jangan ge er! Bu Mey pasti juga akan melakukannya jika tau Om basah begini!" Nanda sedikit malu pada tindakan refleksnya. Tapi dia tidak berhenti dan membuat Nuga tersenyum.
"Kalau kamu perhatian kaya gini, jangan salahkan aku kalau makin sayang sama kamu." Nuga menyalakan mobilnya, kemudia melaju. Dingin suasana dalam mobil lenyap berganti hawa yang menghangat.
"Mau makan? Atau ingin pergi kemana gitu, mumpung Minggu?" Nuga menawarkan. Pria itu melirik Nanda yang masih syok mendengar ucapannya yang tadi.
"Om serius?"
"Iya ... mau makan dimana? Jajanan jepang atau korea?"
__ADS_1
"Bukan itu, tapi serius Om bisa sayang sama aku? Nggak galak, nggak bentak-bentak lagi?" Nanda sedikit berharap, Nuga mengatakan iya. Apa lagi memangnya yang bisa dia harapkan dari semua ini, selain disayangi?
Nuga tak bisa lebih terkejut lagi pada sikap Nanda yang yah, begitulah. Susah ditebak. Sebentar ini, sebentar itu.
"Bisa, asal kamu nurut dan nggak nakal! Aku udah sayang sama kamu dari kamu masih kecil ... jadi mau sayang kaya apa lagi? Udah mentok sayangnya ke kamu."
"Om nggak nyesel nanti cuma sibuk sama aku yang masih labil ini? Om udah tua loh? Sementara aku masih muda, masih banyak yang ingin dikejar dan dibuktikan, masih ingin bebas, dan—"
"Bisa nikah sama kamu aja, aku udah seneng. Jadi apa yang harus aku sesalkan? Kalau kamu mau kejar impian kamu, ya, silakan kejar. Aku akan dukung kamu sampai semua impianmu tercapai." Nuga menoleh, menatap Nanda yang bengong. Dia pasti tidak akan percaya pada apa yang barusan didengarnya.
"Pegang kata-kataku ini, Nda. Aku janji nggak akan membuat hidup kamu kesulitan." Nuga meraih tangan Nanda dan menggenggamnya.
Nanda menunduk tersipu-sipu. Orang dewasa bahasanya bukan lagi recehan seperti dirinya atau Axcel. Tapi benar-benar membuat dada berdentum tak karuan. Melting nggak kira-kira pokoknya.
"Jadi kemana nih? Makan atau nonton? Belanja? Kan kamu besok masuk sekolah ... mungkin butuh sesuatu?" Nuga menyudahi sesi rayuannya. Dia harus memutuskan. Setelah sampai di simpang depan, mereka hanya bisa lurus dan sampai ke rumah.
Lagi-lagi Nanda merasa terkejut sendiri. Nuga bahkan ingat jika besok dia sudah harus masuk setelah izin seminggu lamanya. "Belanja dulu boleh, nggak? Abis itu makan dan pulang. Hima pasti mencari kita nanti."
"Oke ... asal kamu nggak lapar aja, kalau belanja dulu. Kita akan mengeluarkan banyak energi saat belanja nanti." Nuga memutar kemudi ke arah pusat perbelanjaan di tengah kota. Ini kencan pertama mereka. Jadi dia harus mengerahkan semua kemampuannya untuk membuat Nanda takjub dan tidak akan bisa berpaling.
*
__ADS_1
*
*