Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
24.


__ADS_3

Nuga memijat keningnya yang terasa mau pecah. Sepagian ini kejadian aneh bertubi-tubi menimpanya. Dia gagal datang ke kampus pagi ini, itu jelas membuatnya harus kelabakan memberi penjelasan pada Asdos-nya.


Belum lagi nomor baru silih berganti menghubunginya, termasuk orang tua Nanda yang sampai sekarang belum bisa dijawabnya. Dia harus bilang apa memangnya?


Terlalu riskan bertanya apa yang terjadi mengingat Nanda dikatakan kabur semalam. No ... kali ini dia harus perhitungan. Jangan sampai dia salah bicara dan membuat Nanda kembali kesusahan. Cukup dengan kesalahpahaman dengan Axcel saja, yang membuat dunianya jungkir balik.


Sekali lagi, Nuga belum belajar jadi pria brengsek, jadi untuk beberapa hal, dia memilih menahannya sendirian.


"Nda ...."


Rintihan itu sekali lagi terdengar, Cica dan Nur sontak berdiri, lalu mendekati Hima dengan penuh kasih.


"Nda mana?"


Nuga hanya bisa memejamkan mata. Dia merasa Nur dan Cica sedang menatapnya, seolah memintanya menyerah dan mencari Nanda. Orang tua selalu memikirkan anaknya kan? Persetan jika harus bersujud di kaki orang yang pernah di caci maki.


Semua pekerjaannya diletakkan. Seraya berdiri, Nuga memompa napas dan kesabaran naik ke otaknya.


"Ayah, Nda mana? Kata Ayah, Nda akan pulang hari ini?"


Mata itu begitu jernih, suaranya tak lagi terbata meski masih lemah. Pipi dan air mukanya sudah kembali merah, meski tak bisa dipungkiri Hima masih pucat.


"Hima mau Nda di sini sama Hima?" Tangan Nuga terulur untuk menggenggam tangan anaknya. Seakan kalimat itu hanya sebuah penghiburan, yang kemudian mendapat protes berupa bunyi napas yang terbuang keras dari Nur. Sekilas Nuga melihat Cica membuang muka dan bersedekap.


Ini yang Nuga kurang suka. Nanda ini harus dijadikan apa di rumahnya? Satu-satunya ya, harus menikah dengannya kan? Baru kali ini Nuga tak bisa diskusi dengan isi kepalanya sendiri dan tidak akur dengan nuraninya. Seakan mereka jalan sendiri-sendiri.


Nanda jelas tidak akan mau jika diminta baik-baik, kan? Nuga sadar diri, bukan pria sepertinya yang menjadi tipe ideal Nanda. Mata itu mengatakan segalanya di balik ekspresi membangkang yang selalu Nanda tunjukkan.

__ADS_1


"Tapi Nda kan harus mengejar cita-citanya, Hima. Kita tidak boleh mengurung Nanda di sini sama kita. Itu namanya jahat." Anggukan Hima sebelumnya, beserta sorot mata penuh permohonan ia abaikan. Hima harus tau apa sebab mereka tak bisa bersama. Ini alasan logis pertama.


Hima tampaknya bingung, sehingga Nuga menciumnya tepat di kening. "Hima kalau sayang Nda, gak boleh halang-halangi Nda meraih impiannya. Hima harus dukung Nda jadi wanita yang sukses dan dihormati banyak orang."


Itu alasan yang selama ini dia sembunyikan rapat-rapat dari siapapun kalau sejak awal dia mengetahui Nanda ditindas dan diremehkan keluarganya. Dia tahu dan kenal ketiga saudara Nanda, dan karakter Nanda yang cenderung membangkang—yang akhir-akhir ini susah dikendalikan, sebenarnya sudah Nuga lihat dari awal. Terutama karena sikap judes Yuna pada Nanda, membuat Nuga tahu Nanda harus jadi apa nantinya. Membentuk Nanda adalah tujuannya yang lain sebagai wujud rasa pedulinya.


Ini agak rumit, Nuga tampak egois dimata Nanda. Tapi Nuga melakukannya demi kebaikan Nanda. Sudah berulang kali dia katakan itu, tapi Nanda memang datang kesini untuk kebebasan. Dia yang salah strategi.


"Pak ... maaf kalau saya lancang, tapi jika Bapak sedikit lebih lembut dan sabar kalau nasehati Nanda, dia ndak akan kabur. Tinggal di rumah Bapak kan tidak harus jadi istri Bapak? Hima hanya merasa kehilangan saat Nda pergi dengan tangisan hari itu." Nur tak tahan lagi. Hima kerap melihat Ayahnya mengomeli Nanda hanya karena hal sepele. Dia juga tahu kalau Hima membiarkan Nda-nya diam-diam ketemu Axcel di sekolah. Hima kelewat nyaman dan merasa punya teman saat bersama Nanda.


Sayangnya itu benar. Nuga tak mampu memandang ke arah Nur atau Hima, yang bisa dilakukannya hanyalah menuduk.


"Mbak Nur ... Apa kalau jadi istri itu sama artinya jadi mamanya Hima?" Kepala Hima beralih ke Nur yang masih berkeras untuk marah. "Hima mau kalau Nda jadi mamanya Hima."


"Nda pasti ndak mau kalau punya suami kasar begitu, Hima ... kecuali Ayah mau berubah sikap pada Nda." Nur menahan ini sangat lama. Bagus sekali pertanyaan Hima ini.


Di sini, Nuga semacam mendapat penghakiman. Ya ampun.


"Semua yang Ayah lakukan adalah demi kebaikan Nda, Sayang. Jangan salah paham."


Siapapun membenci pembelaan Nuga. Nur sudah angkat tangan. Ini terlalu jauh jika dia menggurui Nuga soal baik dan tidak baik suatu hal bagi seseorang.


"Pak ... saya mohon dengan sangat. Untuk sekarang Bapak lupakan baik dan tidak baik untuk Nanda, yang penting adalah Bapak cari Nanda dan bawa ke sini. Katakan permintaan maaf Bapak pada Nanda agar Hima kembali sehat. Perpisahan mendadak seperti ini susah diterima anak Bapak yang terbiasa kemana-mana dengan Nanda."


Nuga sampai pada titik dimana dia harus mengikuti apa kata Nur. Di sini Hima adalah yang paling penting.


"Oke ... Ayah akan datang ke rumah Nda dan minta sama Nda buat tinggal lagi di rumah kita, tapi dengan syarat Hima harus cepet sembuh."

__ADS_1


Sorot mata bahagia dari wajah Hima sungguh membuat Nuga lega. Nanda benar-benar keajaiban meski baru namanya yang disebutkan. Ciuman kecil-kecil mendarat di kening Hima, lalu beralih ke tangan yang masih dingin.


"Aku akan lama, Nur ... jaga Hima selama aku pergi."


Nur menghela napas seraya mengangguk. Apa saja asal Hima kembali ceria. Sungguh dia tak tega melihat gadis kecil yang telah ditinggal mamanya ini menahan kesakitan lebih lama.


Nuga lalu meninggalkan ruangan ini untuk menemui dokter. Dia membahas penyakit Hima sebelum menuju ruangan di mana Nanda dirawat.


"Orang tuannya mencari terus, saya harus bagaimana, Tas?" Dia baru membuka pintu, tetapi dia langsung membombardir Tasya dengan pertanyaan.


Tasya berdiri. Menjauhi Nanda yang tampak lemas dan pucat. "Kita baru bisa bawa dia pulang besok, Pak. Dia masih lemas setelah kehilangan banyak darah."


"Dia baik-baik saja, kan?" Nuga mengendik ke arah perut. Tanpa memedulikan Tasya paham atau tidak apa maksudnya.


"Ya, dia bisa dikatakan baik-baik saja, hanya lukanya memang harus dijahit ulang." Tasya mengatakan itu seraya memutar kepala ke arah Nanda yang terbaring.


"Jadi aku boleh menjawab telepon keluarganya? Atau kita bawa dia pulang setelah tenaganya pulih?"


Semata-mata dia melakukannya karena tidak ingin dibenci Nanda setelah ini.


"Jawab aja, Pak. Katakan yang sebenarnya, sambil nunggu apa saran dokter kalau Bapak mau antar Nanda pulang."


Tasya tau, Nuga memang tak mau lagi terbebani oleh Nanda.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2