Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
60.


__ADS_3

Nanda tidak tahu ada yang semacam itu sebelum melakukan hubungan badan antara suami istri. Jadi alih-alih khusyu', pikiran Nanda justru kemana-mana. Dia merasa malu sendiri. Berulang kali dia beristigfar, tapi mungkin ucapan Nuga terlalu membuatnya panik.


Sengaja berlama-lama melipat mukena, sajadah, dan berjalan lambat-lambat ke rak tempat menaruh mukena. Sungguh ini momen paling menakutkan, mengerikan, dan mendebarkan. Bagaimana nanti akhirnya seseorang akan membuka pakaiannya satu persatu, dan menikmati tubuhnya sampai lemas.


Ini bukan lagi sila cinta atau tidak. Nanda memang tidak punya pilihan. Dan tidak punya alasan untuk lari dari pernikahan ini. Nuga telah menjelaskan, dan sayangnya dia bukan orang yang tidak memahami logika Nuga. Nuga benar, terlepas dari apapun, semua orang ingin pernikahan ini terjadi—Nuga juga kelihatannya, dia sendirian, jadi ... sudahlah. Dia tidak mau membahas apa-apa dalam hati.


Dia menerima, dia mau menikah, tapi jangan berhubungan lebih jauh soal fisik. Setidaknya sampai dia bisa membuka hati untuk Nuga. Sejauh ini, rasanya hanya simpati saja pada ayah Hima tersebut.


Pikiran berbeda berasal dari Nuga. Pria itu merasa butuh menandai Nanda. Dia harus melakukan itu. Harus!


Tapi tidak juga memburu-buru Nanda, dia membiarkan Nanda berlama-lama. Nuga menikmatinya.


Sampai ketika Nanda tak punya lagi alasan, dia naik ke ranjang. Gerakannya pelan, seakan tidak mau membuat Nuga terusik.


Nuga tenang dan tenang, membalas pesan di Whatsapp dari Bagas dan Dika yang baru hari ini sempat menanyakan kabarnya. Seharusnya, dialah yang menghubungi Bagas dan Dika, bagaimanapun mereka adalah kakak iparnya, walau usianya lebih tua dari dua pria tersebut.


Nanda berdehem pelan. Merosot ke dalam selimut hingga kepalanya tak terlihat semua. Dia memunggungi Nuga. Tangannya dingin dan menggigil. Kemudian, ketika bayangan dirinya ditindih Nuga beserta seringai mengerikan di wajah pria itu muncul, Nanda memejamkan mata. Ngeri.


Ya, Nanda memang gemar menonton drama, tapi hanya drama romantis saja. Dia belum pernah melihat film dewasa. Sama sekali.


Sejauh ini pikirannya hanya berdasar katanya, dia bahkan tidak pernah punya keinginan untuk mengintip. Ciuman saja tidak pernah terpikir akan sedahsyat itu.


"Sini ...."


Mata Nanda melebar saat Nuga membuka selimut yang menutup kepalanya, membuat beberapa helai rambut Nanda terbang. Namun buru-buru dia memejamkan mata lagi. Dia dilanda ketegangan yang mengancam. Di belakangnya ada predator.


"Deket sini, jangan jauh-jauh." Nuga menarik tangan Nanda hingga tubuh Nanda telentang. Ia terkejut. Mata Nanda terpejam rapat-rapat.


Tawa gelinya keluar tanpa mampu ditahannya lagi. "Ayo, sini! Lihat aku punya apa!"


Napas Nanda berpacu sangat cepat. Detak jantungnya berpacu luar biasa cepat. Apa yang ditunjukkan Nuga padanya? Apa dia akan melihat itu malam ini? Secepat ini?


"Buka matanya! Kalau merem nggak kelihatan, nanti!"


Gerakan itu memaksa sekali sampai Nanda tidak punya pilihan selain mendekat. Lalu perlahan membuka mata. Dia yang dilanda panik, dengan sigap memohon dengan menangkup tangan Nuga dan menempelkan di kening.

__ADS_1


"Om, ampun, Om! Iya aku salah! Maaf, tapi aku mohon jangan apa-apa kan aku malam ini? Aku belum—"


"Move on dari Axcel?"


Nanda berhenti, lalu menatap Nuga. Dari ekspresinya dia terlihat kesal. Sayangnya, Nanda berpikir Nuga masih marah karena dia menolak permintaannya. Dan bawa-bawa Axcel lagi. Pasti Nuga kesal pada alasan Nanda yang itu.


"Om—oke ... baik-baik!" Nanda melepaskan tangannya, lalu menaikkan hingga sedikit di atas kepala.."Silakan! Aku nggak akan nolak Om lagi! Aku sudah hapus masa lalu ku barusan. Di recycle bin juga sudah nggak ada! Lenyap total bin permanen."


Kesal Nanda dibuatnya. "Aku milik Om selamanya! Selama-lama-lama-lama-lamanya!"


Nuga terpaku, matanya bergulir dari mata ke bibir, jatuh ke bawah leher, lalu berhenti lebih lama di sana.


"Apa perlu aku buka? Aku buka sendiri, biar makin sempurna sebagai istri?!" tantang Nanda yang langsung dibuktikannya. Dua kancing terbuka, lalu Nanda menarik di kedua sisinya hingga dada yang bulat dan solid itu terlihat bagian atasnya yang menggembung kencang.


"Silakan dinikmati, Om! Atau kurang ...?" Nanda membuka lagi dengan tangan gemetar. Matanya lurus menatap Nuga. Tanpa berkedip. Kesal dan jengkel. Kenapa Axcel di bawa-bawa ... dia sedang melupakannya. Berusaha melupakannya! Dari hidupnya. Nanda pernah berkata kan?


Kini hanya cup busa penutup saja yang jadi penghalang mata Nuga dengan isi cup tersebut. Ukuran 36 sepertinya—ehkm!


Nuga menelan ludah pastinya. Tapi dia segera menarik pakaian yang sudah terpisah itu kembali menyatu.


Tangan Nuga mengambil sesuatu di sampingnya, lalu membukanya di depan hidung Nanda.


"Mungkin kita belum saling sayang, belum ada perasaan, belum saling mengenal, tapi kalau boleh ... aku ingin jadi yang pertama buat kamu, membantumu mengenal aku dan duniaku. Dunia yang hanya ada aku, kamu dan anak-anak kita kelak."


Cincin itu tersemat sempurna. Pas melingkar di jari manis Nanda. Cantik dan pas untuk seorang Nanda yang ceria.


Nanda tersenyum tanpa sadar memandangi cincin itu. Dia menggerakkan jari seperti menari—Nuga tersenyum.


Pria itu menyela jemari Nanda. Menatap Nanda dengan senyumnya yang menawan. "Jika ini awal, maka kita mulai dari sekarang. Kamu mau mencoba?"


Nanda membalas tatapan Nuga. "Aku hanya tidak mau terburu-buru, Om! Aku takut, tapi aku mau mencoba. Aku takut Om tidak sabar dan memaksa."


"Aku akan mengajarimu, semua yang kamu belum bisa dan belum tau. Katakan saja jangan takut, tapi jangan larang aku melakukan tugasku sebagai suamimu."


Nanda mengangguk.

__ADS_1


"Kamu adalah milikku, dan aku tidak akan menyakitimu."


Nanda mengangguk lagi, seperti terhipnotis oleh tatapan dan ucapan Nuga yang menyakinkan.


Tangan Nuga menyapu pipi hingga ke dagu. Menariknya sampai mencapai bibirnya yang mendamba sejak tadi.


Nanda meraih pergelangan tangan Nuga dan mencengkeramnya. Dia gemetar. Dia butuh pegangan.


Ciuman itu menuntut, mencecap, menyapu seluruh bibir Nanda yang setengah terbuka. Nuga menerobosnya hingga Nanda terengah tanpa sadar. Dia pasrah, sebab gelombang di dadanya menghantam begitu kuat sampai dia tidak bisa bernapas.


Tangan Nuga yang satu meraih tengkuk Nanda lalu menarik Nanda lebih rapat padanya. Nuga meraupnya begitu rakus.


Perlahan tangan Nuga mengusap punggung Nanda hingga ke pinggang, membuat Nanda mengeluh pelan dan dalam. Gadis ini menggigil. Seakan ada yang sedang ditahannya, tetapi dia tidak tahu apa itu dan bagaimana melepaskannya. Yang ada Nanda makin mendesakkan dada ke tubuh Nuga. Dia butuh sesuatu dari Nuga untuk meredakan semuanya.


Nanda yang masih lugu menggerakkan dadanya ke dada Nuga, membuat pria itu segera melepaskan ciumannya, untuk menatap Nanda—Nanda terengah. Dia pikir, ini adalah sinyal untuk dirinya masuk, tapi melihat Nanda yang awalnya menolak, dia sedikit ragu. Malah dia tidak menyangka akan sejauh itu.


Nuga menatap dalam mata Nanda yang berkedip sayu. Ia yakin Nanda tidak paham apa artinya, tapi dia juga tahu, Nanda tidak bisa melepaskan apa yang membuatnya tidak berdaya seperti sekarang.


"Can i?"


Nanda pikir itu hanya permintaan mencium lagi, atau memeluk lebih erat lagi. Jadi dia mengangguk. "Ya ...."


Nuga langsung mendorong Nanda hingga merebah, membiarkan kedua sisi bajunya kembali terpisah. Keindahan tubuh Nanda membuat mata Nuga berkabut. Izin sudah di dapatkan, jadi ... ya, sudah. Ayo!


Tangannya menyisihkan pakaian Nanda hingga bahunya yang tegap terlihat semua. Nuga suka melihat tulang selangka yang menonjol, bahu yang indah, dan leher jenjang dengan garis melingkar. Nanda punya dua, dan tahilalat kecil seolah menjadi penunjuk arah dimana tanda boleh disematkan.


Napas Nanda memburu kembali saat Nuga mencium pucuk kepala, kening, turun ke mata, pipi, hidung, lalu mencecap nikmat bibirnya yang sedikit berkedut nyeri.


Dia bernafsù sekali. Ya, karena izin dari Nanda. Coba kalau tidak ada kata 'ya' tadi, dia hanya akan sampai pada ciuman saja. Dia tidak pernah berniat memaksa Nanda.


"Enghhh ...!"


*


*

__ADS_1


*


Semoga lolos ya( update jam 20. 23 WIB)


__ADS_2