Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
49.


__ADS_3

Nanda memesan taksi untuk mengantarkan barang-barang ke rumah, lalu dia menemui Yessa. Tak sulit menemukan wanita itu diantara puluhan kepala yang memenuhi kafe and resto bergaya eropa ini. Penampilan yang menonjol bak supermodel, Yessa berdiri, menyambut Nanda dengan senyum hangat.


"Hai ... makin kinclong aja istrinya Pak Nuga ini." Yessa tanpa sungkan, seolah mereka telah akrab, memadukan pipi bergantian. Nanda takjub sekali.


Sepertinya, Yessa bekerja di bidang yang mengharuskannya ramah pada semua orang. Nanda kagum pada pembawaannya, rasa percaya dirinya, dan dia tampak tulus.


"Klienku baru pergi dan baru aja aku mau WA kamu ... eh, kamunya udah dateng." Yessa membawa Nanda duduk di sofa single yang membentang.


Nanda tersenyum menanggapi, ekor matanya melirik meja kaca di depannya. Tampak Yessa sangat hati-hati dan anggun. Hanya ada dua gelas minuman yang masih utuh. Nanda menghela napas. Yessa benar-benar orang yang menjaga diri, beda dengannya. Jam sepuluh lewat perutnya sudah keroncongan tak karuan.


Dia datang lebih awal berharap bisa mengisi perutnya lebih dulu, tapi tampaknya, dia harus menjaga sikap di depan Yessa.


"Pesan apa?" Yessa menawarkan dengan murah hati, seraya menaikkan tangan ke sisi wajah, dan tak lama pelayan datang.


"Dessert saja." Nanda memilih sebelum buku menu mendarat di tangannya dan disini waflenya cukup besar dan enak, es krim nya tidak pelit, dan coklatnya melimpah. Mengenyangkan juga. "Coklet dilaks wafel."


Yessa tersenyum mendengar logat Nanda. Tatapannya menilai, tapi dia tersenyum seakan semua itu bisa diterima dan dimaklumi. "Sering kesini, ya?"


"Lumayan ...." Nanda mengangguk. Ngapain ke sini kalau di cafe Om Nuga saja gratis. Tapi dia pernah beberapa kali kemari bersama teman kampusnya.


"Samain, Kak." Yessa tampak percaya pada pilihan Nanda pasti enak. Wanita itu tersenyum saat membiarkan pelayan itu pergi, lalu menatap ponsel sebentar sebelum menatap Nanda kembali.

__ADS_1


Nanda mengawasinya semua itu tanpa berkedip.


"So, kamu mau nanya apa?" Yessa seakan sedang mewawancarai seorang narasumber. Kedua tangannya membuka ke samping seraya menggeleng. "Jujur aku nggak tau mulai dari mana. It's so complicated."


Nanda akhirnya melihat diri Yessa yang sebenarnya. Dia tersenyum. "Umur berapa waktu Arum menikah dengan Om—maaf, aku terbiasa memanggilnya begitu."


Yessa mengangguk paham. "Sekitar 19 tahun lah, dia baru masuk kuliah saat itu. Belum selesai semester satu pokoknya."


"Jauh lebih muda dari aku, ya ...." Nanda asal menanggapi.


"Tapi saat itu, Pak Nuga juga masih muda. Kalau pas nikah sama kamu sekarang, pantas kalau kamu panggil dia Om." Yessa mulai nyaman. "Btw, Pak Nuga pernah bahas-bahas Arum nggak, sih, pas sama kamu?"


Nanda menggeleng. "Kalau Om udah kasih tau aku, aku nggak bakal nyari kamu."


"Ya, Om sekali pernah bilang kalau Arum mengalami kehamilan yang sulit. Itu tampak menyakiti dia banget ...." Nanda mencoba ingat. "Arum ada masalah kesehatan, kah?"


"No," jawab Yessa seraya menggeleng. " Ada masalah sama rahimnya, seharusnya Hima digugurkan sejak usia dua bulanan di kandungan, tapi Pak Nuga mendukung keputusan Arum mempertahankan Hima."


"Oh, begitu." Nanda mencocokkan, lalu dia ingat kalau Hima tak punya siapapun selain keluarga dari pihak Nuga. "Keluarga Arum tidak ada yang datang menengok Hima sama sekali selama aku di sana, mereka masih ada kan? Ya, walau hanya kerabat jauh?"


Yessa sedikit mundur, raut wajahnya bingung, lalu merasa Nanda mengawasi, dia maju lagi dengan canggung. "Aku tidak tahu. Kami belum dekat saat itu."

__ADS_1


"Aku herannya di situ. Hima sudah lima tahun, setidaknya mereka bersama 6 tahunan, apa tidak ingin melihat cucu, ponakan, sepupu, atau apalah?!" Nanda mengendikkan bahu.


Mulutnya sedang menahan untuk tidak mengatakan soal restu yang tidak dikantongi oleh keduanya sampai sekarang.


"Arum mahasiswanya Om Nuga, kah?" Nanda menoleh ke arah Yessa dengan cepat.


"Tidak ... ya memang kuliah disana, hanya beda gedung aja. Dan Pak Nuga tidak mengajar di kelas Arum. Kaya ketemunya mereka itu aneh gitu. Gimanaya ngomongnya—"


"Jujur aja, biar enak, Yessa ... bagiku Arum hanya masa lalu suamiku." Nanda jengah dan tidak sabar, tapi dia dengan bijak merentangkan senyuman.


Yessa giliran kagum pada Nanda yang dengan merasa dirinya berbelit-belit. "Mereka MBA ... menikah karena kecelakaan—sorry to say."


"What?"


"Ya ... semua pria sama saja, kan?" Yessa tersenyum.


Nanda syok ....


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2