Dinikahi Hot Duda

Dinikahi Hot Duda
13.


__ADS_3

"Nda ... yang tadi itu, siapa?" Hima bertanya saat Nanda akan kembali ke sekolah. Meski ada Cica, tapi Hima tetap ingin Nda yang mengantarkan pulang.


Nanda yang sudah siap di depan pintu mobil itu menatap Hima sejenak. Mungkin seharusnya Hima tau siapa Diwa. Dia tidak mau Hima menganggap tindakannya benar.


Tatapan Nanda beralih ke Cica yang tampak penasaran juga dengan pria yang bersama Nanda dan tampak mesra tadi pagi. Cica dan Nur tahu siapa kekasih Nanda, dan mereka saling mengunci rapat rahasia itu dalam hati.


Nanda mendekat dan berjongkok di depan Hima. Diusapnya rambut Hima dengan lembut, bibirnya tersenyum. "Dia calon suami Nda dari kampung, Hima. Sebentar lagi Nda akan menikah, oleh sebab itu Nda nggak bisa tinggal lagi disini sama Hima."


Cica menaikkan alis seraya menyeletuk. "Lah terus si Axcel gimana?"


Nanda mengangkat wajah dan tersenyum pada Cica. "Udah putus. Dia ke Jerman dan aku mau nikah, Mbak ... jadi apa yang harus dipertahankan? Kami nggak jodoh, Mbak."


Cica mengerutkan wajah saking herannya pada Nanda. "Kok kamu ndak pernah cerita soal calon suamimu itu? Artinya kamu duain dia dong selama ini?"


"Panjang ceritanya, tapi aku nggak merasa menduakan Mas Diwa Mbak, hanya aku nggak yakin apa bisa nerima perjodohan itu apa enggak. Tapi setelah kemarin, aku pikir lebih baik nerima Mas Diwa saja. Aku lelah dianggap jadi tidak berguna, Mbak." Nanda berdiri seraya menghela napas.


"Pisah baik-baik, kan sama Axcel? Kamu jujur sama dia, kan?" Cica khawatir.


"Ya, nanti aku akan bilang baik-baik sama dia, Mbak. Axcel lagi di Jakarta sekarang." Nanda menyentuh pundak Cica. "Aku pamit, ya, Mbak ... titip Hima."


Cica mengangguk. "Hati-hati, ya, Nda. Kamu kabar-kabar kapan nikahnya, biar kita bisa datang pas resepsi. Ya kan, Hima?"

__ADS_1


Nanda dan Cica serentak menunduk, melihat Hima yang mengangguk lemah.


"Nda pamit, ya, Him ... jangan nakal, patuh sama Ayah dan mbak Cica. Sekolah yang rajin biar kita bisa bertemu setiap hari." Nanda memeluk Hima sekali lagi, lalu mencium kening Hima.


Hima mengangguk lemah, "Nda jangan lupain Hima ya, kalau nanti udah punya keluarga baru. Hima sayang sama Nda."


"Pasti Sayang ... Nda akan tetap sayang dan jaga Hima, kalau perlu, Nda akan bangun rumah di sini, biar kita bisa sama-sama terus setiap hari." Nanda mencubit hidung Hima yang mancung dengan gemas. Sekali lagi, Nanda harus berbohong demi menyelamatkan diri.


Meski berat, akhirnya Hima melepaskan Nda-nya. Bocah kecil itu terus menatap Nanda hingga taksi yang ditumpangi Nda lenyap dari pandangan.


Sementara itu, usai menemui saudara yang akan membantunya kuliah di Jerman, Axcel bersama kedua orang tuanya, melanjutkan makan siang di sebuah restoran, sebelum kembali ke hotel. Rencananya, kedua orang tua Axcel akan pulang esok pagi, sementara Axcel akan tinggal sampai urusannya selesai.


Mereka mengobrol santai sembari menunggu pesanan. Namun ada satu yang membuat Axcel terbebani sejak tadi pagi. Sedari tadi dia memikirkan rencananya, dan berniay mengutarakan kepada orang tuanya. Mungkin akan ada kesempatan untuk memiliki Nanda sebelum berangkat ke Jerman.


Mama dan Papa Axcel saling pandang, kaget dan bingung. Tidak siap bahkan belum memikirkan.


"Axcel takut dia akan dimiliki pria lain sebelum Axcel sempat kembali." Tangan Axcel mengambil ponsel dan menunjukkan foto Nanda pada orang tuanya.


Sepasang orang tua itu melihat ke layar ponsel Axcel dan memperhatikan lekat-lekat foto Nanda. Jika Papa Axcel manggut-manggut, Mamanya beda lagi. Kening wanita itu menumpuk kerutan saat merebut ponsel itu dan dikuasai sendirian.


"Dia umur berapa? 15 tahun? Kecil sekali wajahnya?" komentar Mama Axcel. "Terlalu cantik, Cel ... takut kalau kamu tinggal lama-lama dia bakal digaet cowok lain. Cantik, sih, tapi nanti kecantikan Mama akan disaingi olehnya, kalau bisa jangan deh. Cari yang agak kusam dikit wajahnya."

__ADS_1


"Mama apaan, sih?" protes Papa Axcel sambil menyodok siku sang istri yang masih memaku pandangannya ke layar ponsel putranya.


"Bukannya bagus kalau anak kita istrinya cakep, Ma ...? Kalau Papa setuju, soalnya Axcel sejauh ini nggak pernah salah pilih." Papa Axcel tersenyum dan mengangguk ke arah Axcel.


"Kalau Mama enggak, ya, dia masih dibawah umur. Nanti aja kalau udah 20 tahun, biar nggak dikatain kelainan. Lagian orang tuanya nggak ngebolehin pasti." Ponsel diserahkan ke Axcel, mata Mama Axcel penuh antisipasi.


"Dia 22 tahun, Ma ... hanya dia emang kaya bocah mukanya." Axcel terkekeh lalu menujukkan foto kartu identitas Nanda yang sempat di fotonya sewaktu mereka jalan bareng minggu lalu.


"Hah ... yang bener?!" Mama Axcel terkejut melihatnya. "Mukanya kecil gitu ...."


"Jadi boleh kan? Ya, minimal kita lamaran dulu, lah, Ma ...," pinta Axcel.


"Tanya dia aja dulu, jaman sekarang jarang ada anak gadis mau nikah muda. Kamu aja kali yang terlalu ngebet." Mama Axcel hanya bisa menyarankan itu. Meski dia suka dengan gadis muda di foto tadi. Wajahnya menggemaskan dan ceria.


"Makasih, Mama." Axcel langsung menghambur ke pelukan Mamanya, "Nanda pasti mau kalau aku ajak dia nikah."


*


*


*

__ADS_1


Hadeh, jangan omelin Nanda dong😚 Nanda kan cuma pengen pacalan. Jan kek otornya, gak pernah pacaran karena gak ada yg mau😥 huhuhu


__ADS_2