
"Pak, tolong tenang, nggih."
Suara di seberang telepon sangatlah berisik. Yang tertangkap jelas di telinga Nuga hanya kata; persiapan telah matang, keluarga sudah datang, acara sudah dimulai, dan Nanda telah membuat malu keluarga. Lebih buruk suara di sana mengatakan kalau Nanda menjadi aib yang tak bisa ditutupi sekalipun pakai tanah.
"Maaf, Mas Nuga." Begitu memang Pras memanggil Nuga dari dulu. Sama seperti Pras memanggil Bagas dan Dika. "Saya terlalu gupuh. Kalau Nanda di sana, tolong minta dia pulang, Mas. Kami di sini bingung cari Nanda."
"Nanda di sini, Pak. Nanti akan saya usahakan bujuk Nanda agar mau pulang." Seketika dia punya ide meski terkesan kejam. Tapi Nanda pasti tak akan mau pulang atas kemauannya sendiri. Pasti disana sudah tau tentang isi perut Nanda, jadi Yang Ti—Nuga mengira suara itu adalah nenek Nanda, sampai begitu marah.
"Matur suwun, ya, Mas. Maaf bikin repot Mas Nuga terus."
"Nggak apa-apa, Pak. Ini saya akan bujuk Nandanya dulu, ya, Pak ... dia masih belum tenang." Lidah Nuga kaku saat diajak berkelit. Susah sekali kompromi sama keadaan. Ini bohong demi kebaikan—tolong dicatat, ya.
Pras mematikan sambungan telepon setelah berulang kali mengucapkan kata terimakasih pada Nuga.
Dia berdiri di tangga darurat yang menghadap ke jalanan kota. Pandangannya kosong saat memasukkan ponsel ke sakunya. Dia menjadi dilema. Memikirkan apa kata semua orang jika dia benar-benar mengambil alih tanggung jawab kekasih Nanda—siapapun pria yang menghamili Nanda. Ini kedua kalinya dan sekali lagi, rahasia ini tersimpan rapat-rapat.
Langkah Nuga yang tegap itu menuju ruangan Dokter. Dia akan berkonsultasi demi membawa Nanda kembali. Jika perhitungan Nuga benar, dia bisa sampai di sana tepat waktu. Berdasarkan adat di daerah Nanda, akad nikah akan diadakan malam sebelum resepsi dilangsungkan. Melihat jam, setelah Magrib mereka akan sampai.
***
Tasya melepas kepergian sahabatnya yang kini berada di sebuah ambulans yang jauh lebih besar dari ambulans kebanyakan. Entah apa yang dipikirkan Nuga, tapi Tasya tahu sesuatu terjadi di rumah Nanda. Mungkin ini yang terbaik bagi Nanda.
Tasya tentu tak bisa menyalahkan Nuga yang membawa Nanda dalam keadaan tidak sadar. Tentu karena Nanda tidak akan pernah mau pulang, seperti yang dikatakannya tadi pagi sebelum dia kabur ke rumah Axcel.
Tasya sendiri harus segera menghadiri wisuda yang sebenarnya sudah sangat terlambat.
***
Begitu mendengar Nanda telah ditemukan dan dalam perjalanan, semua orang berkumpul di rumah Nanda.
Yuna duduk dengan acuh di sofa. Tangannya memainkan ponsel, ekor matanya melirik Yang Ti yang berjalan hilir mudik dan membuat Yuna kesal.
__ADS_1
"Ti ... mbok ya, duduk to! Dari sana berangkat sejam lalu, masih jam 6 nanti sore sampainya. Lagian ya, Yang Ti ... Nanda itu udah bikin malu kita di depan banyak orang, kok ya masih Yang Ti rindukan kedatangannya." Menurut Yuna ini aneh. Kesayangan memang beda, ya?!
Yang Ti Padma menoleh dan bergumam kesal pada Yuna. "Meski Nanda udah bikin tulang Yang Ti jadi putih, Nanda tetap akan jadi kesayangan Yang Ti. Dia itu nurutan anaknya, ndak kaya kamu yang ngeyel dan susah dikasih arahan orang tua."
Yuna mencibir kesal. Dia menarik bola matanya ke samping, menghindari tatapan menghina Yang Ti-nya. Ini berhubungan dengan penikahannya yang akan berakhir di ujung palu hakim. Ya, Yuna bercerai dengan hak asuh anak berada di tangan Yuna sepenuhnya.
"Tapi Nanda itu nurut karena bodoh."
"E ... sembarangan kalau ngomong, yo! Nanda itu ngerti, meski ndak pinter." Padma tidak terima dan mendatangi Yuna. Mereka siap war ala nenek sayang cucu dengan cucu yang kurang perhatian karena menganggap perjodohan ini kolot. Telunjuk Padma menuding Yuna dengan keras.
"Pinta kaya kamu juga ndak becus milih suami. Hanya modal ganteng doang, kamu kepincut! Ndak lihat apa pekerjaannya, keturunan keluarga yang bagaimana, dan ndak lihat sifatnya kaya apa! Ini toh akhirnya, kamu jadi janda diusia muda." Bibir Padmasari meliuk begitu nyinyir dan sadis. Ucapannya benar kan?
Yuna mencebik kesal, matanya sedikit panas dan basah. "Terus saja Yang Ti bela cucu emas Yang Ti itu! Sebentar lagi pasti dia akan mencoreng muka Yang Ti pakai arang dapur!"
Yuna beranjak sedikit menyentak. Tatapannya mengerikan dengan sejuta sumpah serapah tertuju pada Nanda. Seluruh kesialan di dunia diucapkan dalam hati Yuna untuk Nanda.
"E-e ... kok ulate(ekspresi) koyo wong gak due pendidikan ngono!" Padma duduk seraya mengikuti langkah Yuna yang terhentak-hentak.
Padma sama sekali tidak beranjak dari sana hingga magrib menjelang. Hiruk pikuk semakin ramai, banyak tamu berdatangan mengabarkan kepergian Nanda. Gunjingan terdengar, hingga di dalam rumah, yang kini dipenuhi oleh keluarga besar mendiang. suami Padma kembali bergolak panas. Sumpah serapah dan kutukan tertuju pada Nanda.
Mobil ambulans berplat luar kota berhenti dengan bokong mobil menempel di teras rumah Nanda. Pertama yang turun adalah Nuga, lalu diikuti petugas medis yang Nuga bawa untuk memantau kondisi Nanda selama perjalanan.
Nanda diturunkan memakai ranjang rumah sakit menuju kamar Nanda.
Gumaman nyinyir, teriakan histeris menyambut Nanda. Jangan tanya dimana Lestari berada. Wanita yang melahirkan Nanda itu pingsan melihat ambulans masuk ke pekarangan.
"Ya Allah, Dek ... kamu kenapa ini?" Bagas dan istrinya berjalan cepat mengikuti Nanda. Dika pun demikian, istrinya gupuh mengurus Lestari.
Padma bersama Pras mendatangi Nuga. Mereka berbicara di halaman sebelah mobil, keberadaan mereka terabaikan. Jadi mereka leluasa mengobrol.
"Yang Ti, Bapak ... saya minta maaf sebelumnya Kalau dianggap lancang. Kondisi Nanda sekarang tidak memungkinkan untuk segera sadar, jadi setelah ini, saya akan membawa Nanda ke rumah sakit, melanjutkan perawatan yang terputus."
__ADS_1
Padma memandang Pras sejenak, lalu kembali fokus pada Nuga yang tampaknya masih ingin mengatakan banyak hal.
"Selain itu, saya juga ingin bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Nanda. Saya siap melanjutkan pernikahan Nanda yang gagal, agar tidak menjadi aib bagi keluarga besar Bapak."
Pras tercengang. "Maksudmu apa, Mas? Tanggung jawab apa?!"
"Nanda telah—"
"Pras ... panggil penghulu!"
Selaan Padma membuat Pras nyaris terjungkal. Ini apa? Apa yang terjadi? Nanda—anaknya kenapa?
"Maafkan saya, Pak ... saya mengaku salah dan pantas mempertanggungjawabkan perbuatan saya." Ya ... untuk semuanya, Nuga wajib bertanggung jawab. Akhirnya semua bermuara padanya. Andai mulutnya bisa direm, pasti semua masih akan baik-baik saja.
Tatapan Padma semakin keras dan tajam. Pantas Diwa memutuskan untuk tidak melanjutkan lamaran, jadi Nanda sudah ... ternoda.
"Cepat, Pras ... panggil beberapa saksi juga. Kita nikahkah Nanda secara siri malam ini juga."
Padma menggeram penuh amarah. Sementara Yuna yang menguping menarik sudut bibirnya seraya terus menggosok kukunya agar tetap terlihat slay.
"Aib mah aib saja! Ditutup pakai tanah juga baunya kecium sampai ujung dunia." Yuna bergumam dalam hati, lalu tertawa lebar tanpa suara.
Ah, akhirnya ... dia punya bahan olok-olok yang menyenangkan.
*
*
*
Jari keriting, oey😅
__ADS_1
Gimana? Masih kurang muter belum? wkwkwk🤭